Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Sabtu, 27 Februari 2010

28 Feb - Kej 15:5-12.17-18; Flp 3:17-4:1; Luk 9:28b-26

Mg Prapaskah II : Kej 15:5-12.17-18; Flp 3:17-4:1; Luk 9:28b-26

"Guru, betapa bahagianya kami berada di tempat ini."

 

Para pencinta olah raga mendaki gunung pada umumnya tidak banyak, hanya mereka yang memiliki kesehatan fisik prima dan berminat yang berhasil mendaki gunung. Dalam mendaki gunung pada umumnya diusahakan pagi hari, ketika matahari terbit, sudah sampai di puncak gunung, maka keberangkatan atau waktu mulai mendaki tergantung berapa lama waktu dibutuhkan untuk mendaki sampai puncak, dan pada umumnya dimulai setelah tengah malam, dalam kegelapan, dimana bagi banyak orang sedang dalam tidur nyenyak. Dalam perjalanan mendaki gunung memang orang harus kerja berat, sungguh melelahkan, namun ketika sampai di puncak gunung semua kelelahan sirna dan yang tinggal kebahagiaan luar biasa. Berada di puncak gunung akan merasa diri begitu kecil dalam kemegahan dan keindahan alam ciptaan Tuhan. Pengalaman berada di puncak gunung kiranya mirip sebagaimana dialami oleh tiga rasul yang diajak oleh Yesus mendaki bukit untuk berdoa, dimana Petrus dengan terharu mengungkapkan kegembiraannya: "Guru, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan sekarang tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia." (Luk 9:33). Kata-kata yang keluar dari mulut, yang mungkin tidak diketahui dampaknya atau maksudnya. Kata-kata senada macam itu sering keluar dari mulut para pendaki gunung ketika mereka berada di puncak gunung. Kita berada dalam perjalanan mengarungi masa Tobat, masa Prapaskah, dan kiranya dalam berbagai kesempatan beribadat atau pendalaman iman, kita juga akan tergerak untuk berkata-kata seperti Petrus tersebut, karena mengalami apa yang disebut hiburan rohani yang mempesona.

 

"Guru, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan sekarang tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia." (Luk 9:33)

 

Di dalam psikologi agama dikenal adanya pengalaman religius yang disebut pengalaman termendum atau fascinosum, pengalaman yang menghentak atau mempesona, kesepian rohani atau hiburan rohani. Selama berpartisipasi dalam berbagai kegiatan masa Prapaskah, entah yang bersifat liturgis atau sosial, kiranya kita mengalami pengalaman religius yang mempesona atau hiburan rohani. Hiburan rohani antara lain berarti bertambahnya iman, harapan dan cinta, sehingga orang yang bersangkutan tergerak hati dan jiwanya untuk semakin berbakti kepada Tuhan, lebih memuji, menghormati dan mengabdi Tuhan. Ketika orang sedang mengalami hiburan rohani pada umumnya memang tergerak untuk melakukan sesuatu yang mulia, luhur dan baik serta baru. Kiranya dalam perjalanan refleksi di masa Prapaskah ini anda juga tergerak untuk membuat niat yang baik, mulia dan luhur. Mungkin kita juga menerima bisikan atau suara Tuhan sebagaimana diterima oleh para rasul "Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia.". Marilah kita tanggapi sabda ini serentak dengan gerakan Aksi Puasa Pembangunan (APP).

