Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Sabtu, 28 April 2012

Minggu Paskah IV


Minggu Paskah IV/Minggu Panggilan

Kis 4:8-12; 1Yoh 3:1-2; Yoh 10:11-18

"Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya"

Romo Dewanta SJ adalah imam SJ, yang baru ditahbiskan ketika bertugas sebagai pastor paroki di sebuah paroki di Timor Leste/Timor Timur. Dalam karya pastoralnya ternyata ia harus menghadapi situasi yang sangat sulit, yaitu perang saudara, antara mereka yang pro-RI dan mereka yang menghendaki lepas dari RI dan menjadi Negara sendiri. Mereka yang berkehendak untuk lepas dari RI ternyata menang dan kemudian memaksa mereka yang pro-RI untuk bergabung, dan jika tidak bersedia bergabung akan dihabisi atau dibunuh. Ternyata cukup banyak warga Timor Leste yang tetap setia para RI alias pro-RI, maka karena tertekan mereka berusaha melarikan diri untuk mengungsi ke Timor Barat, wilayah RI. Dalam pelarian tersebut ternyata mereka tidak bebas, karena terus dikejar untuk dihabisi. Ada sekelompok umat yang dikejar tersebut bersembunyi di dalam sebuah gereja dimana Romo Dewanta menjadi pastor parokinya. Dalam situasi yang sangat sulit tersebut, Romo Dewanta berusaha melindungi umatnya yang tak bersalah, dan ia berdiri di depan gereja menghadapi mereka, para tentara bersenjata lengkap, yang mengejar umat pro-RI, dan akhirnya Romo Dewanta, tewas, sebagai 'martir', ditembak mati oleh tentara. Saya sungguh mengimani bahwa Romo Dewanta merupakan salah satu teladan "gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya".

"Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya" (Yoh 10:11)

Pada hari Minggu Paskah IV/Minggu Panggilan ini secara kebetulan di Seminari Menengah St.Petrus, Mertoyudan-Magelang, diselenggarakan Novena ke 9/penutupan, dalam rangka mengenangkan 100th Seminari Mertoyudan, dengan tema "Pastor Pelayan dan Motivator Kharisma". Novena dengan Perayaan Ekaristi mulai pk 10.00 wib, dan diakhiri dengan makan siang bersama sederhana (soto dan nasi liwet) serta diselingi tari Dayak oleh siswa-siswi SMP Kanisius-Mertoyudan. Tema novena ini kiranya sesuai dengan ajakan Gereja untuk mengenangkan Minggu Panggilan di hari Minggu Paskah IV ini maupun bacaan-bacaan hari Minggu ini.

Pertama-tama saya mengajak rekan-rekan pastor atau imam untuk mawas diri: sejauh mana sebagai pastor sungguh melayani umat alias 'memberikan nyawanya bagi domba-dombanya' maupun kehadiran dan sepak terjangnya senantiasa menjadi motivator charisma umat Allah, entah yang terpanggil sebagai awam maupun biarawan-biarawati? Marilah kita sadari, ingat dan hayati bahwa kita ditahbiskan menjadi imam berpartisipasi dalam imamat Uskup, gembala kita, yang senantiasa berusaha menjadi hamba yang hina dina untuk melayani umat Allah. Sebagai partisipan kita dipanggil untuk mendukung usaha gembala kita ini dengan menjadi pelayan-pelayan bagi umat Allah, yang diserahkan kepada kita untuk digembalakan. Cirikhas pelayan yang baik antara lain: bekerja keras tak kenal waktu, ceria/gembira, dinamis, tanggap, cekatan..dst.. untuk membahagiakan atau menyelamatkan mereka yang harus dilayani.

Imam berasal dari umat dan bagi umat, maka kesuburan panggilan imamat tergantung dari kwalitas kehidupan umat Allah atau keluarga katolik sebagai tempat munculnya benih-benih panggilan maupun pemekaran benih panggilan. Maka kami berharap kepada segenap umat, khususnya keluarga-keluarga katolik untuk mendukung promosi panggilan imam. Salah satu cirikhas kepribadian yang hendaknya diusahakan adalah 'to man/woman with/for others', pribadi yang peka akan kebutuhan sesamanya. Kami percaya pada masa kini ada gerakan atau paguyuban doa bersama untuk mendukung panggilan imam, namun kami juga berharap kepada keluarga-keluarga untuk dengan rela dan bangga jika satu atau dua anaknya yang terbaik terpanggil untuk menjadi imam, bruder atau suster. Hendaknya jangan terjadi: kita berdoa bagi suburnya panggilan, ketika anak saya yang baik ingin menjadi imam, bruder atau suster dilarang.

