Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Sabtu, 16 April 2011

18 April - Yes 42: 1-7; Yoh 12: 1-11

"Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburanKu".

(Yes 42: 1-7; Yoh 12: 1-11)

 

"Enam hari sebelum Paskah Yesus datang ke Betania, tempat tinggal Lazarus yang dibangkitkan Yesus dari antara orang mati. Di situ diadakan perjamuan untuk Dia dan Marta melayani, sedang salah seorang yang turut makan dengan Yesus adalah Lazarus. Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu. Tetapi Yudas Iskariot, seorang dari murid-murid Yesus, yang akan segera menyerahkan Dia, berkata: "Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?" Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya. Maka kata Yesus: "Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku. Karena orang-orang miskin selalu ada pada kamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada pada kamu." Sejumlah besar orang Yahudi mendengar, bahwa Yesus ada di sana dan mereka datang bukan hanya karena Yesus, melainkan juga untuk melihat Lazarus, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati. Lalu imam-imam kepala bermupakat untuk membunuh Lazarus juga, sebab karena dia banyak orang Yahudi meninggalkan mereka dan percaya kepada Yesus." (Yoh 12:1-11), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Yudas Iskariot kiranya termasuk salah satu murid atau rasul Yesus yang bersikap mental materialistis, maka ketika melihat Maria meminyaki kaki Yesus dengan minyak wangi yang mahal harganya ia berkata: "Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?" . Cintakasih memang mengatasi segalanya, termasuk perhatian terhadap mereka yang miskin dan berkekurangan, dan pada umumnya perilaku cintakasih sejati memang sering sulit terpahami dengan logis atau akal sehat. Maka baiklah saya mengajak anda sekalian untuk mawas diri: sejauh mana cintakasih kita kepada Tuhan, sehingga dengan penuh syukur dan terima kasih kita bersembah-sujud kepadaNya, yang secara konkret kita wujudkan dalam bentuk perhatian kepada mereka yang tidak lama lagi akan meninggal dunia atau dipanggil Tuhan. Dalam kenyataan hidup sehari-hari kiranya hal itu terjadi, yaitu: dengan jiwa besar dan hati rela berkorban kita mengunjungi dan mendampingi mereka yang tak lama lagi akan dipanggil Tuhan. Memang ada kemungkinan kita tidak tahu persis kapan saudara-saudari kita yang sedang menderita sakit akan segera dipanggil Tuhan, maka baiklah kita senantiasa mengasihi mereka yang dekat dengan kita setiap hari, entah di rumah atau di tempat kerja. Boroskan waktu dan tenaga atau jika perlu harta atau uang anda bagi yang terkasih.

·   "Aku ini, TUHAN, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu; Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa, untuk membuka mata yang buta, untuk mengeluarkan orang hukuman dari tempat tahanan dan mengeluarkan orang-orang yang duduk dalam gelap dari rumah penjara." (Yes 42:6-7), demikian firman Allah kepada Yesaya, kepada kita semua umat beriman. Kita semua dipanggil untuk berpartisipasi dalam karya penyelamatan, antara lain 'untuk membuka mata yang buta, untuk mengeluarkan orang hukuman dari tempat tahanan dst..". Mungkin yang buta atau terhukum secara phisik tidak ada atau hanya sedikit, namun yang secara  spiritual atau rohani cukup banyak. Maka marilah kita perhatikan mereka yang buta dan terhukum secara spiritual, antara lain mereka yang bersikap mental materialistis, tentu saja dari diri kita sendiri diharapkan tidak bersikap mental materialistis. Kita hayati tiga keutamaan utama yaitu: iman, harapan dan cintakasih, dan yang terbesar adalah cintalasih. Wujud keutamaan cintakasih antara lain 'sabar, murah hati, tidak pemarah, siap sedia mengharapkan, menanggung dan mengerjakan segala sesuatu" (lihat 1Kor 13:4-7). Murah hati itulah yang mungkin kita hayati dan sebarluaskan. Murah hati secara harafiah berarti hatinya dijual murah alias memberi perhatian kepada siapapun tanpa pandang bulu, dan tentu saja lebih-lebih mereka yang buta dan terhukum secara spiritual. Hendaknya tidak takut dan gentar dalam menyelamatkan mereka, karena tangan Tuhan senantiasa memegang tangan kita alias Tuhan senantiasa menyertai kita. Bersama dan bersatu dengan Tuhan kita akan mampu mengasihi siapapun tanpa pandang bulu.

 

"TUHAN adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? TUHAN adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar? Ketika penjahat-penjahat menyerang aku untuk memakan dagingku, yakni semua lawanku dan musuhku, mereka sendirilah yang tergelincir dan jatuh. Sekalipun tentara berkemah mengepung aku, tidak takut hatiku; sekalipun timbul peperangan melawan aku, dalam hal itu pun aku tetap percaya."(Mzm 27:1-3) .

