Fans Page Facebook http://imankatolik.or.id

imankatolik.or.id on Facebook

Jumat, 10 Mei 2013

MP VII

Mg Paskah VII : Kis 7:55-60; Why 22:12-14.16-17.20; Yoh 17:20-26
"Ya Bapa, Aku mau supaya, di mana pun Aku berada, mereka juga berada
bersama-sama dengan Aku"

Orang suci yang telah hidup mulia dan berbahagia selamanya di sorga
bersama Allah senantiasa mendoakan kita semua, umat Allah, yang masih
hidup dan berjuang di dunia ini. Memang mereka yang telah hidup mulia
dan berbahagia kembali ke sorga bersama dengan  Allah akan lebih mudah
dan banyak berdoa daripada kita yang masih hidup di dunia ini, yang
kemungkinan besar jarang atau malas berdoa. Yesus yang telah naik ke
sorga juga mendoakan kita semua yang beriman kepadaNya, agar dimana
pun dan kapan pun kita senantiasa bersatu denganNya serta dengan
saudara-saudari kita yang masih hidup di dunia ini. Yesus yang telah
naik ke sorga kita imani masih hidup dan berkarya di dunia ini melalui
RohNya, sehingga kehadiran dan karyaNya tak terbatas oleh ruang dan
waktu, kapan saja dan dimana saja. Maka dimana pun dan kapan pun kita
berada dapat bersama dan bersatu denganNya, tentu saja jika kita
sungguh membuka diri terhadap kehadiran dan karyaNya melalui RohNya.
Doa Yesus bagi para muridNya kiranya juga dapat menjadi teladan bagi
kita semua untuk saling mendoakan satu sama lain sebagai saudara.
"Ya Bapa, Aku mau supaya, di mana pun Aku berada, mereka juga berada
bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku,
agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan
kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan.
Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku
mengenal Engkau, dan mereka ini tahu, bahwa Engkaulah yang telah
mengutus Aku; dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan
Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku
ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka." (Yoh 17:24-26)
Orang-orang dunia yang bersikap materialistis atau duniawi memang
jarang berdoa, karena sibuk terus-menerus memboroskan waktu dan
tenaganya untuk cari harta benda atau uang. Sebaliknya kita sebagai
orang beriman kiranya tahu bahwa berdoa merupakan kebutuhan kita agar
kita setia dalam hidup beriman. Ada pepatah 'jauh di mana dekat di
hati', yang berarti meskipun secara fisik tidak bersama-sama tetapi
saling berjauhan karena tugas dan pekerjaan orang tetap merasa dekat
dan menjadi satu dengan yang lain. Hal ini kiranya terjadi karena
orang saling mendoakan.

"Kesatuan hati dan budi" pada masa kini memang sungguh penting dan
mendesak untuk kita hayati dan sebarluaskan, mengingat banyak di
antara kita karena tugas dan pekerjaan sering harus berpisah secara
fisik untuk jangka waktu yang cukup lama. Maka marilah kita berusaha
memperdalam dan memperkembangkan kesatuan hati dan budi antar kita.
Sebagai orang beriman marilah kita usahakan kesatuan dalam iman,
harapan dan cintakasih, tiga keutaman penting dan utama dalam
kehidupan bersama. Dan sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus
marilah kita hayati kesatuan dalam Roh Kudus, yang berarti
masing-masing dari kita senantiasa berusaha membuka diri atas bisikan
dan dorongan Roh Kudus serta menanggapinya dalam perilaku atau
tindakan, dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimana
pun dan kapan pun.

Para suami-isteri yang telah saling bernjanji untuk sehidup semati
saling mengasihi, yang telah mengusahakan dan menghayati kesatuan
hati, jiwa, akal budi dan tubuh, kami harapkan dapat menjadi teladan
dalam kesatuan dalam Roh, kesatuan budi dan hati bagi anak-anaknya,
sehingga anak-anak memiliki pengalaman mendalam akan kesatuan hati dan
budi. Kami percaya ketika anak-anak di dalam keluarga memiliki
pengalaman penghayatan kesatuan hati dan budi, maka kelak dalam
perkembangan dan pertumbuhannya, dalam pergaulan yang lebih luas
mereka akan senantiasa mengusahakan kesatuan hati dan budi kepada
teman-temannya.

Sebagai warganegara Indonesia marilah kita hayati apa yang telah
diusahakan oleh para pendahulu kita, para pejuang dan bapak bangsa:
satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa. Kita tegakkan penghayatan
Pancasila, dasar Negara kita, maka marilah kita perangi dan lawan
segala usaha yang mencoba merongrong dan melemahkan Pancasila sebagai
dasar Negara kita yang tercinta ini. Aneka perbedaan antar kita
hendaknya menjadi daya tarik, daya pesona dan penggerak bagi kita
semua untuk saling mengenal, mendekat dan bersahabat. Ingat secara
ilahi kita imani bahwa laki-laki dan perempuan berbeda satu sama lain
tetapi saling tertarik untuk saling mendekat dan bersatu. Dengan kata
lain karena perbedaan tidak mengusahakan kesatuan dan persaudaraan
sejati, hemat saya melawan kehendak ilahi.
"Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu
melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Lalu
katanya: "Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri
di sebelah kanan Allah." (Kis 7:55-56).