Tema Aksi Puasa Pembangunan (APP) tahun ini adalah "Melawan Kemiskinan", maka kami berharap niat-niat anda yang muncul dalam perjalanan refleksi hendaknya diintegrasikan dalam gerakan "melawan kemiskinan", entah kemiskinan rohani maupun jasmani atau phisik. Miskin secara rohani antara lain kurang beriman, berharap dan saling mengasihi, maka kepada mereka ini kita bantu untuk semakin beriman, berharap dan saling mengasihi, sehingga mereka dapat hidup dengan bergairah dan dinamis, meskipun harus menghadapi aneka tantangan dan hambatan. Sedangkan miskin secara phisik berarti `lapar, haus, telanjang, tidak punya rumah, sakit, dst..'. Marilah kita sisihkan sebagian dari karya kekayaan atau uang kita untuk membantu mereka yang miskin dan berkekurangan . Kita dapat berseru seperti Pertus dan segera menghayatinya: "Marilah kita dirikan rumah sederhana bagi mereka yang tidak memiliki rumah, marilah kita beri pakaian yang layak kepada mereka yang telanjang, marilah kita beri makanan dan minuman bagi mereka yang lapar dan haus, marilah kita kunjungi dan obati mereka yang sedang menderita sakit…dst". Kami juga berseru dan berharap kepada para pengusaha atau yang memiliki kemungkinan mempekerjakan orang lain untuk memberi pekerjaan kepada mereka yang menganggur, dan sekiranya mereka kurang atau tidak memiliki keterampilan yang diharapkan hendaknya diberi kemungkinan dan kesempatan untuk meningkatkan keterampilan tersebut.

 

"Saudara-saudara yang kukasihi dan yang kurindukan, sukacitaku dan mahkotaku, berdirilah juga dengan teguh dalam Tuhan, hai saudara-saudaraku yang kekasih!"(Flp 4:1)

 

Seruan Paulus kepada umat di Filipi ini kiranya baik menjadi permenungan, refleksi dan pedoman hidup dan cara bertindak kita. Kiranya cukup banyak orang yang tidak berdiri teguh dalam Tuhan, atau mungkin kita sendiri juga tidak berdiri teguh dalam Tuhan. Berdiri teguh dalam Tuhan hemat saya berarti hidup sehat, segar bugar, suci dan cerdas beriman. Jika kita jujur mawas diri kiranya kita semua belum atau kurang berdiri teguh dalam Tuhan, maka marilah kita bekerjasama saling meneguhkan satu sama lain sebagai saudara. Kita hendaknya satu sama lain saling menyapa dan memperlakukan seperti kata Paulus kepada umat di Filipi :"saudara-saudara yang kukasihi dan yang kurindukan, sukacita dan mahkotaku".

 

Jika kita saling mengasihi dan merindukan, maka apa yang dijanjikan oleh Tuhan kepada Abram (Abraham) "Kepada keturunanmulah Kuberikan negeri ini, mulai dari sungai Mesir sampai ke sungai yang besar itu, sungai Efrat" (Kej 15:18), juga berlaku bagi kita semua. Sebagai warganegara Indonesia kiranya kita semua mendambakan sila kelima dari Pancasila "Keadilan sosial bagi seluruh bangsa" segera menjadi nyata alias terwujud. Perwujudan keadilan sosial bagi seluruh bangsa kiranya identik dengan tiada kemiskinan lagi di negeri ini; maka tema APP tahun ini "Melawan Kemiskinan" sungguh sesuai dengan seruan Paulus kepada Filipi di atas maupun janji Tuhan kepada Abram.

 