 

Jakarta, 18 April 2011

Jumat, 15 April 2011

17 April - Hari Minggu Palma - Yes 50:4-7; Fil 2:6-11; Mat 26:14-27:66

"Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus"

HARI MINGGU PALMA: Yes 50:4-7; Fil 2:6-11; Mat 26:14-27:66

 

Mulai hari ini kita memasuki Minggu Suci, diawali dengan Minggu Palma dan diakhiri dengan Malam Paskah. Setelah sejak Rabu Abu kita berparitisipasi dalam matiraga dengan berpuasa, berpantang serta dalam aneka Aksi Puasa Pembangunan, entah yang bersifat phisik atau spiritual, kiranya kita semakin mengenal diri kita sendiri, lingkungan hidup, sesama kita serta Yesus yang kita imani. Maka kami berharap kita semua tergerak untuk semakin mengenal dan mengikuti cara hidup dan cara bertindak Yesus, sebagaimana disarankan oleh Paulus kepada umat di Filipi: "Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia." (Fil 2:5-7)

 

"Mereka membawa keledai betina itu bersama anaknya, lalu mengalasinya dengan pakaian mereka dan Yesus pun naik ke atasnya."(Mat 21:7)

Dalam rangka memenuhi tugas pengutusanNya untuk mempersembahkan diri dengan wafat di kayu salib, Yesus harus memasuki kota Yerusalem kembali. Yesus adalah Raja Abadi, dan Ia memasuki kota Yerusalem dengan naik keledai, dan mungkin pada saat itu keledai merupakan salah satu bantuan transportasi yang sering digunakan, apakah hal itu tergolong mewah atau sederhana tergantung cara memandang dan menyikapinya. Hemat kami Ia dengan kesederhanaan memasuki kota Yerusalem dan umat yang percaya kepadaNya dengan sederhana pula mengelu-elukan, apa adanya dan tidak bermewah-mewah atau bersandiwara. Marilah kita masuki Minggu Suci dengan sederhana, apa adanya, sesuai dengan keberadaan atau jati diri kita.

 

Jati diri kita yang benar dan mendasar adalah sebagai manusia yang diciptakan oleh Allah. "Manusia diciptakan untuk memuji, menghormati dan mengabdi Allah Tuhan kita, dan dengan itu menyelamatkan jiwanya. Ciptaan lain di atas permukaan bumi diciptakan bagi manusia, untuk menolongnya dalam mengejar tujuan ia diciptakan.Karena itu manusia harus mempergunakannya  sejauh itu menolong untuk mencapai tujuan tadi, dan harus melepaskan diri dari barang-barang tersebut sejauh itu merintangi dirinya.Oleh karena itu kita perlu mengambil sikap lepas bebas  terhadap segala ciptaan tersebut, sejauh pilihan merdeka ada pada kita dan tak ada larangan. Maka dari pihak kita, kita tidak memilih kesehatan lebih daripada sakit, kekayaan lebih daripada kemiskinan, kehormatan lebih daripada penghinaan, hidup panjang lebih daripada hidup pendek. Begitu seterusnya mengenai hal-hal lain yang kita inginkan dan yang kita pilih ialah melulu apa yang lebih membawa ke tujuan kita diciptakan"  (St Ignatius Loyola: LR no 23)

 

Umat ada yang melepaskan pakaian mereka untuk mengelu-elukan Yesus memasuki kota Yerusalem, hal itu menunjukkan bahwa mereka sungguh lepas bebas terhadap apa yang mereka miliki, kuasai dan nikmati saat ini serta menghayatinya sebagai anugerah Allah guna memuji, menghormati dan mengabdi Tuhan Allah. Maka baiklah kami mengingatkan dan mengajak anda sekalian dalam memasuki Minggu Suci ini sungguh dalam keadaan lepas bebas, agar dapat "menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Kristus Yesus", memiliki budaya Yesus: cara melihat->cara merasa->cara berpikir-> cara bersikap -> cara bertindak Yesus. Lepas bebas berarti tidak memiliki kelekatan teratur terhadap ciptaan-ciptaan Allah lainnya di bumi serta serta hasil karya atau ciptaan manusia.

