Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Sabtu, 01 Oktober 2011

Minggu Biasa XXVII

Mg Biasa XXVII: Yes 5:1-7; Flp 4:6-9; Mat 21:33-43
" Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu
penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di
mata kita"

Pada masa Orde Baru jika ada tokoh masyarakat, bangsa atau Negara yang
tidak taat kepada orang nomor satu di negeri ini, meskipun orangnya
cerdas, beriman dan baik, maka yang bersangkutan akan diusir atau
disingkirkan atau 'dikeluarkan dari fungsi/jabatannya yang strategis'
dalam hidup bermasyarakat , berbangsa dan bernegara. Jika ada orang
baik yang mencoba mengganggu atau mempersulit keinginan dan dambaan
anggota keluarga orang nomor satu di negeri ini juga disingkirkan
dengan berbagai cara. Ada yang dibunuh, ada yang dipenjarakan dan ada
yang melarikan diri keluar negeri dst.. Bahkan orang-orang pandai yang
bersifat egois alias tidak prihatin dan berpartisipasi membangun dan
membenahi kesremawutan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
juga lebih senang  bercokol di luar negeri. Cara berpikir atau
paradigma orang bersikap mental materialistis atau duniawi memang
berlawanan dengan cara berpikir atau paradigma Tuhan. Maka marilah
kita renungkan sabda Yesus hari ini.
"Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu
penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di
mata kita." (Mat 21:42)
Yang dimaksudkan dengan 'tukang-tukang bangunan' disini tidak lain
adalah mereka yang bersikap mental materialistis atau duniawi, yaitu
yang gila akan harta benda/uang, pangkat/ keududukan/jabatan dan
kehormatan duniawi, seperti orang-orang Farisi yang menjadi
tokoh-tokoh bangsa Yahudi pada zaman Yesus. Dengan keserakahan dan
kesombongannya mereka merampas hak-hak rakyat dan orang baik, cerdas
dan beriman. Mereka menggunakan 'aji mumpung' atau kesempatan sesuai
dengan selera pribadi dan kewenangan atau kekuasaannya. Pada masa
perjuangan kemerdekaan negeri kita mungkin dapat kita kenangkan tokoh
Sukarna dan Hatta, yang sempat dibuang oleh penguasa penjajah
berkali-kali dan akhirnya menjadi proklamator kemerdekaan Negara
Kesatuan Republik Indonesia, dan namanya diabadikan di pintu gerbang
negeri ini, nama bandara internasional terbesar di negeri ini, Bandara
Sukarna-Hatta Cengkareng-Jakarta.
Mayoritas penumpang pesawat terbang yang melalui Bandara Sukarna-Hatta
Cengkareng maupun bandara-bandara lainnya di negeri ini adalah
orang-orang penting dan kaya, dengan kata lain menentukan kwalitas
hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Maka kami berharap
kepada mereka ini agar setiap kali singgah sejenak atau seraya
menunggu keberangkatan pesawat terbang di ruang tunggu Bandara
Sukarna-Hatta Cengkareng, untuk mengenangkan cara hidup, cara
bertindak, perjuangan dan pengorbanan para proklamator negeri ini.
Saya percaya bahwa para proklamator negeri ini sungguh cerdas beriman,
hidup, berjuang dan berkorban demi kesejahteraan umum atau bangsa
seluruhnya.
Kepada siapapun yang berada 'di poros bisnis maupun di poros badan
publik' dalam hidup bersama di negeri ini kami harapkan berpihak pada
dan bersama mereka yang berada 'di poros komunitas', yaitu rakyat.
Ingatlah dan sadari serta hayati bahwa anda berada 'di poros badan
publik' karena dipilih dan didukung oleh rakyat dan ketika berkampanye
anda berjanji untuk mensejahterakan rakyat, demikian pula yang berada
'di poros bisnis' hendaknya menyadari dan menghayati bahwa
keberhasilan bisnis anda tak terlepas dari rakyat, kerja, perjuangan
dan keringat rakyat. Jangan ingkari janji dan kebenaran ini: rakyat
adalah batu sendi atau penjuru bangunan hidup bersama, hidup
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Tentu saja secara konkret kami
juga berharap kepada segenap orangtua untuk senantiasa berpihak dan
bersama dengan anak-anak yang telah dianugerahkan oleh Tuhan. Bukankah
hidup berkeluarga atau sebagai suami-isteri tanpa anak terasa hambar