Kita semua mendambakan tinggal di dalam keluarga, tempat kerja dan masyarakat dalam damai, tenteram serta gembira, dan kemudian dapat berkata seperti Petrus:"Betapa bahagianya kami berada di tempat ini". Dengan kata lain dimanapun kita berada mendambakan pengalaman mempesona, memikat dan menarik. Pengalaman macam itu pada umumnya terjadi di tempat-tempat ibadat, entah gereja/kapel, masjid/surau, kuil, tempat ziarah dst.., maka baiklah kita tidak memisahkan pengalaman beribadat dan kesibukan kerja sehari-hari. Untuk itu kami mengajak kita semua: marilah ketika kita sedang berada di rumah, di tempat kerja, di perjalanan dst.. bagaikan berada di tempat ibadat, maka aneka macam sarana- prasarana kita sikapi dan perlakukan sebagaimana menyikapi dan memperlakukan sarana-prasarana ibadat, suasana rumah dan tempat kerja bagaikan suasana ibadat, teman kerja bagaikan teman beribadat, dst.. Secara spiritual kita dipanggil untuk `menemukan atau menjumpai Tuhan dalam segala sesuatu atau menghayati segala sesuatu dalam Tuhan'. Kami berharap mereka yang berpengaruh dalam hidup dan kerja bersama dimanapun dapat menjadi teladan dalam menghayati dan mengusahakan suasana mempesona, memikat dan menarik, serta kemudian mengajak dan memberdayakan yang lain untuk bersama-sama mengusahakan suasana yang mempesona, menarik dan memikat.

 

"Dengarlah, TUHAN, seruan yang kusampaikan, kasihanilah aku dan jawablah aku! Hatiku mengikuti firman-Mu: "Carilah wajah-Ku"; maka wajah-Mu kucari, ya TUHAN. Janganlah menyembunyikan wajah-Mu kepadaku, janganlah menolak hamba-Mu ini dengan murka; Engkaulah pertolonganku, janganlah membuang aku dan janganlah meninggalkan aku, ya Allah penyelamatku"

(Mzm 27:7-9)

 

Jakarta, 28 Februari 2010

Jumat, 26 Februari 2010

27Feb - Ul 26:16-19; Mat 5:43-48

"Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu"

(Ul 26:16-19; Mat 5:43-48)

 

"Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna." (Mat 5:43-48), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Musuh adalah apa saja atau siapa saja yang tidak saya senangi, yang mengganggu kita, yang tidak sesuai dengan selera pribadi kita, dan pada umumnya dengan mudah kita akan membencinya. Ajaran Yesus sebagaimana diwartakan hari ini memang berat dan mulia:"Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar". Ia sendiri telah menghayati yang Ia ajarkan, yaitu ketika tergantung di kayu salib Ia mendoakan mereka yang memusuhi atau mengejeknya. Sebagai orang yang percaya kepadaNya kita dipanggil untuk menghayati sabdaNya serta meneladan cara bertindakNya, antara lain mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka yang menganiaya kita. Marilah kita hadirkan atau kenangkan apa atau siapa saja yang menjadi musuh-musuh kita untuk kita kasihi atau mereka yang mempersulit hidup kita untuk kita doakan. Mungkin yang paling mudah adalah makanan atau minuman, maka marilah kita nikmati aneka makanan dan minuman yang sehat meskipun tidak enak/tidak nikmat di lidah. Enak dan tidak enak, nikmat dan tidak nikmat dalam hal makanan hitungannya kiranya tidak lebih dari satu menit dan hanya beberapa detik saja, yaitu di lidah. Kami berharap dalam hal makan dan minum kita tidak hanya mengikuti selera pribadi melainkan sesuai dengan aturan atau norma kesehatan. Jika dalam hal makan dan minum tidak ada masalah atau yang dimusuhi, hemat kami dengan mudah kita mengasihi musuh maupun mendoakan mereka yang telah menganiaya kita.