Mereka yang telah terpanggil menjadi imam, bruder atau suster, hendaknya juga berpartisipasi dalam promosi panggilan. Cara utama dan pertama-tama untuk promosi panggilan adalah kesaksian hidup terpanggil. Maka baiklah secara khusus kami ingatkan rekan-rekan imam untuk merenungkan dan menghayati ajaran ini, yaitu  "Panggilan imam itu pada hakekatnya panggilan untuk kekudusan, dalam corak yang sesuai dengan Sakramen Tahbisan. Kekudusan berarti bermesraan dengan Allah, mengikuti Kristus yang miskin, murni dan rendah hati. Kekudusan itu cintakasih tanpa syarat terhadap jiwa-jiwa, dan penyerahan diri sendiri untuk mereka dan demi kesejahteraan mereka yang sejati. Kekudusan berarti mengasihi Gereja yang suci dan menghendaki kita menjadi suci, karena itulah misi yang oleh Kristus dipercayakan kepadanya. Anda masing-masing harus menjadi kudus pula untuk membantu saudara-saudari anda menempuh panggilan mereka menuju kesucian" (Paus Yohanes Paulus II: Anjuran Apostolik, Pastores Davo Vobis ,  25 Maret 1992, no 33)

"Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya. Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci." (1Yoh 3:2-3)

Yang dimaksudkan dengan 'anak-anak Allah' tidak lain adalah kita semua yang sungguh mempersembahkan atau membaktikan diri sepenuhnya kepada Allah, yang senantiasa menaruh pengaharapan kepadaNya maupun "menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci". Maka marilah kita sebagai umat beriman, entah keyakinan atau agamanya apapun, kami ajak untuk bekerjasama mengusahakan kesucian hidup kita, bermesraan dengan Allah kapan pun dan dimana pun dalam hidup sehari-hari. Secara khusus bagi umat Katolik yang memiliki pelindung santo atau santa kami harapkan hidup dan bertindak meneladan santo atau santa yang menjadi pelindungnya.

Ketika kita dilahirkan di dunia ini masing-masing dari kita kiranya dalam keadaan suci adanya, dan memang begitu tumbuh berkembang menjadi dewasa, seiring dengan pertambahan usia, ternyata kesucian tersebut terus mengalami erosi. Maka jika di dalam diri kita ada apa yang baik, mulia, suci, benar dst.. kiranya sungguh merupakan anugerah Allah. Marilah kita renungkan atau refleksikan kutipan ini, yaitu bahwa "keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan." (Kis 4:12).

Menaruh pengharapan kepada Allah berarti juga mendambakan selamat dari Allah. Jika kita sungguh mendambakan selamat baik lahir maupun batin, phisik maupun spiritual, hendaknya kita senantiasa setia melaksanakan atau menghayati sabda-sabdaNya sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci. Cukup menarik bahwa kitab itu disebut suci, yang berarti isinya memang suci dan siapapun yang melaksanakan isi kitab suci berarti berusaha untuk menjadi suci. Dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua untuk rajin dan setia membaca dan merenungkan sabda-sabda yang tertulis di dalam Kitab Suci, sebagaimana dengan rendah hati juga kami usahakan serta kemudian kami sebarkan setiap hari. Kalau anda  tidak memiliki Kitab Suci, kiranya dapat menggunakan apa yang saya sampaikan setiap hari.

"Aku bersyukur kepada-Mu, sebab Engkau telah menjawab aku dan telah menjadi keselamatanku. Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. Hal itu terjadi dari pihak TUHAN, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Diberkatilah dia yang datang dalam nama TUHAN! Kami memberkati kamu dari dalam rumah TUHAN."

(Mzm 118:21-23.26)

Ign 29 April 2012


Jumat, 27 April 2012

28 April


"Adakah perkataan itu menggoncangkan imanmu?"

(Kis 9:31-42; Yoh 6:60-69)

