Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Sabtu, 11 Agustus 2012

Hari Raya SP Maria Diangkat ke Surga


HR SP MARIA DIANGKAT KE SORGA: Why 11:19a; 12:1.3-6a.10ab; 1Kor 15:20-26; Luk  1:39-56
"Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu"

"Akhirnya Perawan tak bernoda, yang tidak pernah terkena oleh segala cemar dosa asal, sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, telah diangkat memasuki kemuliaan di sorga beserta badan dan jiwanya. Ia telah ditinggikan oleh Tuhan sebagai Ratu alam semesta, supaya secara lebih penuh menyerupai Puteranya, Tuan di atas segala tuan, yang telah mengalahkan dosa dan maut(LG 59). Terangkatnya Perawan tersuci adalah satu keikutsertaan yang istimewa pada kebangkitan Puteranya dan satu antisipasi dari kebangkitan warga-warga Kristen yang lain" (Katekismus Gereja Katolik no 966). Katekismus Gereja Katolik merupakan ajaran-ajaran perihal iman Katolik, dan mulai bulan Oktober 2012 ini selama setahun ke depan dinyatakan sebagai Tahun Iman, ajakan Pimpinan Gereja Katolik agar segenap umat Katolik mempelajari dan mendalami kembali aneka dokumen resmi Gereja Katolik. SP Maria Diangkat ke sorga merupakan salah satu iman Katolik, maka dalam rangka mengenangkan pesta SP Maria Diangkat ke sorga hari ini saya kutipkan dari Katekismus Gereja Katolik, dan marilah kita renungkan atau refleksikan bersama.

"Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan.Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana." (Luk 1:42-45)

Kutipan di atas ini merupakan pujian Elisabeth, yang karena Roh Kudus dalam usia tuanya sedang mengandung anaknya yang pertama, kepada SP Maria yang juga sedang mulai mengandung karena Roh Kudus, mengandung dan akan melahirkan Penyelamat Dunia, yang kedatangan atau kelahiranNya sangat dinantikan oleh umat manusia yang mendambakan keselamatan abadi. Hemat saya rekan-rekan perempuan memang lebih menentukan nasib bangsa manusia, karena mereka yang mengandung anak-anak, generasi mendatang. Pribadi seorang ibu dengan segala cirikhas fisik, spiritual, emosional maupun sosialnya akan sangat mempengaruhi anak yang dikandung dan dilahirkannya. Maka kata-kata Elisabeth terhadap SP Maria "Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu", kiranya layak menjadi permenungan rekan-rekan perempuan khususnya dan laki-laki pada umumnya.

Di dalam rahim perempuanlah tumbuh dan berkembang berkat Tuhan, dan dari rahim perempuan lahirlah berkat Tuhan yang membahagiakan, anak manusia, yang diciptakan sesuai dengan gambar atau citra Tuhan. Karena SP Maria diimani sebagai teladan hidup beriman, maka kami mengharapkan segenap umat beriman dapat meneladannya, antara lain dari cara hidup dan cara bertindaknya senantiasa menjadi berkat atau kasih karunia bagi orang lain atau sesama manusia dimana pun dan kapan pun. Menjadi berkat atau kasih karunia antara lain kehadiran dan sepak terjangnya senantiasa mengundang dan memotivasi orang lain tergerak untuk memuji dan memuliakan Tuhan alias semakin beriman atau semakin suci, semakin membaktikan diri sepenuhnya kepada Tuhan dalam dan melalui cara hidup dan cara bertindak setiap hari.

Dalam kutipan Katekismus di atas dikatakan bahwa SP Maria "sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, telah diangkat memasuki kemuliaan di sorga beserta badan dan jiwanya.". Kiranya kita semua mendambakan bahwa sesudah menyelesaikan perjalanan hidup kita di dunia ini alias setelah meninggal dunia kita juga segera hidup mulia dan berbahagia selamanya di sorga, maka marilah kita sungguh-sungguh hidup dan bertindak sebagai orang yang memiliki dambaan atau kerinduan mulia tersebut. Untuk itu hendaknya cara hidup dan cara bertindak kita senantiasa berusaha untuk tumbuh berkembang menjadi pribadi yang baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur, tidak melakukan tindakan jahat atau amoral sekecil apapun. Marilah kita sadari dan hayati  bahwa ketika baru saja dilahirkan dari rahim ibu, di dunia ini, kita dalam keadaan baik dan suci, maka hendaknya kita sungguh-sungguh mempertahankan dan memperteguh serta memperkembangkan kesucian hidup tersebut. Maka selanjutnya marilah kita renungkan sapaan atau kesaksian iman Paulus di bawah ini.

"Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus.Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya: Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milik-Nya pada waktu kedatangan-Nya. Kemudian tiba kesudahannya, yaitu bilamana Ia menyerahkan Kerajaan kepada Allah Bapa, sesudah Ia membinasakan segala pemerintahan, kekuasaan dan kekuatan" (1Kor 15:22-24)

Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus kita telah "dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus", maka marilah kita mawas diri sejauh mana cara hidup dan cara bertindak kita sungguh menunjukkan bahwa kita berada dalam persekutuan dengan Yesus Kristus. Bersekutu dengan Yesus Kristus berarti menjadi 'alter Christi', karena kita sungguh meneladan cara hidup dan cara bertindak Yesus maupun melaksanakan sabda-sabdaNya. Marilah kita tunjukkan persekutuan tersebut dengan hidup bersaudara atau bersahabat dengan siapapun serta senantiasa mengusahakan persaudaraan atau persahabatan sejati di antara umat manusia di bumi ini.

Persaudaraan atau persahabatan sejati pada masa kini sungguh mendesak dan up to date untuk kita hayati dan sebarluaskan. Pada masa kini masih banyak orang yang menyombongkan kekuasaan dan kekuatannya dalam pemerintahan, serta menggunakan kuasa dan kekuatannya hanya untuk mencari keuntungan pribadi atau kelompoknya, sehingga menimbulkan ketegangan dan percekcokan di sana-sini. Marilah kita binasakan bersama Tuhan orang-orang yang demikian itu, karena mereka sungguh menjadi pemecah belah dan penghancur hidup bersama. Sikap mental bisnis atau materialistis memang masih begitu mendominasi hidup bersama di mana-mana, dan marilah kita hancurkan.

"Maka tampaklah suatu tanda yang lain di langit; dan lihatlah, seekor naga merah padam yang besar, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di atas kepalanya ada tujuh mahkota.  Dan ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit dan melemparkannya ke atas bumi. Dan naga itu berdiri di hadapan perempuan yang hendak melahirkan itu, untuk menelan Anaknya, segera sesudah perempuan itu melahirkan-Nya. aka ia melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi; tiba-tiba Anaknya itu dirampas dan dibawa lari kepada Allah dan ke takhta-Nya." (Why 12:3-5). Penglihatan yang dilukiskan oleh penulis Kitab Wahyu di atas ini kiranya mengingatkan kita akan pepatah yang berbunyi "sorga ada di telapak kaki ibu". Dengan kata lain jika kita mendambakan hidup bahagia dan damai sejahtera hendaknya jangan pernah melupakan kasih ibu yang luar biasa kepada kita, sebagaimana sebuah nyanyian mengenangkannya :"Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia"

"Di antara mereka yang disayangi terdapat puteri-puteri raja, di sebelah kananmu berdiri permaisuri berpakaian emas dari Ofir. Dengarlah, hai puteri, lihatlah, dan sendengkanlah telingamu, lupakanlah bangsamu dan seisi rumah ayahmu! Biarlah raja menjadi gairah karena keelokanmu, sebab dialah tuanmu! Sujudlah kepadanya!" (Mzm 45:10-12)
Ign 12 Agustus 2012

11 Agt


"Apakah yang akan kami peroleh?"
(Flp 3:8-14; Mat 19:27-29)