dan kurang bergairah? Bukankah kehadiran anak-anak dalam keluarga anda
menggembirakan dan menggairahkan hidup anda berdua? Boroskan waktu dan
tenaga anda bagi anak-anak anda sebagai bukti cintakasih anda kepada
anak-anak anda, yang telah dianugerahkan Tuhan kepada anda berdua!
"Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi
nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan
permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui
segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.
Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia,
semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang
didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah
semuanya itu." (Flp 4:6-8)
Ajakan atau peringatan Paulus kepada umat di Filipi di atas ini
hendaknya juga dijadikan ajakan atau peringatan kita semua, umat
beriman atau beragama. Pertama-tama kita semua diharapkan tidak kuatir
tentang apa pun juga; orang yang mudah kuatir berarti tidak/kurang
beriman. Ingatlah dan sadari bahwa jika kita dalam keadaan kuatir atau
takut berarti ketahanan tubuh kita dalam keadaan lemah dan dengan
demikian mudah terserang oleh aneka jenis virus dan penyakit serta
akhirnya jatuh sakit. Marilah kita imani dan hayati bahwa Allah
senantiasa menyertai dan mendampingi perjalanan hidup, panggilan dan
tugas pengutusan masing-masing serta kita diharapkan senantiasa
bersyukur karena pendampingan atau penyertaanNya. Sebagai ucapan
syukur kepada Allah kita diharapkan memikirkan "semua yang benar,
semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis
dan semua kebajikan".
Jika kita senantiasa memikirkan hal-hal di atas berarti kita juga akan
melakukan atau menghayatinya, karena apa yang akan kita lakukan atau
hayati sangat tergantung dari apa yang sedang kita pikirkan. Cara
hidup dan cara bertindak kita tergatung dari apa yang kita pikirkan.
Marilah kita melakukan apa yang benar, mulia, adil, suci, manis dan
bijaksana kapan pun dan dimana pun, karena apa yang disebut benar,
mulia, adil, suci, manis dan bijaksana hemat saya berlaku secara
universal atau umum, dimana saja dan kapan saja. Kami berharap
nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan tersebut sedini mungkin
dididikkan atau dibiasakan pada anak-anak di dalam keluarga dengan
teladan konkret dari para orangtua.
"Maka sekarang, Aku mau memberitahukan kepadamu apa yang hendak
Kulakukan kepada kebun anggur-Ku itu: Aku akan menebang pagar durinya,
sehingga kebun itu dimakan habis, dan melanda temboknya, sehingga
kebun itu diinjak-injak;Aku akan membuatnya ditumbuhi semak-semak,
tidak dirantingi dan tidak disiangi, sehingga tumbuh puteri malu dan
rumput; Aku akan memerintahkan awan-awan, supaya jangan diturunkannya
hujan ke atasnya" (Yes 5:5-6), demikian firman Allah melalui nabi
Yesaya kepada kita semua, umat beriman atau beragama. Firman ini hemat
saya merupakan peringatan bagi kita semua yang tidak melakukan apa
yang benar, mulia, adil, suci, manis dan bijaksana. Orang yang tidak
menghayati keutamaan-keutamaan tersebut akan menderita dan sengsara,
tidak hidup dalam damai dan sejahtera. Mereka akan merasa dirinya
ditinggalkan oleh semua orang dan dengan demikian akan merasa
kesepian. Maka baiklah firman Allah di atas ini sungguh kita
renungkan, sehingga kita tergerak terus menerus untuk melakukan apa
yang benar, mulia, adil, suci, manis dan bijaksana.
"Telah Kauambil pohon anggur dari Mesir, telah Kauhalau bangsa-bangsa,
lalu Kautanam pohon itu. dijulurkannya ranting-rantingnya sampai ke
laut, dan pucuk-pucuknya sampai ke sungai Efrat.: Mengapa Engkau
melanda temboknya, sehingga ia dipetik oleh setiap orang yang lewat?
Babi hutan menggerogotinya dan binatang-binatang di padang
memakannya.Ya Allah semesta alam, kembalilah kiranya, pandanglah dari
langit, dan lihatlah! Indahkanlah pohon anggur ini, batang yang
ditanam oleh tangan kanan-Mu" (Mzm 80:9.12-16)