·   "Pada hari ini TUHAN, Allahmu, memerintahkan engkau melakukan ketetapan dan peraturan ini; lakukanlah semuanya itu dengan setia, dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu. Engkau telah menerima janji dari pada TUHAN pada hari ini, bahwa Ia akan menjadi Allahmu, dan engkau pun akan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada ketetapan, perintah serta peraturan-Nya, dan mendengarkan suara-Nya" (Ul 26:16-17). Kutipan ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita, dimana kita diingatkan dan diajak untuk 'melakukan atau melaksanakan aneka macam ketetapan dan peraturan' yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing. Secara jujur kiranya banyak diantara kita harus mengakui bahwa kita memusuhi atau tidak suka terhadap beberapa ketetapan atau peraturan, entah itu di tempat kerja, masyarakat pada umumnya atau di jalanan. Yang mungkin paling sulit kiranya mengatur diri sendiri dalam rangka melakukan ketetapan atau peraturan. Jika kita tidak dapat mengatur diri sendiri, kamar kerja atau kamar tidur kita sendiri, almari pakaian kita sendiri, dst.. maka kita juga akan menemui kesulitan alias malas untuk melakukan aneka ketetaban dan peraturan, maka baiklah pertama-tama dan terutama marilah mengatur diri kita sendiri, mendisiplinkan diri kita dalam rangka mengusahakan hidup sehat, segar bugar. Serentak mengatur diri kita perhatikan juga aneka peraturan yang berlaku di tempat kerja atau tempat belajar kita masing-masing, dimana kita cukup memboroskan waktu dan tenaga kita. Sikapilah aneka peraturan dalam dan dengan kasih, karena peraturan dibuat dan diberlakukan atas dasar dan demi kasih, dijiwai oleh cintakasih dan agar mereka yang melakukan peraturan semakin terampil dalam mengasihi. Orang beriman sejati akhirnya berada 'diatas peraturan', bukan berarti melanggar peraturan tetapi peraturan dihayati sebagai sarana atau wahana hidup baik, mulia dan bahagia, dimana orang tidak merasa berat melakukan peraturan tetapi melakukan peraturan dengan gairah dan gembira.

 

"Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat TUHAN. Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati, Engkau sendiri telah menyampaikan titah-titah-Mu, supaya dipegang dengan sungguh-sungguh. Sekiranya hidupku tentu untuk berpegang pada ketetapan-Mu!"(Mzm  119:1-2.4-5)

Jakarta, 27 Februari 2010    


Rabu, 24 Februari 2010

26 Feb - Yeh 18:21-28; Mat 5:20-26

"Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum"

(Yeh 18:21-28; Mat 5:20-26)

 

"Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas."(Mat 5:20-26), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Konon orang marah membutuhkan enerji dua kali lipat dari enerji yang dibutuhkan tidak marah, dan untuk mengembalikan kondisi seperti sebelum marah membutuhkan enerji sama sama untuk marah. Dengan kata lain marah berarti membuang atau memboroskan banyak enerji tanpa arti, dan marah berarti juga menghendaki yang yang lain, yang dimarahi, agar tidak ada alias mati, maka dengan demikian yang bersangkutan berkurang relasi atau sahabatnya. Yesus bersabda: "Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala".  Hemat saya orang marah tanpa dihukum sudah terhukum dengan sendirinya, maka marilah kita jauhkan aneka macam bentuk kemarahan yang sungguh merugikan hidup kita sendiri, dan tentu saja juga orang lain yang kena dampak kemarahan kita. Tingkatan menghendaki yang lain tidak ada ini, mulai dari yang paling lembut s/d paling kasar, antara lain: mengeluh ->menggerutu -> ngrumpi/'ngrasani'-> marah/berkata kasar dan menyakitkan -> melukai yang lain secara phisik -> membunuh. Kita semua mendambakan hidup damai sejati, maka marilah kita renungkan pesan Paus Yohanes Paulus II dalam pesan perdamaian memasuki millennium ketiga, yaitu: "There is no peace without justice, there no justice without forgiveness" ( = Tiada perdamaian tanpa keadilan, tiada keadilan tanpa kasih pengampunan). Kita dipanggil untuk saling mengampuni dan mengasihi, serta memberantas aneka macam bentuk kemarahan, entah dalam diri kita sendiri maupun orang lain.