"Lalu Petrus menjawab dan berkata kepada Yesus: "Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?" Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel. Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal." (Mat 19:27-29), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St Klara, perawan, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Bagi seorang gadis, keperawanan merupakan sesuatu yang paling berharga atau bernilai bagi dirinya. Keperawanannya pasti akan diserahkan atau dipersembahkan kepada yang terkasih, yang paling dikasihinya. Tentu saja saja jika ia dipanggil untuk hidup berkeluarga sebagai suami isteri, maka ia akan mempersembahkan keperawannya kepada pasangan hidupnya, suaminya, tetapi ketika ia terpanggil untuk tetap hidup sebagai perawan alias tidak menikah, maka ia mempersembahkan keperawanan atau kesuciannya kepada Yang Terkasih, Tuhan yang telah menciptakan dan mengasihiNya. Hari ini kita kenangkan St.Klara, yang mempersembahkan keperawanannya kepada Tuhan dengan "meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya", yang kemudian "menerima kembali seratus kali lipat dan memperoleh hidup yang kekal". Kami berharap kepada kita semua, umat beriman atau beragama, untuk senantiasa menjaga dan memperdalam kesucian kita masing-masing, dan untuk itu hendaknya senantiasa mempersembahkan diri kepada Tuhan, yang secara konkret melayani atau mempersembahkan diri kepada sesamanya, dengan kata lain marilah kita saling melayani dan mempersembahkan diri. Jika kita hidup saling melayani dan mempersembahkan diri, maka percayalah kita akan menerima anugerah atau rahmat berlipat ganda atau melimpah dan kelak menerima hidup kekal, mulia selamanya di sorga bersama Tuhan dan orang-orang kudus atau suci yang telah mendahului perjalanan kita menghadap Tuhan di sorga. Kepada rekan-rekan gadis, perempuan yang belum menikah atau tidak menikah, kami harapkan setia menjaga keperawanannya, dan jangan seenaknya dijual-belikan kepada laki-laki yang kurang atau tidak bermoral.

·   "Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan." (Flp 3:8-9), demikian kesaksian iman Paulus kepada umat di Filipi, kepada kita semua, umat beriman. Hidup mesra, bersama dan bersatu dengan Tuhan memang tak ternilai, tak dapat dijelaskan dengan akal sehat, dan hanya mungkin diimani dan dihayati. Merenungkan kesaksian Paulus di atas, saya teringat akan Ibu Teresa dari Calcuta, yang meninggalkan gedung mewah beserta kemegahan dan yang ada di dalamnya, sekolah favorit, dan kemudian menyatukan diri dengan orang-orang miskin, yang kurang diperhatikan dan kurang dikasihi, yang berada di jalanan atau tumpukan sampah, yang kotor dan menjijikkan. Karena pengenalannya dengan Yesus Kristus, yang meskpun kaya telah memiskinkan Dirinya, yang miskin dan senantiasa berpihak dan bersama dengan mereka yang miskin dan kekurangan, Ibu Teresa telah menganggap sampah kemegahan dan kemewahan duniawi ini. Kita semua tahu Ibu Teresa yang masih hidup saat itupun sudah dipandang oleh banyak orang sebagai orang suci, padahal orang suci adalah orang yang telah meninggal dunia dan dinyatakan suci. Memang ibu Teresa telah meninggalkan sikap mental duniawi atau materialistis ini untuk memeluk Yang Ilahi, yang hidup dalam diri mereka yang miskin, berkekurangan dan terlantar. Kita semua kiranya dipanggil untuk meneladan Ibu Teresa, yang telah dinyatakan sebagai "Beata", Yang Berbahagia, hidup dalam kepercayaan dan kebenaran Ilahi dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari dimana pun dan kapan pun.
"Ya TUHAN, Engkaulah bagian warisanku dan pialaku, Engkau sendirilah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku. Aku memuji TUHAN, yang telah memberi nasihat kepadaku, ya, pada waktu malam hati nuraniku mengajari aku. Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah." (Mzm 16:5.7-8)
Ign 11 Agustus 2012