" Sesudah mendengar semuanya itu banyak dari murid-murid Yesus yang berkata: "Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?" Yesus yang di dalam hati-Nya tahu, bahwa murid-murid-Nya bersungut-sungut tentang hal itu, berkata kepada mereka: "Adakah perkataan itu menggoncangkan imanmu? Dan bagaimanakah, jikalau kamu melihat Anak Manusia naik ke tempat di mana Ia sebelumnya berada? Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup. Tetapi di antaramu ada yang tidak percaya." Sebab Yesus tahu dari semula, siapa yang tidak percaya dan siapa yang akan menyerahkan Dia. Lalu Ia berkata: "Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorang pun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya." Mulai dari waktu itu banyak murid-murid-Nya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia. Maka kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya: "Apakah kamu tidak mau pergi juga?" Jawab Simon Petrus kepada-Nya: "Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah." (Yoh 6:60-69), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Jika kita berkehendak untuk tumbuh berkembang dalam iman, maka setiap saat ada kemungkinan kita menghadapi atau menerima hal-hal yang tak masuk akal, entah itu berupa perbuatan maupun perkataan atau ajaran. Para murid telah menerima perkataan yang tak masuk akal dari Yesus, yaitu jika mendambakan hidup kekal hendaknya mengimani bahwa 'roti' yang diberikan oleh Yesus sebenarnya adalah tubuh atau dagingNya sendiri. Mendengar perkataan itu cukup banyak orang meninggalkanNya, tetapi para murid dalam iman menanggapi: "Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah". Sebagai orang yang percaya kepada Yesus Kristus dan dibaptis secara katolik kiranya kita sering menerima komuni kudus berupa 'roti tawar' yang kita imani sebagai Tubuh Kristus. Maka dengan ini kami mengajak anda sekalian yang telah dan sering menerima komuni kudus untuk hidup dan bertindak sesuai dengan iman, yaitu senantiasa setia menghayati atau melaksanakan sabda-sabda Tuhan di dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari dimana pun dan kapan pun. Kiranya kita dapat belajar dari dan meneladan santo-santa, pelindung kita masing-masing, yang hemat saya telah menghayati atau melaksanakan secara total sabda Tuhan, yang mungkin hanya ayat-ayat tertentu saja. Maka baca dan renungkan apa yang tertulis di dalam Kitab Suci dan ketika ada ayat yang mengesan, hendaknya terus direnungkan dan dihayati. Ingat pesan ini, yaitu "Bukan berlimpahnya pengetahuan, melainkan merasakan dan mencecap dalam-dalam kebenarannya itulah yang memperkenyang jiwa" (St Ignatius Loyola, LR no 2)

·    "Segeralah datang ke tempat kami." (Kis 9:38c), demikian permintaan para murid di Lida kepada Petrus. Mendengar kata-kata atau permintaan itu, tanpa takut dan gentar, melainkan dengan bergairah dan cepat-cepat, Petrus pun berangkat. Petrus percaya ada sesuatu yang penting di balik permintaan atau kata-kata tersebut, dan kiranya Petrus menghayatinya sebagai kata-kata atau permintaan dari Tuhan. Akhirya 'dalam nama Yesus yang telah wafat dan bangkit dari mati', Petrus membangkitkan orang yang telah meninggal dunia atau mati. Kita semua dipanggil untuk meneladan Petrus; mungkin mujizat yang terjadi melalui diri kita tidak sebesar apa yang terjadi melalui Petrus. Di dalam hidup dan kerja kita setiap hari, kiranya kita sering melihat atau menghapi orang-orang yang lesu, tak bergairah atau putus asa dalam hidupnya, karena harus menghadapi tantangan, masalah atau hambatan yang banyak dan besar. Baiklah, 'dalam nama Yesus' kita datangi mereka serta kita bangkitkan mereka daari kelesuan, ketidak-gairahan maupun keputus-asaan. Percaya kepada Yesus yang telah bangkit dari mati berarti senantiasa hidup dan bertindak dalam dan oleh RohNya, yang menghidupkan, menggairahkan dan membangkitkan. Percayalah bahwa 'dalam nama Yesus, Tuhan' kita akan mampu menggairahkan dana membangkitkan mereka yang lesu dan putus asa. Dalam Tuhan lihat dan tunjukkan apa-apa yang baik atau yang menjadi kekuatan dalam diri orang yang bersangkutan, kemudian ajaklah mereka untuk melakukan apa yang baik tersebut atau mewujudkan kekuatannya dalam tindakan atau perilaku. Dengan kata lain kami harapkan kita senantiasa berpikiran positif terhadap siapapun, sebagai bukti bahwa kita beriman kepada Yesus yang telah bangkit dari mati dan hidup sesuai dengan RohNya. Hendaknya pantang menyerah dalam menghadapi aneka tantangan, hambatan dan masalah.

"Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku? Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama TUHAN, akan membayar nazarku kepada TUHAN di depan seluruh umat-Nya. Berharga di mata TUHAN kematian semua orang yang dikasihi-Nya. Ya TUHAN, aku hamba-Mu! Aku hamba-Mu, anak dari hamba-Mu perempuan! Engkau telah membuka ikatan-ikatanku!" (Mzm 116:12-16)

Ign 28 April 2012                   

 


Kamis, 26 April 2012

27 April


"Setiap orang yang mendengar perkataanKu ini dan melakukannya  ia sama dengan orang yang bijaksana yang mendirikan rumahnya di atas batu"

(2Tim 4:1-8; Mat 7:21-27)

" Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir.Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya." (Mat 7:21-27), demikian kutipan Warta Gembira dalam rangka mengenangkan pesta St.Petrus Kanisius hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Petrus Kanisius hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   St.Petrus Kanisius menjadi pelindung beberapa karya pastoral SJ atau SJ terlibat didalamnya, misalnya: Kolese Kanisius – Jakarta, Yayasan Kanisius – Semarang, Seminari Menengah Mertoyudan dst.. Jika anda membuka situs Google dan kemudian mencari gambar orang suci/santo-santa, maka anda akan menemukan dua orang suci yang digambarkan lain daripada yang lain, yaitu St.Ignatius Loyola dan St.Petrus Kanisius. Kedua orang suci ini digambarkan sedang bekerja, dan memang demikianlah salah satu spiritualtas Ignatian, yaitu 'bekerja dalam Tuhan' atau menemukan Tuhan dalam segala sesuatu, antara lain kerja/tugas sehari-hari, yang menyita banyak waktu dan tenaga kita setiap hari. Maka bacaan Injil yang diambil dalam rangka mengenangkan St.Petrus hari ini adalah sabda Yesus yang begitu menekankan pentingnya penghayatan, pelaksanaan, perilaku atau kerja. "Setiap orang yang mendengar perkataanKu ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu", demikian sabda Yesus. Kutipan ini juga kami ambil untuk ditulis di bawah patung St.Petrus Kanisius, di halaman Seminari Menengah Mertoyudan. Sabda Yesus ini kiranya diarahkan kepada siapapun yang percaya atau beriman kepadaNya, entah secara formal maupun informal. Keunggulan hidup beragama atau beriman terletak dalam penghayatan atau perilaku/tindakan, bukan diskusi atau omongan. Motto Petrus Kanisius yang sering diangkat ialah "persevere", bekerja keras. "Bekerja keras adalah sikap dan perilaku yang suka berbuat hal-hal yang positif dan tidak suka berpangku tangan serta selalu gigih dan sungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu" (Prof Dr Edi Setyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 10). Maka kami berharap kepada kita semua untuk senantiasa bekerja keras dalam melakukan apapun, melaksanakan tugas atau kewajiban.

·   "Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya" (2Tim 4:7-8), demikian kesakian iman Paulus, yang selayaknya juga menjadi kesaksian iman kita. Marilah kita selesaikan aneka tugas, panggilan dan kewajiban pada waktunya, jangan ditunda-tunda; syukur selesai lebih awal dari waktu yang diharapkan atau ditentukan. Sebagaimana seorang petani yang bertugas mencangkul setiap hari: jika satu hari dapat melakukan seratus kali cangkulan berarti setahun sudah ribuan cangkulan dilakukan. Maka kepada mereka yang sedang membaca buku, bacalah setiap hari buku setebal apapun dengan tekun dan teliti, sehingga dalam waktunya isi seluruh buku akan dikuasai; demikian pula mereka yang sedang bertugas mengerjakan sesuatu, kerjakan terus dengan tekun agar pada waktunya tugas dapat diselesaikan dengan baik dan memuaskan. Tegorlah dalam kasih dan kesabaran mereka yang suka menganggur atau bermalas-malasan. Didiklah anak-anak anda untuk menjadi pekerja keras demi masa depan mereka dengan teladan konkret dari anda, sebagai orangtua. Para pelajar, belajarlah sehingga terampil dalam belajar, sedangkan para pekerja, bekerjalah sehingga terampil dalam bekerja.

"Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu. Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau, janganlah biarkan aku menyimpang dari perintah-perintah-Mu. Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau.Terpujilah Engkau, ya TUHAN; ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku. Dengan bibirku aku menceritakan segala hukum yang Kauucapkan. Atas petunjuk peringatan-peringatan-Mu aku bergembira, seperti atas segala harta" (Mzm 119:9-14)

Ign 27 April 2012


Rabu, 25 April 2012

26 April


"Jika seorang makan roti ini ia akan hidup selamanya"

(Kis 8:26-40; Yoh 6:44-51)

"Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman. Ada tertulis dalam kitab nabi-nabi: Dan mereka semua akan diajar oleh Allah. Dan setiap orang, yang telah mendengar dan menerima pengajaran dari Bapa, datang kepada-Ku. Hal itu tidak berarti, bahwa ada orang yang telah melihat Bapa. Hanya Dia yang datang dari Allah, Dialah yang telah melihat Bapa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal. Akulah roti hidup. Nenek moyangmu telah makan manna di padang gurun dan mereka telah mati. Inilah roti yang turun dari sorga: Barangsiapa makan dari padanya, ia tidak akan mati. Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia." (Yoh 6: 44-51), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Jenis makanan yang kita konsumsi memang akan sangat berpengaruh terhadap kesehatan dan kebugaran tubuh kita maupun hidup spiritual kita. Ada rumor: mayoritas orang Indonesia ini yang dikomsumsi adalah 'rumput'/daun atau sayuran, sedangkan orang Eropa makan daging, maka tidak mengherankan orang Indonesia lebih mengandalkan otot daripada otak, phisik bukan spiritual. Di sekolah-sekolah senantiasa diajarkan perihal 'empat sehat, lima sempurna', yang berarti jika mau sehat hendaknya mengkonsumsi nasi/jagung/ubi, sayuran, daging/telor dan buah-buahan, sedangkan jika mendambakan sempurna tambahlah susu. Maklum banyak orang mengkonsumsi makanan dan minuman hanya mengikuti selera pribadi, bukan mengikuti pedoman hidup sehat. Jika dalam hal makan dan minum saja tidak sehat, apalagi dalam hal pelaksanaan atau penghayatan sabda atau perintah Allah. "Akulah roti hidup yang turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah dagingKu, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia", demikian sabda Yesus. Kita yang percaya kepada Yesus Kristus hal itu berarti setiap kali kita menerima komuni kudus dijanjikan untuk hidup selama-lamanya. Janji dari Allah setia adanya, dan kiranya dari pihak kita juga dituntut setia, yaitu setia melaksanakan dan menghayati perintah atau sabdaNya dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari alias dengan rendah hati berusaha untuk menjadi suci, membaktikan diri seutuhnya kepada Tuhan. Jika selama hidup di dunia ini kita sungguh membaktikan diri seutuhnya kepada Tuhan, maka ketika dipanggil Tuhan alias meninggal dunia kita akan menikmati hidup mulia dan bahagia selamanya di sorga.

·   Malaikat Tuhan berfirman kepada Filipus: "Bangunlah dan berangkatlah ke sebelah selatan, menurut jalan yang turun dari Yerusalem ke Gaza." Jalan itu jalan yang sunyi." (Kis 8:26). Dengan taat dan setia Filipus melakanakan perintah Allah melalui malaikatNya. Ia berjalan menuju ke selatan sampai di Kaisarea untuk memberitakan Injil, mewartakan kabar baik, menyebarluaskan apa yang baik dan menyelamatkan, terutama keselamatan jiwa. Marilah kita meneladan Filipus: ke arah mana kita berjalan atau bepergian hendaknya kita senantiasa menyebarluaskan apa yang baik dan menyelamatkan jiwa manusia, dan untuk itu tentu saja jiwa kita sendiri selamat adanya. Jiwa selamat berarti cara hidup dan cara bertindak dimana pun dan kapan pun baik adanya, sehingga dampak hidup dan tindakannya mempengaruhi orang lain untuk membaktikan diri seutuhnya kepada Tuhan, setia pada panggilan dan tugas pengutusannya. Dikatakan bahwa jalan yang dilalui oleh Filipus adalah 'jalan yang sunyi', berarti orang harus berani berjalan sendirian dalam kesunyian; ia, meskipun sendirian, dapat dihandalkan setia pada panggilan dan tugas pengutusan, serta tidak menyeleweng dari panggilan dan tugas pengutusannya. Cukup banyak orang takut dalam kesunyian atau sendirian, atau bahkan ketika sedang sendirian kemudian hidup seenaknya, semau gue, mengikuti selera atau keinginan pribadi, karena merasa tidak ada orang lain yang mengetahui. Ingatlah, sadari dan hayati bahwa sebagai orang beriman, meskipun secara phisik kita sendirian, sebenarnya kita tidak pernah sendirian, karena Tuhan menyertai dan mendampingi kita. Maka ketika secara phisik sendirian hendaknya orang bersyukur dan berterima kasih, karena ada kesempatan untuk bermesra-mesraan dengan Tuhan tanpa gangguan. Bukankah kita sering menyepi atau menyendiri agar dapat menikmati kebersamaan dengan Tuhan?

"Ya Allah, ketika Engkau maju berperang di depan umat-Mu, ketika Engkau melangkah di padang belantara, bergoncanglah bumi, bahkan langit mencurahkan hujan di hadapan Allah; Sinai bergoyang di hadapan Allah, Allah Israel. Gunung Allah gunung Basan itu, gunung yang berpuncak banyak gunung Basan itu! Hai gunung-gunung yang berpuncak banyak, mengapa kamu menjeling cemburu, kepada gunung yang dikehendaki Allah menjadi tempat kedudukan-Nya? Sesungguhnya TUHAN akan diam di sana untuk seterusnya!