Stefanus yang berada dalam penderitaan dan ancaman untuk dibunuh,
karena penuh Roh Kudus, ia melihat kemuliaan Allah. Pengalaman iman
Stefanus ini kiranya dapat menjadi pelajaran bagi kita semua, maka
marilah dengan rendah hati kita berusaha meneladan semangat hidup
Stefanus. Memang kita kiranya secara konkret tidak mengalami apa yang
dialami Stefanus, yaitu dalam ancaman untuk dibunuh, namun kami
percaya bahwa kita sering merasa dalam keadaan tersingkir, menderita,
kurang diperhatikan dst.. Baiklah jika kita sungguh beriman marilah
kita sadari dan hayati bahwa Allah senantiasa memperhatikan dan
mendampingi atau menyertai kita.

Kita hadapi aneka derita dengan penuh kesabaran dan lembah lembut,
sebagai tanda bahwa Allah beserta kita. Maka hendaknya jangan
melupakan Allah ketika berada dalam penderitaan, melainkan berdoalah
untuk menjalin relasi akrab dan mesra dengan Allah. Penderitaan fisik
hendaknya menjadikan hati, jiwa dan akal budi kita semakin sabar dan
lembut, sehingga dalam penderitaan kita semakin setia kepada Allah.
Ketika ada orang yang membuat kita menderita atau menemui kesulitan
dan tantangan hendaknya kita meneladan Stefanus dengan berdoa :
"Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka", dengan kata
lain ampunilah orang yang telah menyakiti atau melukai kita. Marilah
kita ingat dan hayati kata-kata dalam doa Bapa Kami yang sering kita
doakan yaitu "ampunilah kami seperti kami telah mengampuni mereka yang
bersalah kepada kami".

"Aku, Yesus, telah mengutus malaikat-Ku untuk memberi kesaksian
tentang semuanya ini kepadamu bagi jemaat-jemaat. Aku adalah tunas,
yaitu keturunan Daud, bintang timur yang gilang-gemilang." Roh dan
pengantin perempuan itu berkata: "Marilah!" Dan barangsiapa yang
mendengarnya, hendaklah ia berkata: "Marilah!" Dan barangsiapa yang
haus, hendaklah ia datang, dan barangsiapa yang mau, hendaklah ia
mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma!" (Why 22:16-17). Kutipan
dari kitab Wahyu di atas ini kiranya dapat menjadi inspirasi bagi kita
semua dalam kehidupan bersama, yaitu keterbukaan diri untuk didatangi
siapapun, lebih-lebih mereka yang mendambakan 'air kehidupan'. Tentu
saja hal ini secara konkret perlu dihayati oleh para pemimpin agama
atau gembala umat yang diharapkan dapat memberi 'air kehidupan' bagi
mereka yang membutuhkan. Apa yang dimaksudkan dengan 'air kehidupan'
antara lain adalah kata-kata, nasihat atau pesan atau saran yang
menggairahkan dan menghidupkan. Semoga para pemimpin agama atau
gembala umat dapat menjadi penyalur 'air kehidupan' dengan cuma-cuma
bagi umat Allah.

"TUHAN adalah Raja! Biarlah bumi bersorak-sorak, biarlah banyak pulau
bersukacita!Awan dan kekelaman ada sekeliling Dia, keadilan dan hukum
adalah tumpuan takhta-Nya."
 (Mzm 97:1-2)
Ign 12 Mei 2013