·   "Kalau orang benar berbalik dari kebenarannya dan melakukan kecurangan sehingga ia mati, ia harus mati karena kecurangan yang dilakukannya. Sebaliknya, kalau orang fasik bertobat dari kefasikan yang dilakukannya dan ia melakukan keadilan dan kebenaran, ia akan menyelamatkan nyawanya"(Yeh 18:26-27). Kutipan ini mengingatkan dan mengajak kita semua bahwa jika kita dalam keadaan benar dan baik hendaknya mempertahankan dan memperdalamnya, sebaliknya jika kita berada dalam kefasikan dipanggil untuk bertobat, dan serentak 'melakukan keadilan dan kebenaran'. Rasanya kita semua perlu bertobat, maka marilah kita saling membantu dalam pertobatan seraya saling berbuat adil dan benar. Keadilan yang paling mendasar hemat saya adalah hormat terhadap harkat martabat manusia, ciptaan terluhur dan termulia di dunia ini, yang diciptakan sesuai dengan gambar atau citra Allah atau berpartisipasi dalam "Pro Life Movement" (=Gerakan Sayang Kehidupan). Pesan Hari Perdamaian Sedunia, mengawali tahun 2010 ini, Paus Benediktus XVI mengajak kita semua untuk 'melindungi ciptaaan': gerakan untuk mengasihi, merawat dan melindungi seluruh ciptaan di dunia ini. Memang hidup manusia tak akan pernah lepas dari lingkungan hidupnya, ketika lingkungan hidup baik maka hidup manusia juga akan baik, sebaliknya ketika lingkungan rusak maka manusia cenderung untuk saling menyalahkan dan melecehkan. Marilah kita kasihi dan lindungi ciptaan-ciptaan Allah di dunia ini, entah itu manusia, binatang atau tanaman, itulah suatu bentuk konkret 'melakukan keadilan dan kebenaran'. Jauhkan aneka bentuk keserakahan dalam mengkonsumsi atau menggunakan ciptaan-ciptaan Allah seperti binatang dan tanaman.

 

"Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya TUHAN! Tuhan, dengarkanlah suaraku! Biarlah telinga-Mu menaruh perhatian kepada suara permohonanku. Jika Engkau, ya TUHAN, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat tahan? Tetapi pada-Mu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang." (Mzm 130:1-4)

Jakarta, 26 Februari 2010


25 Feb - Est 4:10a.10s-12.17-19; Mat 7:7-12

"Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepadaNya."

(Est 4:10a.10s-12.17-19; Mat 7:7-12)

 

"Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya." "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi" (Mat 7:7-12), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Selama masa Prapaskah atau Tobat kita diharapkan untuk mawas diri perihal hidup doa kita atau cara kita berdoa. Kebanyakan dari kita pada umumnya ketika berdoa berarti mengajukan permohonan-permohonan kepada Tuhan; memang ada permohonan yang bersifat egois sehingga tak dikabulkan dan orang yang bersangkutan kemudian putus asa tidak berdoa lagi. Dalam Warta Gembira hari ini kita diingatkan bahwa ketika kita mengajukan permohonan dalam doa kepada Tuhan hendaknya mohon apa yang baik, dan apa yang baik senantiasa berlaku secara universal atau umumnya, dimana saja dan kapan saja serta bagi siapapun juga. Apa yang baik antara lain adalah keselamatan jiwa atau hidup beriman sesuai dengan kehendak Tuhan alias setia dan taat melaksanakan perintah-perintah atau kehendak Tuhan, antara lain sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci. Ketika kita mengajukan pada umumnya juga disertai kesiap-sediaan untuk menerima apa yang dimohon, maka mohon setia dan taat pada kehendak Tuhan berarti serentak siap-sedia untuk melaksanakan kehendak Tuhan, dan dengan demikian permohonan segera menjadi kenyataan alias terkabul. Dalam Warta Gembira hari ini kiranya kita juga diingatkan dan diajak untuk senantiasa memberi apa yang baik kepada orang lain. Jika kita mawas diri secara jujur dan benar kiranya kita telah menerima apa yang baik secara melimpah ruah dari orang lain yang telah mengasihi kita, maka marilah kita teruskan atau salurkan apa yang baik yang telah kita terima tersebut kepada saudara-saudari kita. Dengan kata lain marilah kita saling berbuat baik, saling memperbaiki atau mempertobatkan dengan rendah hati dan penuh cintakasih.