 Ign 2 Oktober 2011

1Okt

"Barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini
dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga."
(Yes 66:10-14b; Mat 18:1-5)

" Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya:
"Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?" Maka Yesus memanggil
seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, lalu
berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat
dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam
Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi
seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga.Dan
barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia
menyambut Aku." (Mat 18:1-5), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St
Teresia dari Kanak-kanak Yesus, perawan dan pujangga Gereja hari ini,
saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
•       Anak kecil antara lain memiliki ciri-ciri: terbuka, taat kepada
orang lain, ceria, tidak pernah menyakiti orang lain namun memang
sering merepotkan orang lain, tetapi ia tidak tahu kalau merepotkan
orang lain maka juga tidak salah, dst.. Dengan kata lain anak kecil
jelas lebih suci jika dibandingkan dengan orangtua atau orang dewasa.
Maka jika kita diharapkan seperti anak kecil berarti kita dipanggil
untuk hidup suci. Suci berarti membaktikan diri seutuhnya kepada
Tuhan, sehingga cara hidup dan cara bertindak senantiasa sesuai dengan
kehendak Tuhan, senantiasa berbuat baik kepada saudara-saudarinya
dimanapun dan kapanpun tanpa pandang bulu. "Tuhan, jadikanlah aku bola
kesayanganMu. Maka kalau ditendang kesana-kemari silahkan, kalau
dilemparkan kemanapun silahkan, demikian juga sekirang Engkau bosan
padaku jika akan dibuang silahkan",  demikian kurang lebih curahan
hati Teresia dari Kanak-kanak Yesus, yang tidak lain merupakan
ungkapan penyerahan diri seutuhnya kepada Tuhan; dengan kata lain ia
sungguh taat kepada Tuhan, Keutamaan ketaatan itulah yang hendaknya
kita refleksikan dalam rangka mengenangkan Teresia hari ini. Ketaatan
kiranya masih jauh dari dambaan untuk dihayati oleh mayoritas bangsa
Indonesia, hal itu antara lain nampak di jalanan di antara pengendara
mobil maupun sepeda motor serta pejalan kaki, yang tidak mentaati atau
melaksanakan tata tertib berlalu lintas dengan melanggar rambu-rambu
lalu lintas seenaknya. Dalam hal ketaatan kiranya kita dapat belajar
dari anggota-anggota tubuh kita, yang taat satu sama lain alias saling
mendengarkan dan secara sigap serta spontan tanggap akan kebutuhan
anggota lainnya. Memang yang menentukan atau memberi perintah adalah
otak/pikiran, maka apa yang sedang dipikirkan oleh otak maka anggota
tubuh yang lain otomatis tanggap.
•       "Sesungguhnya, Aku mengalirkan kepadanya keselamatan seperti sungai,
dan kekayaan bangsa-bangsa seperti batang air yang membanjir; kamu
akan menyusu, akan digendong, akan dibelai-belai di pangkuan" (Yes
66:12). Yang sering menyusu, digendong dan dibelai-belai di pangkuan
adalah bayi atau anak-anak kecil, dimana hidupnya pertama-tama sangat
tergantung dari aliran air susu melalui buah dada atau payudara sang
ibu. Relasi antara ibu dan anaknya atau bayinya hemat saya dijiwai
oleh cintakasih yang memungkinkan saling taat dan tanggap satu sama
lain, sebagai perwujudan ketaatan pada kehendak dan perintah Tuhan.
Secara khusus hemat saya sang ibu sungguh mentaati dan melaksanakan
hehendak Tuhan, antara lain berpartisipasi dalam karya penciptaan
dalam dan oleh cintakasih, mengasuh anaknya dalam dan oleh kasih
dengan menyusui, menggendong dan membelai-belai anaknya, sebagai
perwujudan menyalurkan kasih kehidupan bagi anaknya.  Menyusui anaknya
hemat saya merupakann salah satu bentuk ketaatan, yaitu taat pada
kehendak Tuhan untuk membesarkan, mendidik dan mengembangkan anaknya.
Buah menyusui selain anaknya sehat wal'afiat adalah pengalaman kasih
sayang yang tiada taranya, yang akan membekali anak di kemudian hari
untuk tumbuh berkembang sebagai pribadi yang hidup dan bertindak dalam
dan oleh kasih serta senantiasa mentaati aneka ajakan, perintah dan
nasihat untuk berbuat baik. Maka dengan ini kami mengajak dan berseru
kepada para ibu yang sedang memiliki bayi untuk menyusuinya
anak/bayinya secara memadai, dan hendaknya jangan cepat-cepat diberi
susu kemasan yang berarti bukan air susu ibu. Menurut pakar kesehatan
lamanya menyusui bayinya hendaknya minimal selama setahun, syukur
lebih. Maka kami juga mengingatkan rekan-rekan perempuan, yang masih
remaja, untuk makan dan minum yang bergizi serta memadai agar kelak
ketika harus menyusui anaknya tidak mengalami kesulitan, artinya
produksi air susu  ibu terjamin baik secara kwantitas maupun kwalitas.
"TUHAN, aku tidak tinggi hati, dan tidak memandang dengan sombong; aku
tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau hal-hal yang terlalu
ajaib bagiku. Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan
jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti
anak yang disapih jiwaku dalam diriku. Berharaplah kepada TUHAN, hai
Israel, dari sekarang sampai selama-lamanya!" (Mzm 131)