11Mei

"Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa akan
diberikan-Nya kepadamu dalam namaKu."
(Kis 18:23-28; Yoh 16:23b-28)
"Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta
kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku. Sampai
sekarang kamu belum meminta sesuatu pun dalam nama-Ku. Mintalah maka
kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu. Semuanya ini Kukatakan
kepadamu dengan kiasan. Akan tiba saatnya Aku tidak lagi berkata-kata
kepadamu dengan kiasan, tetapi terus terang memberitakan Bapa
kepadamu. Pada hari itu kamu akan berdoa dalam nama-Ku. Dan tidak Aku
katakan kepadamu, bahwa Aku meminta bagimu kepada Bapa, sebab Bapa
sendiri mengasihi kamu, karena kamu telah mengasihi Aku dan percaya,
bahwa Aku datang dari Allah. Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke
dalam dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa." (Yoh
16:23b-28) , demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan
sederhana sebagai berikut:
•       Dalam kehidupan kita sehari-hari kiranya setiap hari kita tak akan
terlepas dari tindakan meminta atau memohon, entah kepada
saudara-saudari kita maupun kepada Tuhan melalui doa. Kita kiranya
juga memiliki dambaan, harapan atau impian dengan harapan segera
menjadi kenyataan atau terwujud. Sabda hari ini mengingatkan dan
mengajak kita semua agar dalam mengajukan permohonan atau memiliki
dambaan, harapan dan impian dalam Tuhan atas nama Tuhan, karena dengan
demikian pasti akan dikabulkan atau terwujud. Dalam nama atau atas
nama Tuhan berarti apa-apa yang baik, bermoral dan berbudi pekerti
luhur, yang menyelamatkan dan membahagiakan, terutama demi kebahagiaan
dan keselamatan jiwa manusia. Dengan kata lain hendaknya memiliki
dambaan, harapan atau impian untuk memiliki keutamaan-keutamaan atau
nilai-nilai kehidupan, misalnya buah-buah Roh seperti "kasih,
sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,
kelemahlembutan, penguasaan diri." (Gal 5:22-23). Memang untuk
mewujudkan buah-buah Roh ini selainkan mengandalkan karunia atau
rahmat Tuhan juga mengandalkan kerja keras dan perjuangan kita alias
pembaktian diri kita untuk mengusahakan buah-buah Roh tersebut.
Percayalah dan imanilah jika kita mengusahakan dengan keras dan tekun
buah-buah Roh tersebut pasti akan didukung oleh Tuhan melalui sekian
banyak orang yang membantu dan mendukung kita, karena di dunia ini
orang berkehendak baik lebih banyak daripada yang berkehendak jahat.
Maka milikilah hati yang tulus dan jujur untuk berkendak dan melakukan
apa yang baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur serta kebiasaan
berdoa kepada Tuhan. Marilah kita sadari dan hayati bahwa Tuhan
senantiasa mengasihi kita, tidak pernah meninggalkan kita, melainkan
senantiasa menyertai dan mendampingi hidup dan perjalanan pelaksanaan
tugas dan kewajiban kita.
•       "Setibanya di Akhaya maka ia, oleh kasih karunia Allah, menjadi
seorang yang sangat berguna bagi orang-orang yang percaya. Sebab
dengan tak jemu-jemunya ia membantah orang-orang Yahudi di muka umum
dan membuktikan dari Kitab Suci bahwa Yesus adalah Mesias." (Kis
18:27b-28), demikian berita perihal apa yang dilakukan oleh Apolos.
Pengalaman Apolos ini kiranya dapat menjadi teladan atau inspirasi
bagi kita semua umat beriman dalam rangka menghayati iman dalam hidup
sehari-hari alias mewartakan kebenaran-kebenaran sebagaimana
dianugerahkan oleh Tuhan. Hendaknya setia mengandalkan diri pada kasih
karunia Allah dalam menghayati iman dalam hidup sehari-hari. Pada masa
kini dimana cukup banyak orang bersikap mental materialistis atau
duniawi kiranya menjadi saksi iman atau setia menghayati iman dalam
hidup sehari-hari akan mengalami penderitaan atau menghadapi aneka
tantangan dan masalah. Meskipun demikian kami berharap kepada anda
sekalian untuk tetap setia dan tegar dalam menghayati iman, karena
kasih karunia Allah menyertai kita, dan dengan demikian bersama dan
bersatu dengan Allah kita akan mampu mengatasi aneka tantangan,
hambatan, masalah serta penderitaan. Semua tantangan dan hambatan
dalam penghayatan iman berasal dari setan atau roh jahat, dan bersama
dan bersatu dengan Allah kita dapat mengatasi atau mengalahkan godaan
atau rayuan setan. Sebaliknya kepada mereka yang menentang penghayatan
iman atau melarang dalam dan dengan semangat iman hidup bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara kami harapkan bertobat. Secara konkret para
koruptor dalam bentuk apapun untuk segera mengakhiri tindakannya jika
mendambakan kebahagiaan atau kesejahteraan sejati.
"Allah adalah Raja seluruh bumi, bermazmurlah dengan nyanyian
pengajaran! Allah memerintah sebagai raja atas bangsa-bangsa, Allah
bersemayam di atas takhta-Nya yang kudus. Para pemuka bangsa-bangsa
berkumpul sebagai umat Allah Abraham. Sebab Allah yang empunya
perisai-perisai bumi; Ia sangat dimuliakan" (Mzm 47:8-10)
Ign 11 Mei 2013