 

Memasuki Minggu Suci ini mungkin kita juga dapat membayangkan bahwa tak lama lagi kita akan dipanggil Tuhan alias meninggal dunia. Bukankah jika kita tahu tidak lama lagi akan dipanggil Tuhan akan tergerak untuk mawas diri secara mendalam, mengumpulkan sanak-saudara untuk mohon doa dan kasih pengampunan kepada mereka? Bukahkah kita tergerak untuk menelanjangi diri, dengan besar hati melepaskan segala sesuatu yang kita miliki, kuasai atau nikmati sampai saat ini? Dengan kata lain memasuki Minggu Suci ini marilah memasuki Minggu Suci dengan semangat rendah hati. "Rendah hati adalah sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri, yaitu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataanya lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan dirinya" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24)

 

"Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid. Tuhan ALLAH telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang. Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi" (Yes 50:4-6)

            

Kutipan dari Kitab Yesaya di atas ini kiranya menggambarkan semangat Yesus dalam memahkotai tugas pengutusanNya dengan wafat di kayu salib, yang hendaknya juga menjiwai semangat kita dalam memasuki Minggu Suci  Kerendahan hati dan ketaatan itulah semangat atau jiwa yang harus kita hayati dalam memasuki Minggu Suci; kerendahan hati dan ketaatan bagaikan mata uang bermuka dua, dapat dibedakan tetapi tak dapat dipisahkan, orang yang rendah hati pada umumnya taat dan sebaliknya orang yang taat juga rendah hati. Perihal kerendahan hati sudah saya angkat di atas, maka perkenankan disini saya mengangkat ketaatan untuk kita refleksikan.

 

Refleksi atau belajar perihal ketaatan antara lain kita dapat bercermin pada anggota-anggota tubuh kita. Bukankah anggota-anggota tubuh kita saling taat satu sama lain? Perhatikan sebagai contoh: mata melihat makanan, hidung mencium bau makanan, yang kemudian secara otomatis ada perintah kepada tangan untuk mengambil makanan, tanganpun segera mengirimkannya ke mulut, mulut mengunyah seperlunya dan langsung diteruskan ke usus/perut melalui leher. Yang paling taat dan rendah hati hemat saya adalah leher, termasuk tidak korupsi sedikitpun. Makanan ada kemungkinan ada yang tersisa atau tertinggal di tangan, di mulut, tetapi tak mungkin tertinggal di leher. Saling taat dan rendah hati satu sama lain dalam melaksanakan satu tugas makan itulah yang terjadi demi kesehatan atau kebugaran seluruh tubuh. Maka kami berharap kita saling taat satu sama lain dalam hidup dan kerja bersama, dengan kata lain masing-masing tidak mengikuti selera atau keinginan pribadi. Jika kita dapat saling taat satu sama lain, kiranya aneka tata tertib tidak akan menjadi beban bagi kita melainkan menjadi kebutuhan. Kami berharap mereka yang berpengaruh dalam kehidupan dan kerja bersama dapat menjadi teladan penghayatan ketaatan dan kerendahan hati. Orang yang taat dan rendah hati ketika diejek atau dilecehkan orang lain pada umunya juga tak akan marah atau mengeluh, bahkan ejekan atau pelecehan tersebut semakin membuat taat dan rendah hati.

 

"Semua yang melihat aku mengolok-olok aku, mereka mencibirkan bibirnya, menggelengkan kepalanya: "Ia menyerah kepada TUHAN; biarlah Dia yang meluputkannya, biarlah Dia yang melepaskannya! Bukankah Dia berkenan kepadanya?" (Mzm 22;8-9)

Jakarta, 17 April 2011

 


16 April - Yeh 37:21-28; Yoh 11:45-56

"Lebih berguna bagimu jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa."

(Yeh 37:21-28; Yoh 11:45-56)

"Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya. Tetapi ada yang pergi kepada orang-orang Farisi dan menceriterakan kepada mereka, apa yang telah dibuat Yesus itu. Lalu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi memanggil Mahkamah Agama untuk berkumpul dan mereka berkata: "Apakah yang harus kita buat? Sebab orang itu membuat banyak mujizat. Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepada-Nya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita." Tetapi seorang di antara mereka, yaitu Kayafas, Imam Besar pada tahun itu, berkata kepada mereka: "Kamu tidak tahu apa-apa, dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa." Hal itu dikatakannya bukan dari dirinya sendiri, tetapi sebagai Imam Besar pada tahun itu ia bernubuat, bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu, dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai. Mulai dari hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia. Karena itu Yesus tidak tampil lagi di muka umum di antara orang-orang Yahudi, Ia berangkat dari situ ke daerah dekat padang gurun, ke sebuah kota yang bernama Efraim, dan di situ Ia tinggal bersama-sama murid-murid-Nya. Pada waktu itu hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat dan banyak orang dari negeri itu berangkat ke Yerusalem untuk menyucikan diri sebelum Paskah itu. Mereka mencari Yesus dan sambil berdiri di dalam Bait Allah, mereka berkata seorang kepada yang lain: "Bagaimana pendapatmu? Akan datang jugakah Ia ke pesta?"(Yoh 11:45-56), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Hari ini adalah hari terakhir sebelum kita memasuki Minggu Suci, yang diawali dengan Minggu Palma, dimana dalam Perayaan Ekaristi dibarakan Kisah Sengsara Yesus sampai wafat di kayu salib. Dalam Warta Gembira hari ini dikisahkan seorang imam agung bernama Kayafas berkata "Kamu tidak tahu apa-apa, dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa".  Dalam tradisi berbagai bangsa atau suku ada yang disebut 'kambing hitam', yaitu orang benar yang harus menjadi korban demi keselamatan sesamnya. Maka hemat saya Yesus juga dijadikan 'kambing hitam' demi keselamatan seluruh bangsa. Maka marilah kita siapkan diri kita sebaik-baiknya untuk memasuki Minggu Suci, dan kiranya jika perlu kita juga merelakan diri sebagai 'kambing hitam', artinya demi kelancaran perayaan Minggu Suci marilah kita sumbangkan tenaga dan waktu kita, meskipun ada kemungkinan kita juga langsung dipekerjakan seenaknya oleh saudara-saudari kita; marilah kita siap sedia untuk berkorban diri demi keselamatan atau kebahagiaan saudara-saudari kita.

·   "Aku akan mengadakan perjanjian damai dengan mereka, dan itu akan menjadi perjanjian yang kekal dengan mereka. Aku akan memberkati mereka dan membuat mereka banyak dan memberikan tempat kudus-Ku di tengah-tengah mereka untuk selama-lamanya. Tempat kediaman-Ku pun akan ada pada mereka dan Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku." (Yeh 37:26-27). "Tempat kediamanKu pun akan ada pada mereka dan Aku pun menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umatKu", inilah kiranya yang baik kita renungkan atau refleksikan dalam rangka memasuki Minggu Suci yang akan datang. Sebagai umat beriman kita juga dinamai sebagai umat Tuhan, artinya adalah orang yang mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Dengan kata lain Tuhan sungguh hidup dan berkarya di dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini, sehingga cara hidup dan cara bertindak kita mendorong atau memotivasi orang lain untuk semakin mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Dalam keadaan atau situasi apapun dan dimanapun serta kapanpun hendaknya kita tetap setia sebagai umat Tuhan, sehingga kebersamaan hidup kita juga merupakan paguyuban umat Tuhan yang menarik, mempesona dan memikat orang lain untuk semakin mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Semoga dalam memasuki Minggu suci yang akan datang ini kita senantiasa membuka diri juga terhadap Penyelenggaraan Ilahi, sehingga kita juga siap sedia untuk berpartisipasi dalam persembahan Diri Yesus di kayu salib demi kesematan seluruh bangsa. "Selamat memasuki Minggu Suci seraya terus menerus menyucikan diri"

 

"Dengarlah firman TUHAN, hai bangsa-bangsa, beritahukanlah itu di tanah-tanah pesisir yang jauh, katakanlah: Dia yang telah menyerakkan Israel akan mengumpulkannya kembali, dan menjaganya seperti gembala terhadap kawanan dombanya! Sebab TUHAN telah membebaskan Yakub, telah menebusnya dari tangan orang yang lebih kuat dari padanya." (Yer 31:10-11)

     

Jakarta,. 16 April 2011


Rabu, 13 April 2011

14 April - Kej 17:3-9; Yoh 8:51-59

"Mereka mengambil batu untuk melempari Dia"

(Kej 17:3-9; Yoh 8:51-59)

 

"Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya." Kata orang-orang Yahudi kepada-Nya: "Sekarang kami tahu, bahwa Engkau kerasukan setan. Sebab Abraham telah mati dan demikian juga nabi-nabi, namun Engkau berkata: Barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya. Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kita Abraham, yang telah mati! Nabi-nabi pun telah mati; dengan siapakah Engkau samakan diri-Mu?" Jawab Yesus: "Jikalau Aku memuliakan diri-Ku sendiri, maka kemuliaan-Ku itu sedikit pun tidak ada artinya. Bapa-Kulah yang memuliakan Aku, tentang siapa kamu berkata: Dia adalah Allah kami, padahal kamu tidak mengenal Dia, tetapi Aku mengenal Dia. Dan jika Aku berkata: Aku tidak mengenal Dia, maka Aku adalah pendusta, sama seperti kamu, tetapi Aku mengenal Dia dan Aku menuruti firman-Nya. Abraham bapamu bersukacita bahwa ia akan melihat hari-Ku dan ia telah melihatnya dan ia bersukacita." Maka kata orang-orang Yahudi itu kepada-Nya: "Umur-Mu belum sampai lima puluh tahun dan Engkau telah melihat Abraham?" Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada."Lalu mereka mengambil batu untuk melempari Dia; tetapi Yesus menghilang dan meninggalkan Bait Allah"(Yoh 8:51-59), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Ketegangan antara Yesus dengan orang-orang Yahudi yang tidak percaya kepadaNya semakin meruncing atau mengalami puncaknya. Karena mereka merasa tidak mampu mengimbangi diskusi dengan Yesus perihal 'keturunan Abraham', maka 'mereka mengambil batu untuk melempari Dia, tetapi Yesus menghilang dan meninggalkan Bait Allah'. Kekerasan macam ini kiranya juga sering terjadi di Indonesia, yang dilakukan oleh kelompok tertentu dengan bertopeng agama. Mereka yang berpikiran sempit dan fanatik memang ada kecenderungan untuk melakukan kekerasan ketika merasa kalah dalam wacana atau pembicaraan. Yesus tidak akan wafat karena kekerasan begitu saja, melainkan Ia akan mempersembahkan Diri tanpa kekerasan untuk wafat di kayu salib demi keselamatan dunia seisinya. Kepada kita semua yang percaya kepadaNya kami berharap untuk meneladan Yesus, antara lain hendaknya jangan menghadapi kekerasan dengan kekerasan dan ketika tidak mampu menghadapi  perlakuan keras hendaknya dengan tenang mengundurkan diri. Marilah kita hayati sabdaNya "Sesungguhnya barangsiapa menuruti FirmanKu, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya".  Yang dimaksudkan dengan maut disini tentu saja pertama-tama dan terutama adalah jiwa; tubuh kita mungkin hancur tetapi jiwa tetap selamat. Sekali lagi kami mengingatkan bahwa hendaknya keselamatan jiwa menjadi cita-cita atau dambaan kita semua umat beriman.


·   "Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan keturunanmu turun-temurun" (Kej  17:9), demikian firman Allah kepada Abraham. Kita semua umat beriman yang mengakui sebagai keturunan Abraham kami harapkan untuk tetap berpegang teguh pada perjanjian Tuhan. Kepada Abraham Tuhan menjanjikan bahwa Abraham akan menjadi bapa bangsa yang besar. Percayalah bahwa jika kita berpegang teguh pada perjanjian Tuhan kita pun juga akan menjadi 'bapa bangsa yang besar', artinya jika kita setia pada aneka janji yang telah kita ikrarkan, ketika kita meninggal dunia akan dikenang oleh banyak orang untuk selama-lamanya, sebagaimana para pahlawan yang namanya diabadikan untuk memberi nama jalan, monumen, atau tempat-tempat penting dalam kehidupan bersama, atau dalam Gereja Katolik kita kenal para santo dan santa yang namanya juga diabadikan kedalam nama-nama baptis. Kita juga dapat meneladan Yesus yang setia sampai wafat di kayu salib, yang kemudian salibNya dikenang dan dihormati dimana-mana. Maka marilah kita menyalibkan diri bagi Tuhan dan sesama manusia, artinya sungguh menghayati panggilan dan melaksanakan tugas pengutusan dengan sepenuh hati dan dalam cintakasih (dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan/tenaga). Marilah dengan rendah hati serta bantuan rahmat Tuhan kita senantiasa berusaha agar nama baik kita tetap harum dimana-mana, karena dimanapun dan kapanpun kita senantiasa berusaha untuk membahagiakan atau menyelamatkan sesama manusia tanpa pandang bulu. Kita semua berasal dari Allah dan pada waktunya nanti harus kembali kepada Allah untuk selama-lamanya.

 

"Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu! Ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya, mujizat-mujizat-Nya dan penghukuman-penghukuman yang diucapkan-Nya, hai anak cucu Abraham, hamba-Nya, hai anak-anak Yakub, orang-orang pilihan-Nya! Dialah TUHAN, Allah kita, di seluruh bumi berlaku penghukuman-Nya.Ia ingat untuk selama-lamanya akan perjanjian-Nya, firman yang diperintahkan-Nya kepada seribu angkatan, yang diikat-Nya dengan Abraham"

(Mzm 105:4-9)

Jakarta, 14 April 2011         


Selasa, 12 April 2011

13 April - Dan 3:14-20.24-25.28; Yoh 8:31-42

"Bapa kami ialah Abraham."