Ign 1 Oktober 2011

Kamis, 29 September 2011

30 spt


"Barangsiapa mendengarkan kamu ia mendengarkan Aku"
(Bar 1:15-22; Luk 10:13-16)
 "Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. Akan tetapi pada waktu penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan dari pada tanggunganmu. Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku."(Luk 10: 13-16), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Hieronimus, imam dan pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   St.Hieronimus dikenal sebagai penterjemah Kitab Suci dari bahasa Ibrani dan Yunani ke dalam bahasa Latin, yang ia kerjakan kurang lebih selama 20 tahun, jangka waktu yang cukup lama. Dari pengalaman membaca dan menterjemahkan kitab suci, yang berarti sungguh memahami isi kitab suci, ia berpesan kepada kita semua :"Sekarang kita harus menterjemahkan nas-nas Kitab Suci ke dalam perbuatan, daripada berbicara muluk-muluk perihal yang kudus, lebih baik kita jabarkan dalam hidup sehari-hari"(Ensiklopedi Orang Kudus, Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta 1985/cetakan kelima, hal 150). Kitab Suci pertama-tama dan terutama untuk 'dibacakan dan didengarkan', maka hendaknya mereka yang bertugas membacakan kitab suci sungguh membacakan sedangkan yang mendengarkan sungguh mendengarkan. Mayoritas dari kita kiranya lebih banyak mendengarkan daripada membacakan, maka marilah kita hayati sabda Yesus "Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.". Mendengarkan hemat saya merupakan keutamaan yang harus diperdalam dan dihayati oleh umat beriman atau beragama. Saya percaya jika kita memiliki kehendak baik, hati, jiwa dan akal budi baik, maka apa yang kita dengarkan pasti mempengaruhi cara hidup dan cara bertindak kita, maka jika kita mendengarkan sabda-sabda Tuhan sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci dengan demikian kita akan hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan. Marilah kita perdalam dan teguhkan tugas dan panggilan kita sebagai pelaksana-pelaksana kehendak Tuhan dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari.
·   "Kami tidak mendengarkan suara Tuhan, Allah kami, sesuai dengan firman para nabi yang telah Tuhan utus kepada kami.Bahkan kami telah pergi berbakti kepada allah lain, masing-masing menurut angan-angan hati jahatnya, dan kami melakukan apa yang durjana dalam pandangan Tuhan, Allah kami" (Bar 1:21-22). Kutipan di atas ini mungkin menjadi nyata dalam diri kita semua, yaitu kurang atau tidak mendengarkan suara Tuhan. Menurut penelitian kebanyakan orang hanya mampu paling besar 25% kebenaran informasi atau ajaran yang didengarkannya, dengan kata lain benarlah bahwa kita kurang mendengarkan: anak-anak kurang atau tidak mendengarkan nasihat dan saran orangtuanya, para peserta didik kurang atau tidak mendengarkan apa yang diajarkan atau disampaikan oleh para guru atau pendidik, umat kurang atau mendengarkan kotbah pastor/pendeta/kyai dst… dan mungkin antar kita sendiri juga kurang atau tidak saling mendengarkan. Karena kurang atau tidak mendengarkan itulah kita sering "melakukan apa yang durjana dalam pandangan Tuhan" alias berbuat dosa atau berbuat jahat. Jika orang tidak atau kurang mendengarkan sesamanya manusia, maka yang bersangkutan juga kurang atau tidak mendengarkan suara Tuhan. Ingatlah dan sadari bahwa keutamaan mendengarkan merupakan indera pertama kali yang kita hayati atau lakukan; ketika kita masih berada di dalam rahim ibu kita masing-masing kita sudah dapat mendengarkan dan ketika kita masih bayi juga lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Maka jika kita pada saat ini kurang atau tidak mendengarkan berarti kita tidak setia pada diri kita masing-masing atau kita mencederai diri. Marilah 'back to basic", bertobat dan memperbaharui diri untuk menjadi pendengar-pendengar yang baik, sebagaimana telah kita hayati ketika kita masih berada di dalam rahim ibu maupun masih bayi atau kanak-kanak. Sekali lagi kami berharap kepada orangtua untuk mendidik dan membina anak-anaknya menjadi pendengar yang baik, sehingga juga menjadi pelaksana-pelaksana yang baik juga.
"Ya Allah, bangsa-bangsa lain telah masuk ke dalam tanah milik-Mu, menajiskan bait kudus-Mu, membuat Yerusalem menjadi timbunan puing.Mereka memberikan mayat hamba-hamba-Mu sebagai makanan kepada burung-burung di udara, daging orang-orang yang Kaukasihi kepada binatang-binatang liar di bumi. Mereka menumpahkan darah orang-orang itu seperti air sekeliling Yerusalem, dan tidak ada yang menguburkan. Kami menjadi cela bagi tetangga-tetangga kami, menjadi olok-olok dan cemooh bagi orang-orang sekeliling kami. Berapa lama lagi, ya TUHAN, Engkau murka terus-menerus, dan cemburu-Mu berkobar-kobar seperti api?" (Mzm 79:1-5)
Ign 30 September 2011