·   "Pergilah Mordekhai dan diperbuatnyalah tepat seperti yang dipesankan Ester kepadanya"(Est 4:17). Pesan Ester kepada Morekhai adalah "Pergilah, kumpulkanlah semua orang Yahudi yang terdapat di Susan dan berpuasalah untuk aku; janganlah makan dan janganlah minum tiga hari lamanya, baik waktu malam, baik waktu siang. Aku serta dayang-dayangku pun akan berpuasa demikian, dan kemudian aku akan masuk menghadap raja, sungguhpun berlawanan dengan undang-undang; kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati."(Est 4:16). Berpuasa, bermatiraga atau lakutapa demi keselamatan jiwa, itulah yang diperbuat oleh Mordekhai. Marilah kita mawas diri dengan jujur dan benar: apakah jiwa saya selamat? Dengan jujur dan rendah hati kiranya kita semua harus mengakui dan menghayati bahwa jiwa kita belum selamat sebagaimana diharapkan, maka selayaknya kita berpuasa, matiraga atau lakutapa sesuai dengan situasi dan kemungkinan yang ada. Matiraga atau lakutapa antara lain berarti mengendalikan raga atau anggota-anggota tubuh sedemikian rupa sehingga bergerak atau berfungsi sesuai dengan kehendak Tuhan, yang berbuahkan apa yang baik dan menyelamatkan jiwa. Marilah kita mawas diri: anggota tubuh kita yang mana yang harus kita kendalikan dengan sungguh-sungguh, agar tidak mengganggu hidup keimanan kita!. Taat dan setia melaksanakan aneka macam aturan dan tatanan hidup bersama hemat kami juga membutuhkan matiraga atau lakutapa. Hidup teratur sesuai dengan tuntutan hidup sehat juga membutuhkan matiraga atau laku tapa, maka kami mengajak dan mengingatkan: siapapun yang pada saat ini merasa tidak sehat secara phisik berarti tidak teratur dalam hidup, antara lain kurang berolahraga/gerak badan, makan sesuai dengan pedoman 'empat sehat limpa sempurna', kurang istirahat dst.. Ingat ketika phisik atau tubuh sakit ada kecenderungan untuk mudah sakit hati atau sakit jiwa alias marah-marah pada sesamanya, dan dengan demikian melecehkan atau merendahkan yang lain.

 

"Aku hendak bersyukur kepada-Mu dengan segenap hatiku, di hadapan para allah aku akan bermazmur bagi-Mu. Aku hendak sujud ke arah bait-Mu yang kudus dan memuji nama-Mu, oleh karena kasih-Mu dan oleh karena setia-Mu; sebab Kaubuat nama-Mu dan janji-Mu melebihi segala sesuatu. Pada hari aku berseru, Engkau pun menjawab aku, Engkau menambahkan kekuatan dalam jiwaku."(Mzm 138:1-3)

 

Jakarta, 25 Februari 2010


Selasa, 23 Februari 2010

24 Feb - Yun 3:1-10; Luk 11:29-32

"Angkatan ini adalah angkatan yang jahat"

(Yun 3:1-10; Luk 11:29-32)

 