(Dan 3:14-20.24-25.28; Yoh 8:31-42)


"Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." Jawab mereka: "Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapa pun. Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?" Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah. Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka."."Aku tahu, bahwa kamu adalah keturunan Abraham, tetapi kamu berusaha untuk membunuh Aku karena firman-Ku tidak beroleh tempat di dalam kamu. Apa yang Kulihat pada Bapa, itulah yang Kukatakan, dan demikian juga kamu perbuat tentang apa yang kamu dengar dari bapamu." Jawab mereka kepada-Nya: "Bapa kami ialah Abraham." Kata Yesus kepada mereka: "Jikalau sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham. Tetapi yang kamu kerjakan ialah berusaha membunuh Aku; Aku, seorang yang mengatakan kebenaran kepadamu, yaitu kebenaran yang Kudengar dari Allah; pekerjaan yang demikian tidak dikerjakan oleh Abraham. Kamu mengerjakan pekerjaan bapamu sendiri." Jawab mereka: "Kami tidak dilahirkan dari zinah. Bapa kami satu, yaitu Allah." Kata Yesus kepada mereka: "Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku" (Yoh 8:31-42),demikian kutipan Warta Gembira hari ini. .

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:


·   Ketegangan antara Yesus dengan orang-orang Yahudi yang tidak percaya kepadaNya semakin meruncing. Dalam kisah hari ini terjadi ketegangan perihal 'keturunan Abraham' yang berarti sungguh beriman dan tidak pernah berdosa alias bebas merdeka, tidak tertindas oleh setan. Abraham dikenal sebagai bapa umat beriman yang setia dan taat kepada kehendak Tuhan sepenuhnya, maka siapapun yang mengaku sebagai keturunan Abraham hendaknya setia kepada kehendak Tuhan, yang secara konkret berarti setia pada panggilan dan tugas pengutusan. Maka dengan ini kami mengajak anda sekalian untuk mawas diri: apakah setelah mengarungi kegiatan Prapaskah sampai kini kita semakin setia sebagaimana Yesus setia pada tugas pengutusanNya atau kurang setia/beriman seperti orang-orang Yahudi. Baiklah jika kita kurang atau tidak setia dalam panggilan, tugas pengutusan atau beriman, dengan rendah hati mohon kasih pengampunan Tuhan, antara lain memanfaat-kan kesempatan untuk mengaku dosa di gereja atau kapel. Apakah kita juga hanya secara formalitas atau liturgis saja menghayati iman atau agama kita masing-masing, misalnya mengaku Kristen atau Katolik, tetapi tidak setia apa ajaran-ajaran Yesus atau kehendak Tuhan dalam hidup sehari-hari, yang menjadi nyata dalam cara hidup dan cara bertindak? Apakah kita setia pada janji baptis kita: hanya mau mengabdi Tuhan Allah saja serta menolak semua godaan setan? Apakah kita semakin bersahabat atau bersitegang dengan saudara-saudari kita dst..?


·   "Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu."(Dan 3:17-18), demikian jawaban Sadrakh, Mesakh dan Abednego terhadap raja Nebukadnezar  Mereka akhirnya memang dicampakkan ke dalam api, yang diharapkan membakar mereka sampai jadi abu. Namun karena mereka orang benar Tuhan melindungi mereka melalui malaikatNya, sehingga mereka tak terbakar, terlepas dari api yang membara. Maka baiklah kami mengingatkan dan mengajak kita semua umat beriman, hendaknya tidak takut menghadapi aneka ancaman yang ingin merongrong iman kita dan percayalah bersama dan bersatu dengan Tuhan kita pasti akan mampu mengatasi aneka ancaman. Sebaliknya jika ada berbakti kepada berhala-berhala atau ciptaan Tuhan maupun karya manusia di bumi ini, maka anda dengan mudah dihancurkan atau jatuh ke dalam penderitaan yang tak kunjung henti. Hendaknya kita tidak perlu takut dan gentar menghadapi aneka gertakan dari mereka yang berkuasa. Kita semakin mendekati Minggu Suci, minggu untuk mengenangkan persembahan diri total Yesus demi kebahagiaan kita semua, maka baiklah kita juga mempersiapkan diri memasuki minggu suci yang akan datang dengan mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan melalui pelayanan kita kepada sesama atau saudara-saudari kita.

 

"Terpujilah Engkau, Tuhan, Allah nenek moyang kami, yang patut dihormati dan ditinggikan selama-lamanya. terpujilah nama-Mu yang mulia dan kudus, yang patut dihormat dan ditinggikan selama-lamanya. Terpujilah Engkau dalam Bait-Mu yang mulia dan kudus, Engkau patut dinyanyikan dan dimuliakan selama-lamanya. Terpujilah Engkau di atas takhta kerajaan-Mu, Engkau patut dinyanyikan dan ditinggikan selama-lamanya. Terpujilah Engkau yang mendugai samudera raya dan bersemayam di atas kerub-kerub, Engkau patut dihormat dan ditinggikan selama-lamanya.Terpujilah Engkau di bentangan langit, Engkau patut dinyanyikan dan dimuliakan selama-lamanya" (Dan 3:52-56)

 

Jakarta, 13 April 2011


Senin, 11 April 2011

12 April - Bil 21:4-9; Yoh 8:21-30

"Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepadaNya."