Kamis, 09 Agustus 2012

10 Agt


"Jika ia mati akan menghasilkan banyak buah"
(2Kor 9:6-10; Yoh 12:24-26)
" Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal. Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa" (Yoh 12:24-26), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Laurensius, diakon dan martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Terpanggil menjadi diakon berarti membantu tugas para rasul untuk melayani 'meja', artinya memperhatikan kebutuhan hidup sehari-hari umat Allah, dengan kata lain merasul dalam hal pelayanan harta benda atau seluk-beluk duniawi. Memang untuk masa kini terlibat atau mengelola harta benda duniawi sungguh butuh orang yang beriman, karena tanpa iman terlibat dalam harta benda/uang atau mengelolanya pasti akan cenderung untuk berkorupsi. Dengan kata lain semakin mendunia, berpartisipasi dalam seluk beluk duniawi harus semakin beriman. Maka dalam rangka mengenangkan St.Laurensius, diakon dan martir, hari ini saya mengajak anda sekalian untuk mawas diri dalam hal penghayatan rahmat kemartiran kita. Hemat saya mengelola atau mengurus harta benda duniawi atau seluk-beluk duniawi dengan baik dan benar pada masa kini merupakan salah satu bentuk penghayatan kemartiran yang mendesak dan up to date kita hayati dan sebarluakan pada masa kini. Mereka yang bertugas mengelola atau mengurus harta benda dan uang dengan jujur dan disiplin memang 'harus berani mati' artinya ada kemungkinan dibenci dan diamat-amati terus-menerus dengan tujuan jahat atau jelek. Di jajaran pemerintahan Indonesia masa lalu sampai kini rasanya orang jujur dan benar maupun pejuang kebenaran dan kejujuran senantiasa harus siap sedia disingkirkan, bahkan siap sedia mati. Dalam hal ini saya teringat pada tokoh Munir, dari Kontras, yang penyebab kematiannya sampai kini masih dijadikan misteri. Kasus kerusuhan bermotif agama di Pandeglang maupun Temanggung tahun lalu hemat saya merupakan usaha mematikan pejuang kebenaran dan kejujuran dalam rangka membongkar korupsi di negeri ini, dengan kata lain bukan kerusuhan agama, melainkan pembelokan perhatian rakyat dari masalah korupsi alias bermotif ekonomi atau duniawi. Begitulah sikap mental orang-orang duniawi yang seenaknya menghabisi kebenaran dan kejujuran.
·   "Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan" (2Kor 9:6-8). Kutipan di atas ini kiranya megingatkan kita semua bahwa manusia maupun harta benda pada dirinya sendiri sebenarnya bersifat sosial, maka jika kita sungguh beriman diharapkan senantiasa hidup dan bertindak sosial dimana pun dan kapan pun. Marilah kita sadari dan hayati bahwa masing-masing dari kita adalah buah atau korban gotong-royong, antara Tuhan dan orangtua, dan bapak serta ibu kita masing-masing. Ada dan pertumbuhan serta perkembangan diri kita sampai kini karena dan oleh gotong-royong, maka jika kita tidak hidup bergotong-royong atau sosial berarti kita mengingkari jati diri kita masing-masing. Karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial, maka segala jenis dan bentuk harta benda yang tercipta oleh manusia juga bersifat sosial. Maka dengan ini kami berharap kepada mereka yang kaya akan harta benda atau uang untuk hidup sosial, hendaknya jangan hanya berkelebihan dalam hal harta benda atau uang saja, tetapi juga berkelebihan dalam hal kebajikan-kebajikan. Semakin kaya akan harta benda atau uang kami harapkan juga semakin kaya akan kebajikan-kebajikan. Maklum cukup banyak orang yang kaya akan harta benda atau uang di Indonesia saat ini sering begitu teliti dan penuh dengan hitung-hitungan sehingga tumbuh berkembang ke bersikap mental bisnis alias materialistis, kurang atau tidak sosial.
"Mujur orang yang menaruh belas kasihan dan yang memberi pinjaman, yang melakukan urusannya dengan sewajarnya. Sebab ia takkan goyah untuk selama-lamanya; orang benar itu akan diingat selama-lamanya.Ia tidak takut kepada kabar celaka, hatinya tetap, penuh kepercayaan kepada TUHAN. Hatinya teguh, ia tidak takut, sehingga ia memandang rendah para lawannya." (Mzm 112:5-8)
Ign 10 Agustus 2012
   

Rabu, 08 Agustus 2012

9Agt


"Engkau bukan memikirkan apa yg dipikirkan Allah melainkan apa yg dipikirkan manusia."

(Yer 31:31-34; Mat 16:13-23)

"Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: "Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?" Jawab mereka: "Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi." Lalu Yesus bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" Kata Yesus kepadanya: "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga." Lalu Yesus melarang murid-murid-Nya supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun bahwa Ia Mesias. Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau." Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia." (Mat 16:13-23), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Sikap mental materialistis sudah begitu menjiwai banyak orang, sehingga pikirannya senantiasa terarah atau terkonsentrasikan pada hal-hal dunia atau mungkin manusiawi, namun tidak sampai pada Yang Ilahi. Sabda hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua, umat beriman, untuk senantiasa mengarahkan pikiran kepada Yang Ilahi atau Allah. Ingatlah dan sadari bahwa apa yang akan kita lakukan pada umumnya sangat tergantung pada apa yang kita pikirkan: begitu bangun pagi hari kita memikirkan apa, itulah yang akan kita lakukan sepanjang hari atau menjiwai cara hidup dan cara bertindak kita sepanjang hari. Kami berharap begitu bangun pagi pikiran diarahkan kepada Yang Ilahi atau Allah, antara lain begitu bangun segera berdoa singkat untuk berterima kasih dan bersyukur kepada Allah bahwa masih dianugerahi hidup dan kesehatan, dan dengan rendah hati mohon rahmat dan bantuan Allah agar sepanjang hari yang akan dilalui atau dijalani senantiasa hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak atau perintah Allah. Mengarahkan pikiran kepada Allah berarti senantiasa memikirkan apa yang baik, menyelamatkan dan membahagiakan, terutama keselamatan atau kebahagiaan jiwa manusia. Jika kita senantiasa memikirkan yang demikian itu, maka sepanjang hari kita pasti senantiasa melakukan apa yang baik, dan tidak pernah mengecewakan orang lain. Semoga cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari tidak menjadi batu sandungan bagi saudara-saudari kita untuk berbuat jahat.

·   " Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku" (Yer 31:33), demikian firman Tuhan melalui nabi Yeremia. Marilah firman Tuhan ini kita tanggapi dengan rendah hati dan keterbukaan. Apa yang ada dalam hati dan batin memang mempengaruhi atau menjiwai cara berpikir atau pikiran kita. Apa yang ada di dalam batin dan hati bagaikan 'akar' dalam sebuah tanaman, tidak kelihatan di permukaan, namun sangat menentukan pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang bersangkutan. Kami berharap agar batin dan hati senantiasa memperoleh perhatian yang memadai dalam aneka bentuk pendidikan atau pembinaan, entah di dalam keluarga, sekolah atau masyarakat. Salah satu usaha untuk itu antara lain rajin untuk membaca dan merenungkan apa yang tertulis di dalam Kitab Suci atau aneka tata tertib dan aturan yang terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing. Atau mungkin anda mempunyai rumusan singkat visi atau spiritualitas, baiklah jika rumusan kata-kata singkat tersebut ditulis dengan baik dan kemudian ditaruh di atas meja atau ditempel di pintu-pintu kamar kita, sehingga setiap hari dapat melihat dengan harapan juga dapat mencecap dalam-dalam visi atau spiritualitas tersebut dan kemudian menjiwai cara hidup dan cara bertindak kita. Kami percaya bahwa anda semua masing-masing memiliki motto hidup pribadi atau bersama, baiklah motto tersebut dicecap dalam-dalam.

"Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh! Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku! Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela! Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang yang melakukan pelanggaran, supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu" (Mzm 51:12-15)