"Ketika orang banyak mengerumuni-Nya, berkatalah Yesus: "Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk angkatan ini. Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang dari angkatan ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Salomo! Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih dari pada Yunus!"(Luk 11:29-32), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Tanda adalah sesuatu yang kelihatan dan menunjukkan maksud atau tujuan yang tak kelihatan, misalnya tanda 'lampu lalu lintas menyala merah' artinya perintah untuk berhenti, tanda 'panah' menunjuk arah tertentu yang harus diikuti, dst.. , untuk rekan perempuan kiranya juga mengenal tanda-tanda dalam tubuhnya ketika akan menstruasi atau mulai hamil. Barangsiapa peka dan memahami serta melaksanakan perintah terlubung dari tanda-tanda tersebut maka ia akan selamat. Yunus menjadi tanda kehadiran atau utusan Tuhan bagi orang Ninive, maka apa yang disuarakan atau disampaikan oleh Yunus ditangkap. difahami dan dilaksanakan oleh orang Ninive: orang-orang Ninive bertobat dan akhirnya selamat. Dalam masa Prapaskah ini kepada kita diajak untuk melihat, mencermati dan memahami aneka macam tanda, yang memberi petunjuk atau arah bagi kita untuk hidup lebih baik, lebih berbudi pekerti luhur, sehingga juga lebih ada kemungkinan dan harapan untuk selamat. Membaca tanda-tanda jaman itulah yang diharapkan dari kita dalam menelusuri kehidupan dan panggilan. Setiap saat kita dapat mendengarkan atau membaca aneka macam tanda, entah berupa gambar, omongan/kata-kata atau isyarat, dst.., yang dapat menjadi tuntunan bagi kita untuk terus tumbuh berkembang, memperbaharui diri atau bertobat. Aneka macam jenis media massa, entah cetak atau elekronik senantiasa memberitakan aneka macam peristiwa, maka marilah kita cermati pemberitaan tersebut, karena apa yang diberitakan menandakan sesuatu yang lebih besar dan selayaknya kita tanggapi dengan benar. Apa yang sempat diberitakan melalui media massa kiranya perlu dimengerti bagaikan 'gunung es', yang terberitakan hanya sebagian kecil dari kenyataan yang ada.

·   "Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Ia pun tidak jadi melakukannya" (Yun 3:10), demikian kutipan perihal apa yang terjadi di antara orang Ninive. Pertobatan atau pembaharuan hidup yang membawa ke keselamatan atau kebahagiaan sejati, itulah yang terjadi. Marilah kita bertobat atau memperbaharui diri terus menerus demi keselamatan dan kebahagiaan kita. "Ecclesia semper reformanda est" = Gereja harus terus menerus diperbaharui, demikian kata sebuah motto. Yang dimaksudkan dengan Gereja adalah mereka atau kita semua yang percaya kepada Yesus Kristus, maka kita yang percaya kepadaNya hendaknya senantiasa siap sedia untuk diperbaharui terus menerus alias berubah sesuai dengan kehendak Allah atau tuntutan perkembangan jaman. Ingatlah bahwa di dunia ini yang tahan lama atau abadi adalah 'perubahan', maka barangsiapa tidak siap berubah akan terlindas dan ketinggalan jaman. Tentu saja dari kita, orang beriman, diharapkan terjadi perubahan ke arah yang lebih positif, baik, luhur dan mulia alias lebih suci dan lebih beriman. Marilah kita mawas diri perihal tingkah laku atau cara bertindak kita, mana yang harus diperdalam dan diteguhkan dan mana yang harus ditinggalkan. Aneka macam buah hasil perkembamgan teknologi, yang tidak lain juga merupakan hasil karya manusia, mau tidak mau menuntut kita untuk berubah juga. Sadar atau tidak sarana komunikasi yang canggih seperti "HP" (hand phone) telah merubah cara hidup dan cara bertindak manusia; semoga perubahan yang terjadi baik dan menyelamatkan. Namun hendaknya sadar juga bahwa "HP" telah mempengaruhi kita menjadi kurang manusiawi atau bahkan kurang beriman.

 

"Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku! Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!  Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku" (Mzm 51:3-4.12-13).