(Bil 21:4-9; Yoh 8:21-30)

 

"Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak: "Aku akan pergi dan kamu akan mencari Aku tetapi kamu akan mati dalam dosamu. Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang." Maka kata orang-orang Yahudi itu: "Apakah Ia mau bunuh diri dan karena itu dikatakan-Nya: Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang?" Lalu Ia berkata kepada mereka: "Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini. Karena itu tadi Aku berkata kepadamu, bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu." Maka kata mereka kepada-Nya: "Siapakah Engkau?" Jawab Yesus kepada mereka: "Apakah gunanya lagi Aku berbicara dengan kamu? Banyak yang harus Kukatakan dan Kuhakimi tentang kamu; akan tetapi Dia, yang mengutus Aku, adalah benar, dan apa yang Kudengar dari pada-Nya, itu yang Kukatakan kepada dunia." Mereka tidak mengerti, bahwa Ia berbicara kepada mereka tentang Bapa. Maka kata Yesus: "Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu, bahwa Akulah Dia, dan bahwa Aku tidak berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri, tetapi Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepada-Ku. Dan Ia, yang telah mengutus Aku, Ia menyertai Aku. Ia tidak membiarkan Aku sendiri, sebab Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada-Nya." Setelah Yesus mengatakan semuanya itu, banyak orang percaya kepada-Nya" (Yoh 8:21-30), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Orang yang tidak percaya memang sulit atau tak mungkin dapat memahami kata-kata orang lain yang kepadanya mereka tidak percaya. Itulah yang terjadi di antara orang-orang Yahudi ketika Yesus berkata "Aku akan pergi dan kamu akan mencari Aku tetapi kamu akan mati dalam dosamu. Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang".  Orang-orang Yahudi mengira Yesus mau bunuh diri setelah menghadapi aneka jebakan dari para ahli Taurat dan orang Farisi untuk dibunuh. Yesus akan pergi untuk menuntaskan tugas pengutusanNya dengan mempersembahkan diri wafat di kayu salib, sesuai dengan kehendak Dia yang mengutusNya. "Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu, bahwa Akulah Dia, dan bahwa Aku tidak berbuat apa-apa dari diriKu sendiri, tetapi Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepadaKu. Dan Ia yang telah mengutus Aku, Ia menyertai Aku, Ia tidak membiarkan Aku sendiri ,sebab Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepadaNya", demikian penjelasan Yesus kepada mereka. Kami mengajak dan mengingatkan anda sekalian untuk meneladan Yesus, yaitu 'pergi' untuk melaksanakan tugas pengutusan yang diserahkan kepada kita masing-masing, artinya dengan sepenuh hati menghayati panggilan atau mengerjakan aneka tugas dan kewajiban, siap sedia untuk mengorbankan diri demi keselamatan atau kebahagiaan umum/bersama.

·   "Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup."(Bil 21:8), demikian perintah Allah kepada Musa demi keselamatan bangsanya yang sedang dalam perjalanan menuju Tanah Terjanji. "Ular tedung"  tidak lain adalah menunjuk pada Yesus yang tergantung di kayu salib, maka baiklah kita semua yang sedang dalam perjalanan menghayati panggilan atau melaksanakan tugas pengutusan ketika merasa lelah, putus asa dst.. hendaknya memandang Dia yang tergantung di kayu salib alias tatap dan pandanglah dengan sepenuh hati salib yang ada di depan anda. Ingatlah dan sadari bahwa pengorbanan dan penderitaan yang anda alami selama ini tidak sebanding atau tak seberapa jika dibandingkan dengan pengorbanan Yesus di kayu salib. Percayalah jika anda berani memandang Yang Tersalib dengan sepenuh hati pasti akan bergairah kembali dalam menghayati panggilan atau melaksanakan aneka tugas pengutusan. Dengan kata lain ketika mengawali panggilan atau melaksanakan tugas pengutusan buatlah tanda salib sambil berkata "Dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus'. Hayati panggilan dan laksanakan aneka tugas pengutusan dalam nama Tuhan, dan dengan demikian anda pasti akan tetap bergairah dan dinamis ketika harus menghadapi aneka tantangan, masalah atau hambatan dalam rangka setia pada panggilan dan tugas pengutusan. Untuk itu ada kemungkinan akan hancur untuk sementara, tetapi akan mujur untuk selamanya. Mengimani Yang Tersalib berarti mati dalam hal dosa dan hidup dalam Tuhan, dalam kesetiaan melaksanakan aneka tata tertib yang terkait dengan panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing.