(Mzm 68:8-9.16-17)

Ign 26 April 2012


25 April

"Beritakanlah Injil kepada segala makhluk"

(1Pet 5:5b-14; Mrk 16:15-20)

" Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh." Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. Mereka pun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya" (Mrk 16:15-20), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Markus, pengarang Injil, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Sebagai murid atau pengikut Yesus Kristus, Kabar Gembira dari Allah, kita semua dipanggil untuk menjadi pewarta kabar gembira juga dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimana pun dan kapan pun. Kabar gembira yang diharapkan antara lain: mengusir setan, menyembuhkan orang sakit, berbahasa baru, yaitu bahasa spiritual. Setan menggejala dalam aneka bentuk kejahatan atau tindakan amoral yang dilakukan orang, sedangkan orang yang menderita sakit ada dimana-mana, tentu saja tidak hanya sakit tubuh, tetapi juga sakit hati, sakit jiwa, atau sakit akal budi. Marilah kita berantas dan lawan aneka macam bentuk kejahatan dan perilaku amoral di lingkungan hidup dan kerja kita. Mereka yang sakit hati hendaknya didatangi dan dengan rendah hati serta lemah lembut diajak untuk tidak sakit hati lagi. Orang sakit hati pada umumnya karena disakiti oleh orang lain, maka ajaklah mereka untuk mengampuninya. Sedangkan sakit jiwa berarti orang-orang yang kurang menerima perhatian atau kurang menghayati kasih dan perhatian yang telah diterima secara melimpah ruah, maka sadarkan mereka bahwa mereka telah menerima perhatian dan kasih melimpah ruah dari Allah melalui sesamanya. Mereka yang sakit akal budi berarti bodoh secara intelektual hendaknya didampingi dalam dan dengan kasih kasih serta kebebasan Injili, agar tumbuh berkembang sebagai orang yang cerdas atau pintar. Berbahasa spiritual yang kami maksudkan adalah hidup dan bertindak tidak hanya sampai pada tatanan manusiawi, melainkan sampai tingkat spiritual. Kemana pun kita pergi dan dimana pun kita berada, marilah kita wartakan apa yang baik dan menyelamatkan, tanpa takut dan gentar dalam menghadapi aneka macam tantangan, masalah dan hambatan.

·   "Berilah salam seorang kepada yang lain dengan cium yang kudus. Damai sejahtera menyertai kamu sekalian yang berada dalam Kristus" (1Pet 5:14), demikian nasehat Petrus. Nasehat Petrus ini kiranya merupakan salah satu wujud atau bentuk cara memberitakan kabar baik atau kabar gembira kepada orang lain. Kita diajak dan diingatkan untuk saling memberi salam dengan cium yang kudus. Saya percaya ciuman merupakan salah satu bentuk yang handal dan disenangi banyak orang dalam rangka memberi salam. Mungkin bagi kita orang Timur atau kuno hal itu belum terbiasa, tetapi bagi orang Barat/'modern' hal itu sudah merupakan kebiasaan. Anda yang sedang saling berpacaran atau bertunangan kiranya sungguh menghayati ciuman sebagai ciuman kudus, karena dengan saling ciuman berarti anda semakin saling mengasihi dan kasih sejati berasal dari Allah. Sedangkan para suami-isteri kiranya telah terbiasa untuk saling berciuman mesra sebagai wujud saling mengasihi. Dalam hidup sehari-hari kita sering saling memberi salam, yang berarti saling mengharapkan untuk senantiasa hidup selamat dan damai sejahtera. Semoga harapan tersebut tidak hanya manis di mulut saja, melainkan juga menjadi manis dan nikmat dalam tindakan atau perilaku, yang berarti hidup saling mengasihi dengan lemah lembut dan rendah hati dimana pun dan kapan pun. Ciuman berarti mulut bertemu dengan mulut atau lidah bertemu dengan lidah. Mulut atau lidah merupakan salah satu anggota tubuh kita yang penting dan utama. Ingat dan sadari bahwa cara hidup dan cara bertindak kita sungguh dibina dan dididik oleh apa yang kita makan dan minum dengan atau melalui mulut dan lidah. Biasakan makan dan minum apa yang sehat, bukan apa yang enak, agar kelak kemudian anda sendiri akan sehat dan bergembira selalu serta kemudian dengan senang hati memberitakan apa yang baik dan menyelamatkan kepada orang lain, dimana pun dan kapan pun.