Ign 9 Agustus 2012


Selasa, 07 Agustus 2012

8 Agt


"Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya."
(1Kor 2:1-10a; Luk 9:57-62)
"Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seorang di tengah jalan kepada Yesus: "Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi." Yesus berkata kepadanya: "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya." Lalu Ia berkata kepada seorang lain: "Ikutlah Aku!" Tetapi orang itu berkata: "Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku." Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana." Dan seorang lain lagi berkata: "Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku." Tetapi Yesus berkata: "Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah." (Luk 9:57-62), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Dominikus, imam, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   St Dominikus dikenal sebagai pengkotbah ulung dan mendirikan Ordo Pengkotbah. Sebagai imam pengkotbah ia tak kenal lelah keliling ke mana-mana guna mewartakan Kabar Baik, Injil, dan ia menjadi pembaharu dalam kotbah, mengingat dan memperhatikan para imam pada masanya pada umumnya berkotbah seenaknya, tidak bersumber pada Kitab Suci atau Injil. Maka dengan ini kami mengingatkan dan mengajak siapa saja yang berkotbah untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin, antara lain membaca dan merenungkan bacaan-bacaan dari Kitab Suci yang akan dibacakan serta dijadikan bahan utama dalam kotbah. Dalam berkotbah atau mewartakan Kabar Baik kita dapat meneladan atau bercermin pada Yesus sendiri, yang senantiasa menyampaikan ajaran-ajaran atau kotbah-kotbahNya dengan sederhana, antara lain dengan mengangkat pengalaman hidup sehari-hari sebagai bahana penyampaian ajaran atau kotbah-kotbahNya. Ada pepatah bahwa "orang pandai sejati dapat menyederhanakan apa yang sulir berbelit-belit sehingga dapat diketahui dan dfahami oleh semua orang, sebaliknya orang bodoh membuat apa yang sederhana dan mudah menjadi sulit berbelit-belit". Sebagai contoh: panas terjadi karena gesekan benda-benda atau zat-zat tertentu, maka ketika anggota badan kita saling bergesekan menjadi hangat (ingat orang berpelukan!). Memang dalam berkotba atau mewartakan Kabar Baik kita harus dengan jiwa besar dan hati rela berkorban untuk meninggalkan cara-caranya sendiri atau cara-cara masa lalu, sebagai warisan yang harus diperbaharui. Dengan kata lain marilah kita hidup dan bertindak sesuai dengan charisma atau spiritualitas yang telah kita peluk dan geluti.
·   "Ketika aku datang kepadamu, saudara-saudara, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu. Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan.Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar.Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh"(1Kor 2:1-4). Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus kita dipanggil untuk terus-menerus memahami dan mengenal Yesus Kristus, dan usaha untuk ini tidak lain adalah dengan membaca dan merenungkan apa yang tertulis di dalam Kitab Suci atau Injil. Memang agar kita dapat memahami dan mengimani dengan baik apa yang tertulis di dalam Kitab Suci atau Injil kita harus berusaha hidup dan bertindak dalam dan oleh Roh, karena apa yang ada di dalam Kitab Suci ditulis dalam dan oleh ilham Roh, Allah. Dan apa yang ditulis dalam ilham Roh atau Allah "memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran." (2Tim 3:16). Hidup dan bertindak dalam dan oleh Roh hemat saya berarti senantiasa hidup dan bertindak dengan rendah hati dan terbuka terhadap aneka kemungkinan, kesempatan atau perubahan. Orang senantiasa siap sedia untuk berubah, dan tentu saja berubah semakin baik, semakin suci, semakin menyerupai cara hidup dan cara bertindak Yesus Kristus. Hendaknya kita juga senantiasa siap sedia untuk diajar, menerima ajaran-ajaran baru, siap sedia diperbaiki kelakuan dan dididik dalam kebenaran.
"Marilah kita bersorak-sorai untuk TUHAN, bersorak-sorak bagi gunung batu keselamatan kita.Biarlah kita menghadap wajah-Nya dengan nyanyian syukur, bersorak-sorak bagi-Nya dengan nyanyian mazmur. Sebab TUHAN adalah Allah yang besar, dan Raja yang besar mengatasi segala allah."
 (Mzm 95:1-3)
Ign 8 Agustus 2012

Senin, 06 Agustus 2012

7Agt

"Tenanglah! Aku ini jangan takut!"
(Yer 30:1-2.12-15.18-22; Mat 14:22-36)

" Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ. Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal. Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air. Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: "Itu hantu!", lalu berteriak-teriak karena takut. Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air." Kata Yesus: "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus.Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!" Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?"Lalu mereka naik ke perahu dan angin pun redalah. Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: "Sesungguhnya Engkau Anak Allah." Setibanya di seberang mereka mendarat di Genesaret. Ketika Yesus dikenal oleh orang-orang di tempat itu, mereka memberitahukannya ke seluruh daerah itu. Maka semua orang yang sakit dibawa kepada-Nya. Mereka memohon supaya diperkenankan menjamah jumbai jubah-Nya. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh" (Mat 14:22-36), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   "Jangan takut" merupakan sabda Tuhan yang terarah kepada orang-orang yang terpilih untuk berpartisipasi dalam karya penyelamatan. Dalam kisah Warta Gembira hari ini diceriterakan para rasul yang ketakutan karena dalam perjalanan melalaui danau diombang-ambingkan oleh ombak: mereka takut perahu karam dan akhirnya semuanya tenggelam. Karena ketakutan mereka, Yesus yang datang untuk menyertai mereka pun disikapi sebagi hantu yang menakutkan. Kisah ini kiranya dapat menjadi bahan mawas diri atau permenungan kita, dimana dalam perjalanan penghayatan panggilan serta pelaksanaan tugas pengutusan kita sering menghadapi masalah, tantangan, godaan dan jebakan, yang menakutkan dan dapat menenggelamkan kita ke dalam arus kejahatan. Sebagai orang beriman, marilah kita sadari dan hayati bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita, melainkan Dia terus-menerus menyertai dan mendampingi perjalanan hidup, tugas dan panggilan kita. Maka marilah kita lihat dan hayati kehadiran dan karyaNya dalam apa yang baik, indah, luhur dan mulia di tengah-tengah kita, yang antara lain menjadi nyata dalam diri orang yang berkehendak baik. Kami percaya bahwa kita semua berkehendak baik, maka marilah saling mengkomunikasikan kehendak baik kita serta kemudian kita sinerjikan guna menghadapi aneka masalah, tantangan, hambatan dan godaan. Dalam kebersamaan dengan Tuhan maupun saudara-saudari kita yang berkehendak baik tidak ada ketakutan sedikitpun. Penakut berarti kalah sebelum perang atau berjuang, marilah kita menjadi pemberani karena Tuhan senantiasa menyertai.