 

Jakarta, 24 Februari 2010


Minggu, 21 Februari 2010

22 Feb - 1Ptr 5:1-4; Mat 16:13-19

"Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga"

(1Ptr 5:1-4; Mat 16:13-19)

 

"Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: "Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?" Jawab mereka: "Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi." Lalu Yesus bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" Kata Yesus kepadanya: "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga."(Mat 16:13-19), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka merayakan "Pesta Takhta St.Petrus" hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Takhta St.Petrus untuk masa kini diduduki atau dijabat oleh Paus, pemimpin tertinggi Gereja Katolik. Yang menjadi pemimpin tertinggi pada umumnya memiliki kecenderungan untuk bersikap diktator dan sombong. Pemimpin tertinggi Gereja Katolik atau Paus senantiasa berusaha rendah hati dan melayani, maka dalam doa-doanya Paus senantiasa menyatakan diri sebagai 'hamba dari para hamba' (=servus servorum), menghayati kepemimpinan partisipatif dengan mendengarkan mereka yang harus dilayani. Dengan mendengarkan yang dilayani dengan baik, diharapkan dapat melayani dengan baik juga. Bentuk pelayanan Paus antara lain berupa  pengarahan, kebijakan, surat pastoral, dekrit, dst..yang dibuat dan dirumuskan setelah mendengarkan mereka yang akan menerimanya atau yang dilayani. Karena apa yang diajarkan atau disampaikan oleh Paus pada umumnya merupakan tanggapan atas suka-duka umat Allah atau para anggota Gereja Katolik dan masyarakat dunia, maka yang diajarkan atau disampaikan sungguh berwibawa dan pada umumnya ditaati dan dilaksanakan oleh umat Allah. Sampai saat ini Paus melalui para pembantunya atau langsung senantiasa menerima masukan-masukan atau informasi suka-duka umat Allah yang harus dilayani secara teratur. Maka baiklah dalam rangka mengenangkan Takhta St.Petrus hari ini, kami mengingatkan dan mengajak siapapun yang berpartisipasi dalam kepemimpinan umat Allah di tingkat apapun untuk menghayati kepemimpinan partisipatif: dengan rendah hati mendengarkan suka-duka dari mereka yang harus dipimpin dan dilayani, dan kemudian menanggapinya dengan rendah hati dan penuh kasih.

·   "Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu"(1Ptr 5:2-3). Kutipan ini kiranya mengingatkan dan mengajak kita semua, yang merasa menjadi pemimpin atau atasan, untuk menghayati kepemimpinan dengan semangat gembala dan keteladanan. Gembala, sebagaimana gembala itik atau kerbau, kiranya menghayati tugasnya seperti motto bapak pendidikan kita, Ki Hajar Dewantoro "ing arso asung tulodho, ing madyo ambangun karso, tut wuri handayani" (=keteladanan, pemberdayaan dan motiviasi). Yang cukup mendesak dan up to date untuk dihayati dan disebarluaskan pada masa kini hemat kami adalah keteladanan, maka kami berharap kepada para pimimpin dimanapun dan tingkat apapun untuk menjadi teladan dalam hal kerendahan hati dan cara hidup serta bertindak yang melayani. Tanda pemimpin yang baik dan dicintai oleh yang dipimpin antara kehadiran dan sepak terjangnya, cara hidup dan cara bertindaknya senantiasa memberdayakan orang lain, menggairahkan orang lain dalam hidup dan bekerja; ia juga dapat menjadi motivasi bagi orang lain untuk terus tumbuh berkembang sebagai pribadi dewasa yang cerdas beriman. Pemimpin yang baik juga tidak mencari mencari keuntungan bagi dirinya sendiri atau mencari enaknya sendiri, tetapi siap sedia menderita dan berkorban demi kebahagiaan, keselamatan dan kedamaian yang mereka pimpin. The last but not the least adalah: para orangtua kami dambakan dapat menjadi teladan bagi anak-anaknya dalam hal kerendahan hati dan hidup saling melayani.

 

"TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa."

(Mzm 23)

   Jakarta, 22 Februari 2010