29 spt


"Malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia"
(Why 12:7-12a; Yoh 1:47-51)
" Kata Filipus kepadanya: "Mari dan lihatlah!" Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: "Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!" Kata Natanael kepada-Nya: "Bagaimana Engkau mengenal aku?" Jawab Yesus kepadanya: "Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara." Kata Natanael kepada-Nya: "Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!" Yesus menjawab, kata-Nya: "Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu." Lalu kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia." (Yoh 1:47-51), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan Pesta St.Gabriel, Mikael dan Rafael, Malaikat Agung , hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Allah menganugerahi setiap manusia malaikat, yang disebut malaikat pelindung, yang bertugas mendampingi hidup manusia di dunia ini. Pendampingannya dapat berupa nasihat, peringatan, dukungan, informasi gembira dst…demi keselamatan dan kebahagiaan manusia, terutama kebahagiaan atau keselamatan jiwanya. Malaikat pelindung menjadi kepanjangan para malaikat agung, Gabriel, Mikael dan Rafael, yang bertugas menyampaikan warta gembira, membantu manusia dalam perang melawan setan dan menemani manusia dalam hidup, panggilan dan tugas pengutusannya. Maka dengan ini kami mengingatkan dan mengajak segenap umat beriman dan beragama untuk mengimani dan menghayati pendampingan malaikat pelindung bagi kita masing-masing. Ketika ada warta gembira dan menyelamatkan marilah kita sebarluaskan kepada saudara-saudari kita, ketika menghadapi godaan atau rayuan setan marilah kita lawan bersama malaikat pelindung kita, dan ketika sedang melaksanakan tugas, kewajiban dan perutusan marilah kita bekerja bersama malaikat pelindung. Hendaknya kita tidak takut dan gentar dalam hidup ini, meskipun harus menghadapi aneka tantangan, hambatan dan masalah, karena malaikat Allah 'turun naik kepada kepala kita masing-masing', sehingga kita senantiasa berpikir  sesuai dengan kehendak Allah. Marilah kita ingat dan sadari bahwa apa yang akan kita lakukan sangat tergantung dari apa yang sedang kita pikirkan, maka semoga pikiran kita senantiasa meneladan apa yang dipikirkan oleh Allah, yaitu keselamatan dan kebahagiaan umat manusia di dunia ini, sehingga apapun yang kita lakukan menyelamatkan dan membahagiakan diri kita sendiri maupun saudara-saudari kita, terutama keselamatan dan kebahagiaan jiwa. Kita juga dipanggil untuk jujur terhadap diri sendiri dan tiada kepalsuan sedikitpun dalam diri kita.
·    "Sekarang telah tiba  keselamatan dan kuasa  dan pemerintahan Allah kita,  dan kekuasaan Dia yang diurapi-Nya,  karena telah dilemparkan ke bawah  pendakwa saudara-saudara kita,  yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita. Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba,  dan oleh perkataan kesaksian mereka.  Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut." (Why 12:10-11).  "Keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah" telah tiba dalam diri kita dan kebersamaan hidup kita sebagai umat beriman. Sebagai umat beriman kita dikuasai dan diperintah oleh Allah, dan karena Allah adalah maha segalanya maka mau tak mau kita harus hidup dan bertindak sesuai dengan perintahNya. Semua perintah Allah kiranya dapat dipadatkan ke dalam perintah untuk saling mengasihi satu sama lain dalam hidup sehari-hari dimanapun dan kapanpun. " Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu." (1Kor 13:4-7), demikian ajaran Paulus perihal kasih. Yang baik kita renungkan dan hayati pada masa kini hemat saya adalah "tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain", mengingat dan memperhatikan masih banyak orang suka menyimpan kesalahan orang lain, yang menjadi sumber kemarahan, yang kemudian berkembang menjadi permusuhan dan perpecahan, sehingga hidup bersama tidak harmonis sebagaimana didambakan atau dirindukan oleh banyak orang. Hemat saya menyimpan kesalahan orang lain dan marah merupakan bentuk pelanggaran harkat martabat manusia, yang diciptakan sesuai dengan gambar atau citra Allah. Kami berharap saling mengasihi dan mengampuni dididikkan dan dibiasakan pada anak-anak di dalam keluarga oleh orangtua, entah dengan nasihat, saran maupun teladan.
"Sementara aku terus melihat, takhta-takhta diletakkan, lalu duduklah Yang Lanjut Usianya; pakaian-Nya putih seperti salju dan rambut-Nya bersih seperti bulu domba; kursi-Nya dari nyala api dengan roda-rodanya dari api yang berkobar-kobar; suatu sungai api timbul dan mengalir dari hadapan-Nya; seribu kali beribu-ribu melayani Dia, dan selaksa kali berlaksa-laksa berdiri di hadapan-Nya. Lalu duduklah Majelis Pengadilan dan dibukalah Kitab-kitab" (Dan 7:9-10)
Ign 29 September 2011

Senin, 26 September 2011

28 spt

"Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang
tidak layak untuk Kerajaan Allah."
(Neh 2:1-8; Luk 9:57-62)

" Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka,
berkatalah seorang di tengah jalan kepada Yesus: "Aku akan mengikut
Engkau, ke mana saja Engkau pergi." Yesus berkata kepadanya: "Serigala
mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak
mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya." Lalu Ia berkata kepada
seorang lain: "Ikutlah Aku!" Tetapi orang itu berkata: "Izinkanlah aku
pergi dahulu menguburkan bapaku." Tetapi Yesus berkata kepadanya:
"Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah
dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana." Dan seorang lain lagi
berkata: "Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku
pamitan dahulu dengan keluargaku." Tetapi Yesus berkata: "Setiap orang
yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk
Kerajaan Allah." (Luk 9:57-62), demikian kutipan Warta Gembira hari
ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan
sederhana sebagai berikut:
•       "Maju kena mundur kena", itulah kata sebuah peribahasa, yang berarti
melangkah maju atau mundur sama-sama akibatnya. Bagi orang yang sehat
secara phisik maupun spiritual pasti lebih memilih untuk melangkah
maju  daripada mundur. Dalam warta gembira hari ini dikisahkan dua
sikap mental orang yang tak berani melangkah maju dengan alasan yang
tak dapat dijelaskan dan keterikatan keluarga (melayat dan
tradisionil). Tak ada orang yang tidak mengizinkan orang lain minta
pamit untuk layat; izin untuk melayat pasti dikabulkan. Banyak orang
juga hidup dan bertindak hanya mengikuti selera pribadi atau kebiasaan
dalam keluaganya, yang tidak sesuai lagi dengan perkembangan dan
tuntutan zaman. Kita semua dipanggil untuk melangkah maju terus
menerus, dan untuk itu memang harus memiliki sikap mental berubah
terus menerus alias diperbaharui terus menerus. Ingatlah dan sadari
bahwa yang abadi di dunia ini adalah perubahan, maka siapapun yang
tidak berubah pasti akan segera hilang dalam peredaran alias
ketinggalan zaman. Tentu saja perubahan yang baik adalah berubah
semakin suci, semakin berbudi pekerti luhur, semakin dikasihi oleh
Tuhan dan sesamanya. Anggota tubuh kita berubah, umur berubah, waktu
berubah dst.., apakah cara melihat, cara berpikir, cara merasa, cara
bersikap dan cara bertindak juga berubah? Kita semua dipanggil untuk
memiliki cara melihat, berpikir, merasa, bersikap dan bertindak
sebagaimana dikehendaki Tuhan, sehingga kita tumbuh-berekembang
menjadi sahabat-sahabat Tuhan, orang yang sungguh beriman atau
membaktikan diri seutuhnya kepada Tuhan melalui sesamanya dan
ciptaan-ciptaan Tuhan lainnya.
•       "Hiduplah raja untuk selamanya! Bagaimana mukaku tidak akan muram,
kalau kota, tempat pekuburan nenek moyangku, telah menjadi reruntuhan
dan pintu-pintu gerbangnya habis dimakan api?" (Neh 2:3). Kota berarti
tempat tinggal atau tempat bekerja, sedangkan pekuburan adalah tempat
mereka yang telah meninggal dimakamkan, yang sering juga disebut
taman, seperti Taman Makam Pahlawan. Di Indonesia pernah terjadi dan
mungkin juga masih berlangsung 'lomba kebersihan dan keindahkan kota',
maka para walikota dan bupati menggerakan rakyatnya untuk
mengusahakan, menjaga dan merawat kotanya agar bersih dan indah. Para
bupati dan walikota pun mencangkan motto dan dipasang di jalan-jalan,
misalnya 'kota ASRI, kota SANTRI, dst..". Kami berharap semoga tidak
hanya bersih dan indah secara phisik atau material saja, tetapi juga
secara manusiawi dan spiritual, artinya semua warganya bersih, beriman
dan baik, sehingga tidak ada kejahatan atau perilaku amoral
sedikitpun. Demikian juga perihal kuburan atau makam, semoga terjaga
kebersihan dan keindahannya sehingga tidak menjadi sarang penjahat dan
menakutkan. Jadikan makam atau kuburan menjadi semacam 'tempat wisata
rohani', dimana siapapun yang datang untuk mengunjungi makam dari
mereka yang telah dipanggil Tuhan mengenangkan kebaikan dan
nilai-nilai luhur yang telah ditinggalkannya. Mengenangkan berarti
menghadirkan kembali, maka jika kita dapat mengenangkan sungguh
berarti kita akan menghayati nilai-nilai luhur yang dulu dihayati oleh
mereka yang telah dipanggil Tuhan. Nilai-nilai luhur hendaknya
diabadikan melalui cara  hidup dan cara bertindak kita setiap hari.
Kita juga dapat mengenangkan para tokoh agama atau masyarakat yang
dapat menjadi panutan dalam cara hidup dan cara bertindak kita.
"Di tepi sungai-sungai Babel, di sanalah kita duduk sambil menangis,
apabila kita mengingat Sion. Pada pohon-pohon gandarusa di tempat itu
kita menggantungkan kecapi kita. Sebab di sanalah orang-orang yang
menawan kita meminta kepada kita memperdengarkan nyanyian, dan
orang-orang yang menyiksa kita meminta nyanyian sukacita:
"Nyanyikanlah bagi kami nyanyian dari Sion!" (Mzm 137:1-3)