·   "Sesungguhnya, Aku akan memulihkan keadaan kemah-kemah Yakub, dan akan mengasihani tempat-tempat tinggalnya, kota itu akan dibangun kembali di atas reruntuhannya, dan puri itu akan berdiri di tempatnya yang asli." (Yer 30:18), demikian Firman Tuhan melalui nabi Yeremia terhadap bangsa terpilih yang sedang berada dalam masa pembuangan. Kutipan ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita, khususnya yang sedang dalam mengalami krisis, frustrasi atau takut karena penderitaan akibat dari kelalaian para pendahulu kita. Karena kelalaian para pendahulu kita maka ada kemungkinan hidup bersama amburadul, tak nyaman dan tak sejahtera dan tak damai-tenteram. Sekali lagi marilah kita lihat dan akui saudara-saudari kita yang berkehendak baik untuk memperbaiki situasi dan kondisi kehidupan bersama, kita dengarkan kehendak baik dan niatnya serta kemudian kita menyatukan diri dengannya. Di tengah-tengah kehidupan kita bersama pasti ada orang-orang yang menghayati rahmat kenabian, sehingga dengan rendah hati dan tekun menyuarakan aneka kebenaran dan ajakan guna memperbaiki situasi dan kondisi hidup bersama. Fungsi macam itu antara lain ada dalam diri para pemuka-pemuka agama: kyai, pendeta, pastor, biksu dst.., maka marilah kita dengarkan ajaran, nasihat, petuah, kotbah dan saran mereka , serta kemudian kita hayati bersama-sama guna memperbaiki hidup bersama di tengah-tengah masyarakat. Kepada para pemuka agama kami berharap tidak jemu-jemu dan terus-menerus mengingatkan dan mengajak umatnya untuk senantiasa hidup dan bertindak baik, sesuai dengan kehendak Tuhan. Sekali lagi kami ingatkan bahwa saat ini kita berada dalam masa puasa saudara-saudari kita, umat Islam, maka marilah menyatukan diri pada mereka dalam rangka usaha memperbaiki diri, maupun situasi dan kondisi lingkungan hidup bersama.
"Biarlah hal ini dituliskan bagi angkatan yang kemudian, dan bangsa yang diciptakan nanti akan memuji-muji TUHAN, sebab Ia telah memandang dari ketinggian-Nya yang kudus, TUHAN memandang dari sorga ke bumi, untuk mendengar keluhan orang tahanan, untuk membebaskan orang-orang yang ditentukan mati dibunuh" (Mzm 102: 19-22)
Ign 7 Agustus 2012