" Aku hendak menyanyikan kasih setia TUHAN selama-lamanya, hendak memperkenalkan kesetiaan-Mu dengan mulutku turun-temurun. Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya; kesetiaan-Mu tegak seperti langit. Sebab itu langit bersyukur karena keajaiban-keajaiban-Mu, ya TUHAN, bahkan karena kesetiaan-Mu di antara jemaah orang-orang kudus.Sebab siapakah di awan-awan yang sejajar dengan TUHAN, yang sama seperti TUHAN di antara penghuni sorgawi?" (Mzm 89:2-3.6-7)

Ign 25 April 2012


Minggu, 22 April 2012

24 April

"Barangsiapa datang kepadaKu ia tidak akan lapar lagi"

(Kis 7:51-8:1a; Yoh 6:30-35)

" Maka kata mereka kepada-Nya: "Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan? Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari sorga." Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga. Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia."Maka kata mereka kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa." Kata Yesus kepada mereka: "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi" (Yoh 6:30-35), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Ada orang-orang tertentu yang melaksanakan latutapa berhari-hari, tanpa makan dan minum, dan tinggal sendirian di tempat sepi atau hening. Mereka melakukan hal itu dengan tujuan utama agar senantiasa dekat dengan Tuhan atau Yang Ilahi, maka meskipun tanpa makan dan minum berhari-hari mereka merasa tak pernah kelaparan atau kehausan serta tak pernah mengeluh atau menggerutu. "Barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepadaKu, ia tidak akan haus lagi", demikian sabda Yesus, yang hendaknya kita renungkan dan hayati. Kenyang dan nikmat dalam Tuhan, itulah yang kiranya kita usahakan bersama-sama sebagai umat beriman atau beragama. Memang rasanya tak mungkin bagi kita semua untuk tanpa makan dan tanpa minum berhari-hari, maka baiklah saya mengajak anda sekalian untuk menghayati sabda Yesus di atas dengan senantiasa hidup dan bertindak dalam Tuhan. Jika kita senantiasa hidup dan bertindak dalam Tuhan, maka apapun yang harus kita lakukan, apa yang harus kita makan dan minum, akan enak dan nikmat adanya. Dalam hal makan dan minum, misalnya, hendaknya makan dan minum dalam dan dengan iman, sehingga dalam hal makan dan minum berpedoman pada sehat dan tidak sehat, bukan enak/nikmat dan tidak enak/nikmat. Apa yang enak dan nikmat pada umumnya kurang atau tidak sehat, tidak menjamin kesehatan dan kehandalan tubuh, sehingga orang yang bersangkutan mudah jatuh sakit, tidak memiliki daya tahun tubuh yang handal dalam menghadapi dan mengerjakan aneka tugas dan pekerjaan berat.

·    "Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!" (Kis 7:60), demikian kata terakhir Stefanus, sebelum meninggal dunia karena dirajam oleh musuh-musuhnya. Kata-kata ini keluar dari Stefanus, karena ia sungguh kenyang dalam Tuhan, hidup dan bertindak dalam Tuhan kapan pun dan dimana pun. Meskipun ia dirajam dengan batu, dilempari dengan batu sampai mati, ia tidak mengeluh dan menggerutu, tidak membenci dan balas dendam terhadap musuh-musuhnya, tetapi mengampuni dan mendoakannya. Kiranya Stefanus meneladan Yesus yang tergantung di puncak kayu salib, dalam puncak penderitaanNya, sehingga ia juga diangkat sebagai martir pertama di dalam Gereja. Kami percaya bahwa kita semua sering mengalami ancaman atau disakiti oleh orang lain, dan pada umumnya secara otomatis kita mudah marah dan membenci mereka yang mengancam dan menyakiti kita. Sebagai umat beriman kami ajak anda sekalian: marilah meneladan Stefanus, sebagai tanda atau bukti bahwa kita sungguh membaktikan diri seutuhnya kepada Tuhan. Hendaknya jangan marah, mengeluh atau menggerutu ketika menghadapi aneka tantangan, masalah, atau hambatan, entah itu karena kesetiaan iman kita maupun kesambalewaan kita dalam menghayati iman. "Gagal atau sukses, hendaknya selalu bersyukur", demikian salah satu isi motto Bapak Andrie Wongso, promotor Indonesia. Saya percaya kepada anda sekalian, para orangtua, pasti memiliki pengalaman sebagaimana dialami oleh Stefanus, misalnya ketika anak-anak mengganggu anda, anda tidak marah, mengeluh atau menggerutu, lebih-lebih ketika anak-anak masih kecil atau bayi. Hendaknya pengalaman tersebut terus diperkembangkan dan diperdalam serta disebarluaskan dalam hidup sehari-hari dimana pun dan kapan pun. Didik dan dampingi anak-anak anda dalam hal ini, terutama dengan teladan atau kesaksian hidup anda.