 Ign 28 September 2011

27 spt


"Apakah Engkau mau supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk
membinasakan mereka?"
(Za 8:20-23; Luk 51-56)

"Ketika hampir genap waktunya Yesus diangkat ke sorga, Ia mengarahkan
pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem, dan Ia mengirim beberapa
utusan mendahului Dia. Mereka itu pergi, lalu masuk ke suatu desa
orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya. Tetapi
orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya
menuju Yerusalem. Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes,
melihat hal itu, mereka berkata: "Tuhan, apakah Engkau mau, supaya
kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?" Akan
tetapi Ia berpaling dan menegor mereka. Lalu mereka pergi ke desa yang
lain." (Luk 9:51-56), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Beerrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Vinsensius
de Paul, imam, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana
sebagai berikut:
•       Setia pada hidup beriman atau beragama tidak akan terlepas dari
aneka tantangan, hambatan atau masalah, entah itu bersifat vocal atau
phisik. Dalam warta gembira hari ini dikisahkan bahwa Yesus
mengarahkan pandanganNya serta murid-muridNya ke Yerusalem, yang
berarti harus melewati daerah orang-orang Samaria yang memusuhiNya,
dengan kata lain harus berhadapan dengan orang-orang yang akan
mempersulit atau menghambat perjalananNya. Menuju ke Yerusalem berarti
memenuhi kewajiban, tugas atau perutusan dengan paripurna. Kita semua
kiranya mendambakan pemenuhan penghayatan iman kita atau dambaan,
kerinduan dan cita-cita yang baik. Ada godaan ketika sedang berusaha
mewujudkannya menghadapi orang-orang yang mempersulit atau menghambat
maka kita akan berdoa "Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh
api turun dari langit untuk membinasakan mereka?" . Tantangan,
hambatan atau masalah yang muncul dari kesetiaan dan ketaatan pada
iman, panggilan dan tugas pengutusan merupakan wahana atau jalan
menuju kesempurnaan hidup beriman, terpanggil atau terutus, maka
hendaknya dihadapi dengan rendah hati serta bantuan rahmat Tuhan.
Bersama dan bersatu dengan Tuhan kita pasti akan mampu menghadapi dan
mengatasi aneka tantangan, hambatan dan masalah tersebut.
St.Vinsensius de Paul yang kita kenangkan hari ini kiranya dapat
menjadi teladan dalam menghadapi tantangan, masalah dan hambatan,
terutama dalam pelaksanaan tugas pengutusan untuk memperhatikan dan
melayani mereka yang miskin dan berkekurangan. Entah mereka miskin dan
berkeurangan secara phisik, social, psikis, emosional, intelektual
maupun spiritual, marilah kita perhatikan.
•       "Beginilah firman TUHAN semesta alam: "Masih akan datang lagi
bangsa-bangsa dan penduduk banyak kota. Dan penduduk kota yang satu
akan pergi kepada penduduk kota yang lain, mengatakan: Marilah kita
pergi untuk melunakkan hati TUHAN dan mencari TUHAN semesta alam! Kami
pun akan pergi!" (Za 8:20-21). "Mencari Tuhan semesta alam", itulah
kiranya dambaan atau kerinduan semua umat beriman atau beragama yang
baik dan benar. Tuhan hadir dan berkarya terus menerus dalam seluruh
ciptaanNya, terutama dalam diri manusia yang diciptakan sesuai dengan
gambar atau citraNya, dan karyaNya dalam diri manusia antara lain
dapat menjadi nyata dalam kehendak baik. Saya percaya bahwa orang yang
berkehendak baik lebih banyak daripada yang berkehendak jahat atau
tidak baik, dan yang berkehendak tidak baik hanya sedikit atau
segelintir saja. Maka marilah kita cari Tuhan dalam diri sesama kita
yang berkehendak baik, dengan kata lain marilah kita saling membagikan
kehendak baik kita untuk disinerjikan dalam rangka menghadapi aneka
tantangan, hambatan dan masalah. Marilah kita bergotong-royong, saling
menolong dan mendukung dalam penghayatan iman serta pencarian Tuhan.
"Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh", demikian kata sebuah
pepatah. Kita sama-sama beriman dan beragama alias percaya kepada
Tuhan, sama-sama ber-Tuhan, maka marilah kita perdalam dan teguhkan
kebersamaan kita sehingga terjadilah kesatuan hidup yang handal,
mempesona dan menarik. Kita hayati apa yang sama di antara kita
sehingga apa yang berbeda akan fungsional untuk memperdalam dan
memperkembangkan persatuan. Para suami-isteri, laki-laki dan
perempuan, yang berbeda satu sama lain kiranya memiliki pengalaman
bahwa perbedaan tidak menjadi hambatan untuk bersahabat dan bersatu,
maka kami berharap pengalaman tersebut diperdalam dan disebarluaskan
dalam kehidupan bersama, dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara, beriman dan beragama. Tuhan kita adalah Tuhan semesta alam,
maka selayaknya kita berusaha agar semua yang ada di alam raya ini
bersatu dan bersahabat satu sama lain, terutama manusia, ciptaan
terluhur dan termulia di alam raya ini.
"Di gunung-gunung yang kudus ada kota yang dibangunkan-Nya: TUHAN
lebih mencintai pintu-pintu gerbang Sion dari pada segala tempat
kediaman Yakub. Hal-hal yang mulia dikatakan tentang engkau, ya kota
Allah." (Mzm 87:1-3)