Minggu, 05 Agustus 2012

6 Agt


"Rabi betapa bahagianya kami berada di tempat ini"
(2Pet 1:16-19; Mrk 9:2-10)
"Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendirian saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka,  dan pakaian-Nya sangat putih berkilat-kilat. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat mengelantang pakaian seperti itu.  Maka nampaklah kepada mereka Elia bersama dengan Musa, keduanya sedang berbicara dengan Yesus.  Kata Petrus kepada Yesus: "Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia." Ia berkata demikian, sebab tidak tahu apa yang harus dikatakannya, karena mereka sangat ketakutan. Maka datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara: "Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia."  Dan sekonyong-konyong waktu mereka memandang sekeliling mereka, mereka tidak melihat seorang pun lagi bersama mereka, kecuali Yesus seorang diri.  Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka, supaya mereka jangan menceriterakan kepada seorang pun apa yang telah mereka lihat itu, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati.  Mereka memegang pesan tadi sambil mempersoalkan di antara mereka apa yang dimaksud dengan "bangkit dari antara orang mati." (Mrk 9:2-10), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan "Yesus Menampakkan KemuliaanNya" hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Dalam perjalanan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita senantiasa mengalami suka dan duka, pencerahan dan kebingungan, atau dalam bahasa Latihan Rohani St.Ignatius Loyola disebut sebagai 'hiburan rohani atau kesepian rohani'. Yang terkait dengan Warta Gembira hari ini kiranya adalah 'hiburan rohani', yaitu "keadaan sewaktu dalam jiwa timbul suatu gerak batin, yang membuat jiwa jadi berkobar dalam cinta kepada Pencipta dan Tuhannya" (St.Ignatius Loyola, LR no 316). Kami percaya kita sering mengalami hiburan rohani seperti para rasul yang menerima Penampakan Yesus dalam kemuliaanNya, merasa nikmat dan nyaman sekali. Dalam keadaan demikian lalu berkaul atau menjanjikan sesuatu yang indah dan ideal. Maka Yesus mengingatkan para rasul untuk sementara merahasiakan apa yang dialami maupun yang dijanjikan sampai puncak tugas Yesus, dimana Ia harus menderita, wafat di kayu salib dan dibangkitkan dari wafatNya. Maka baiklah saya mengingatkan anda sekalian, lebih-lebih ketika sedang mengalami hiburan rohani, hendaknya jika tergerak untuk melakukan sesuatu, tidak yang muluk-muluk atau ideal, melainkan yang riel serta mungkin kita lakukan sesuai dengan kemampunan dan kesempatan yang kita miliki. Pengalaman 'hiburan rohani' pada umumnya juga terjadi dalam diri orang-orang yang baru saja 'menempuh hidup baru', sehingga menjadi suami-isteri baru, imam, bruder atau suster baru, pelajar atau pekerja baru dst.. , yang sering tergerak untuk menjanjikan sesuatu yang baik dan luar biasa. Kami harap anda tidak mengumbar janji-janji.
·   "Kami tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manusia, ketika kami memberitahukan kepadamu kuasa dan kedatangan Tuhan kita, Yesus Kristus sebagai raja, tetapi kami adalah saksi mata dari kebesaran-Nya. Kami menyaksikan, bagaimana Ia menerima kehormatan dan kemuliaan dari Allah Bapa, ketika datang kepada-Nya suara dari Yang Mahamulia, yang mengatakan: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan."(2Pet 1:16-17), demikian kesaksian iman Petrus. "Dongeng-dongeng isapan jempol"  sering kita lakukan atau dengarkan. Dongeng-dongeng macam itu pada umumnya dilakukan oleh para penjahat atau penipu. Hari-hari ini kiranya banyak dari kita telah merencanakan perjalanan untuk mudik terkait dengan hari raya Idul Fitri. Kami ingatkan sedini mungkin kepada anda yang akan menempuh perjalanan, lebih-lebih yang menggunakan kendaraan umum seperti bis, untuk hati-hati terhadap orang-orang yang tak dikenal menawari sesuatu kepada anda, misalnya minuman atau makanan (yang telah dibubuhi obat bius): pada umumnya mereka bersikap manis dan mempesona untuk melakukan kejahatannya, merampas harta orang lain secara halus. Sebarkan peringatan saya ini ke teman-teman anda yang akan melakukan perjalanan dengan kendaraan umum. Kepada kita semua kami serukan: hendaknya jangan membuat dongeng-dongeng isapan jempol yang menjerumuskan, melaikan berkatalah perihal apa yang benar atau nyata. Tunjukkan bahwa diri kita adalah orang yang baik dan benar, bukan penipu atau pembohong. Hati-hati juga kepada para penjual sesuatu yang palsu atau orang-orang yang pura-pura menolong, padahal mau mencelakakan anda.
"TUHAN adalah Raja! Biarlah bumi bersorak-sorak, biarlah banyak pulau bersukacita! Awan dan kekelaman ada sekeliling Dia, keadilan dan hukum adalah tumpuan takhta-Nya. Gunung-gunung luluh seperti lilin di hadapan TUHAN, di hadapan Tuhan seluruh bumi.Langit memberitakan keadilan-Nya, dan segala bangsa melihat kemuliaan-Nya." (Mzm 97:1-2.5-6)
Ign 6 Agustus 2012