 

"Maka bangsa-bangsa menjadi takut akan nama TUHAN, dan semua raja bumi akan kemuliaan-Mu, bila TUHAN sudah membangun Sion, sudah menampakkan diri dalam kemuliaan-Nya, sudah berpaling mendengarkan doa orang-orang yang bulus, dan tidak memandang hina doa mereka. Biarlah hal ini dituliskan bagi angkatan yang kemudian, dan bangsa yang diciptakan nanti akan memuji-muji TUHAN, sebab Ia telah memandang dari ketinggian-Nya yang kudus, TUHAN memandang dari sorga ke bumi"

 (Mzm 102:16-20)

 

Jakarta, 12 April 2011


Minggu, 10 April 2011

11 April - Dan 13:41c-62; Yoh 8:1-11

"Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."

(Dan 13:41c-62; Yoh 8:1-11)

"Yesus pergi ke bukit Zaitun. Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka. Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah. Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: "Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?" Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah. Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Ia pun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah. Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya. Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: "Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?" Jawabnya: "Tidak ada, Tuhan." Lalu kata Yesus: "Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."(Yoh 8:1-11), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Pagi-pagi di Bait Allah alias di tempat beribadat ingin menjebak Yesus, itulah yang dilakukan para ahli Taurat dan orang Fairisi dengan berkata kepada Yesus:"Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah. Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?".  Yesus sungguh cerdas menanggapi jebakan tersebut dan Ia menjawab mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu". Mendengar jawaban tersebut mereka berreaksi dengan pergi, meninggalkan Yesus dan  perempuan tersebut, mulai dari yang tertua. Jawaban Yesus menyadarkan mereka bahwa mereka juga orang berdosa, dan semakin tua atau tambah usia berarti semakin tambah dosa dan kekurangannya. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua untuk tidak dengan mudah menyalahkan atau  melecehkan orang lain, serta secara khusus mengajak dan mengingatkan mereka yang sudah tua atau lebih tua untuk dengan rendah hati menyadari dan mengakui dosa-dosanya. Sabda hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk lebih menghormati dan menghargai mereka yang lebih muda dari kita, antara lain lebih memberi kesempatan dan kemungkinan untuk tumbuh berkembang atau memberi fungsi dalam kehidupan bersama. Mereka yang lebih tua atau lanjut usia hendaknya rela mengundurkan diri dan memberi kesempatan yang lebih muda untuk menggantinya.


·   "Sesuai dengan Taurat Musa kedua orang itu dibunuh. Demikian pada hari itu diselamatkan darah yang tak bersalah" (Dan 13:62), demikian kesimpulan sekitar masalah Susana yang dituduh berselingkuh, padahal ia tidak melakukannya. Senjata makan tuan, itulah yang terjadi dengan dua lelaki tua yang mengajukan tuduhan palsu kepada Susana. Kisah ini kiranya baik menjadi bahan permenungan bagi para lelaki, yang juga dengan mudah sering menuduh rekan-rekan perempuan sebagai sumber dosa, padahal sang lelaki sendiri yang tak mungkin mengendalikan nafsu bejatnya. Dengan kata lain kami berharap rekan-rekan laki-laki untuk menghormati dan menjunjung tinggi rekan-rekan perempuan; ingatlah dan sadari bahwa kita semua pernah dikandung, dilahrkan dan dibina dengan penuh cintakasih oleh seorang perempuan, yaitu ibu kita masing-masing, maka menuduh atau melecehkan perempuan berarti melecehkan ibu kita masing-masing. Para lelaki ketika melihat perempuan cantik dan mempesona, hendaknya tergerak untuk memuji dan memuliakan Tuhan, bukan membiarkan nafsu untuk memperkosanya atau melecehkannya. Hendaknya juga disadari dan dihayati bahwa rekan-rekan perempuan terpaksa harus melacurkan diri alias menjadi wanita simpanan karena kebejatan kaum laki-laki; mereka menjadi korban nafsu seksual laki-laki yang tak bertanggungjawab -> memandang dan menyikapi rekan perempuan sebagai pemuas nafsu seksual belaka, bukan sebagai citra atau gambar Tuhan. Dengan ini juga kami mengingatkan para orangtua untuk sungguh memperhatikan anak-anaknya jangan sampai terjebak pada pemuasan nafsu seksual belaka. Kepada kita semua kami ajak dan ingatkan untuk menyadari diri sebagai yang berdosa yang telah menerima kasih pengampunan Tuhan secara melimpah ruah. 

 

"TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah" (Mzm 23:1-5).

Jakarta, 11 April 2011