Ign 27 September 2011

Minggu, 25 September 2011

26 spt


"Yang terkecil di antara kamu sekalian dialah yang terbesar."
(Za 8:1-8; Luk 9:46-50)
" Maka timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka. Karena itu Ia mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya, dan berkata kepada mereka: "Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar." Yohanes berkata: "Guru, kami lihat seorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita." Yesus berkata kepadanya: "Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu." (Luk 9:46-50), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Anak-anak kecil hemat saya lebih suci daripada orang dewasa atau orangtua. Dalam hidup beriman atau beragama yang terbesar dan terhormat adalah yang tersuci, bukan yang kaya akan harta benda atau uang, ilmu pengetahuan atau pengalaman, dst.. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan para orangtua dan guru/pendidik, yang setiap hari bersama dan bergaul dengan anak-anak untuk mengasihi dan melayani sebaik mungkin sehingga anak-anak kelak tumbuh berkembang sebagai pribadi yang cerdas secara spiritual. Marilah anak-anak kita didik dan dampingi dalam 'cintakasih dan kebebasan' dan untuk itu hendaknya jangan pernah melecehkan atau merendahkan anak-anak, entah dengan memarahi atau menjelek-jelekkannya. Jika anak-anak kelak tidak tumbuh-berkembang menjadi pribadi yang cerdas secara spiritual berarti yang salah adalah para orangtua atau pendidik/guru. Dalam warta gembira hari ini kita juga dingatkan agar tidak merasa direndahkan atau disaingi ketika ada orang yang berbuat baik seperti kita atau meniru perbuatan baik kita. "Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia di pihak kamu", demikian sabda Yesus. Bersyukurlah dan berterima kasihlah jika ada orang-orang yang meniru karya atau perbuatan baik atau pelayanan kita bagi sesama. Jika ada orang yang meniru cara hidup dan cara bertindak kita yang baik berarti karya missioner, pewartaan atau 'dakwah' kita melalui perilaku sebagai penghayatan iman sukses atau berhasil karena rahmat dan anugerah Tuhan.
·   "Sesungguhnya, Aku menyelamatkan umat-Ku dari tempat terbitnya matahari sampai kepada tempat terbenamnya, dan Aku akan membawa mereka pulang, supaya mereka diam di tengah-tengah Yerusalem. Maka mereka akan menjadi umat-Ku dan Aku akan menjadi Allah mereka dalam kesetiaan dan kebenaran." (Za 8:7-8). Kutipan ini kiranya baik menjadi bahan permenungan atau refleksi kita sebagai umat beriman atau beragama. Kita semua dipanggil untuk menjadi umat beriman 'dalam kesetiaan dan kebenaran', artinya kapanpun dan dimanapun kita diharapkan menjadi orang-orang yang setia pada iman, panggilan dan tugas pengutusan serta melakukan apa yang benar, menyelamatkan dan membahagiakan, terutama kebahagiaan atau keselamatan jiwa manusia. Sebagai suami-isteri hendaknya saling setia satu sama lain dalam hidup bersama dan saling mengasihi, sebagai pelajar setia belajar, sebagai pekerja setia bekerja, sebagai imam setia menjadi imam, dst… Tanda bahwa kita setia antara lain kita senantiasa melakukan apa yang baik, benar, menyelamatkan dan membahagiakan; kehadiran dan sepak terjang kita dimanapun dan kapanpun tidak akan pernah mengganggu orang lain atau menjadi beban bagi orang lain, melainkan menjadi  fasilitator untuk berbuat baik dan benar.
" Maka bangsa-bangsa menjadi takut akan nama TUHAN, dan semua raja bumi akan kemuliaan-Mu, bila TUHAN sudah membangun Sion, sudah menampakkan diri dalam kemuliaan-Nya, sudah berpaling mendengarkan doa orang-orang yang bulus, dan tidak memandang hina doa mereka. Biarlah hal ini dituliskan bagi angkatan yang kemudian, dan bangsa yang diciptakan nanti akan memuji-muji TUHAN," (Mzm 102:16-19)   
Ign 26 September 2011