"Jadilah bagiku gunung batu tempat perlindungan, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku! Sebab Engkau bukit batuku dan pertahananku, dan oleh karena nama-Mu Engkau akan menuntun dan membimbing aku" (Mzm 31:3c-4)

Ign 24 April 2012


23 April


"Apakah yang harus kami perbuat  supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?" (Kis 6:8-15; Yoh 6:22-29)

" Pada keesokan harinya orang banyak, yang masih tinggal di seberang, melihat bahwa di situ tidak ada perahu selain dari pada yang satu tadi dan bahwa Yesus tidak turut naik ke perahu itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya, dan bahwa murid-murid-Nya saja yang berangkat. Tetapi sementara itu beberapa perahu lain datang dari Tiberias dekat ke tempat mereka makan roti, sesudah Tuhan mengucapkan syukur atasnya. Ketika orang banyak melihat, bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus. Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya: "Rabi, bilamana Engkau tiba di sini?" Yesus menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya." Lalu kata mereka kepada-Nya: "Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?" Jawab Yesus kepada mereka: "Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah." (Yoh 6:22-29), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Orang setelah ditraktir makan pada umumnya terkesan kepada yang mentraktir, sehingga ia rindu untuk bertemu dengannya. Demikianlah yang terjadi dengan orang banyak setelah dikenyangkan dengan roti, yang telah digandakan oleh Yesus, mereka berusaha untuk mencari Yesus. Namun Yesus meningkatkan kerinduan mereka, yaitu tidak berhenti pada roti atau  hal-hal phisik, melainkan hal-hal spiritual atau rohani, yaitu kehendak Allah. "Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah", demikian sabda Yesus kepada orang banyak yang mencariNya. "Dia yang telah diutus Allah" tidak lain adalah Yesus, maka marilah kita percaya sepenuhnya kepada Yesus, yang berarti senantiasa melaksanakan sabda-sabdaNya maupun meneladan cara hidup dan cara bertindakNya. "Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal", demikian sabda Yesus, yang hendaknya kita renungkan dan hayati dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimana pun dan kapan pun. Makanan yang tidak dapat binasa tidak lain adalah keutamaan-keutamaan atau nilai-nilai kehidupan, dan kiranya sejak kecil di dalam keluarga kita telah diberi makanan-makanan tersebut, maka marilah kita kenangkan, perdalam dan perkembangkan aneka keutamaan atau nilai kehidupan yang telah kita terima melalui orangtua maupun para guru di sekolah-sekolah. Saya pribadi sangat terkesan dengan tegoran atau nasihat bapak saya almarlum yang saya terima ketika saya masih kecil, yaitu "Barang katon wae ora biso nggarap, ojo maneh sing ora katon" (=Apa yang kelihatan saja tidak dapat mengerjakan, apalagi yang tidak kelihatan).

·   "Stefanus, yang penuh dengan karunia dan kuasa, mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak. Tetapi tampillah beberapa orang dari jemaat Yahudi yang disebut jemaat orang Libertini -- anggota-anggota jemaat itu adalah orang-orang dari Kirene dan dari Aleksandria -- bersama dengan beberapa orang Yahudi dari Kilikia dan dari Asia. Orang-orang itu bersoal jawab dengan Stefanus, tetapi mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara." (Kis 6:8-10), demikian berita perihal Stefanus yang hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak dan dorongan Roh Kudus, bukan mengikuti kehendak dan keinginan pribadi. Jika kita hidup dan bertindak dalam dan atas nama Tuhan atau Roh Kudus, maka tak seorangpun dapat melawan atau mengalahkan kita. Marilah kita meneladan Stefanus, "yang penuh dengan karunia dan kuasa", anugerah Tuhan. Karunia dan kuasa yang dianugerahkan oleh Tuhan tidak lain adalah aneka macam  budi pekerti luhur atau keutamaan-keutamaan iman, harapan dan kasih. Kita semua adalah orang beriman, maka marilah kita hayati iman kita dengan penuh harapan, artinya dengan bergairah, dinamis serta tidak kenal lelah hidup dan bertindak berdasarkan iman, yang menjadi nyata dalam cara hidup dan cara bertindak saling mengasihi. Percayalah jika kita hidup dan bertindak dalam dan oleh kasih, maka tak seorangpun mampu menghalangi dan melawan cara hidup dan cara bertindak kita. Setiap manusia diciptakan dan dibesarkan dalam dan oleh kasih, maka ketika didekati dan disikapi dalam dan dengan kasih, mereka pasti akan takluk kepada kita. Ingatlah dan sadari binatang sebuas apapun ketika didekati dan disikapi dalam dan dengan kasih dapat ditaklukkan dan kemudian menjadi sahabat, apalagi manusia.

"Sekalipun pemuka-pemuka duduk bersepakat melawan aku, hamba-Mu ini merenungkan ketetapan-ketetapan-Mu.Ya, peringatan-peringatan-Mu menjadi kegemaranku, menjadi penasihat-penasihatku. Jalan-jalan hidupku telah aku ceritakan dan Engkau menjawab aku -- ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku. Buatlah aku mengerti petunjuk titah-titah-Mu, supaya aku merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib." (Mzm 119:23-24.26-27)

Ign 23 April 2012