Fwd: 10Mei

"Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan"
(Kis 18:9-18; Yoh 16:20-23a)
"Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap,
tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu
akan berubah menjadi sukacita. Seorang perempuan berdukacita pada saat
ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat
lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia
telah dilahirkan ke dunia. Demikian juga kamu sekarang diliputi
dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira
dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari
padamu. Dan pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa
kepada-Ku" (Yoh 16:20-23a), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan
sederhana sebagai berikut:
•       Rekan-rekan perempuan yang pernah mengandung serta melahirkan anak
pertama kiranya dapat dengan mudah merenungkan atau merefleksikan
bacaan hari ini. Saya berkali-kali telah mendengarkan kisah bagaimana
seorang ibu menceriterakan pengalaman pertama melahirkan anaknya.
Konon sungguh menakutkan dan penuh kekhawatiran ketika akan melahirkan
anaknya, dan pada saat sedang melahirkan pun disertai penderitaan dan
pengorbanan. Namun penderitaan dan pengorbanan tersebut hanya sesaat
saja jika dibandingkan dengan kegembiraan ketika anak lahir dengan
selamat, dan apalagi bayi yang dilahirkan sungguh sehat dan mempesona.
Yesus menggambarkan kesetiaan iman kepadaNya bagaikan pengalaman
seorang perempuan yang sedang melahirkan: "Seorang perempuan
berdukacita pada saat melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan
anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan
bahwa seorang anak manusia dilahirkan di dunia". Yang dimaksudkan
dengan perumpamaan ini kiranya adalah bahwa keutamaan-keutamaan atau
nilai-nilai kehidupan yang menyelamatkan dan membahagiakan jiwa
manusia lahir dari penderitaan dan perjuangan sebagai konsekwensi
kesetiaan hidup beriman, pada panggilan dan tugas pengutusan. Buah Roh
seperti sabar lahir ketika orang setia menunggu, buah Roh rendah hati
lahir ketika orang diejek dan direndahkan menerima apa adanya tanpa
melawan, buah Roh saleh lahir ketika orang tekun melaksanakan tugas
meskipun untuk itu harus bekerja keras, dst.. Maka dengan ini kami
berharap kepada para orangtua untuk tidak memanjakan anak-anaknya,
melainkan didiklah untuk berani berjuang dan bekerja keras sedini
mungkin sesuai dengan kemampuan dan kemungkinan. Kepada para guru atau
pendidik di sekolah-sekolah kami harapkan mendidik dan membina peserta
didik sesuai dengan motto yang dicanangkan UNESCO dalam memasuki
millennium ketiga, yaitu: learning to be, learning to learn, learning
to do, learning to live together.
•       "Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam! Sebab
Aku menyertai engkau dan tidak ada seorang pun yang akan menjamah dan
menganiaya engkau, sebab banyak umat-Ku di kota ini." (Kis 18:9-10),
demikian firman Tuhan kepada Paulus. Pesan 'jangan takut' dari Tuhan
senantiasa disampaikan kepada orang-orang pilihanNya dalam rangka
mewartakan kabar baik atau firman Tuhan alias senantiasa melakukan apa
yang baik dan benar. Kami percaya di dunia ini orang baik lebih banyak
daripada orang jahat, maka janganlah takut melaksanakan tugas
pengutusan dari Tuhan apa pun, meskipun diutus ke tempat atau
pekerjaan sulit dan berat. Selama bertugas di kantor KWI sebagai
Sekretaris MNPK/Komdik KWI saya memiliki pengalaman pergi dan bertugas
sendirian ke luar negeri untuk rapat-rapat atau lokakarya, dimana
bahasa Negara yang saya tuju tak saya ketahui. Misalnya di Beirut saya
diberitahu bahwa kedatangan di bandara akan dijemput oleh sopir yang
hanya dapat berbicara dengan bahasa Arab, demikian pegawai imigrasi.
Maka saat ini kami gunakan bahasa tubuh, yaitu dengan gerakan anggota
tubuh kita. Kami berharap kepada segenap umat beriman untuk mewartakan
kabar baik atau firman Tuhan pertama-tama dan terutama dengan dan
melalui bahasa tubuh alias dalam dan melalui tindakan atau perilaku.
Dimana dimungkinkan mewartakan kabar baik atau firman Tuhan melalui
kata-kata atau omongan, hendaknya disampaikan dengan rendah hati dan
lemah lembut. Ketika anda sebagai pewarta kabar baik atau firman Tuhan
harus menghadapi aneka ejekan dan pelecehan, hendaknya disikapi dengan
rendah hati dan lemah lembut, seraya bersyukur bahwa boleh
berpartisipasi dalam penderitaan Yesus. Atau ketika menghadapi
kesulitan dan tantangan, tataplah Yesus yang tergantung di kayu salib.
"Hai segala bangsa, bertepuktanganlah, elu-elukanlah Allah dengan
sorak-sorai! Sebab TUHAN, Yang Mahatinggi, adalah dahsyat, Raja yang
besar atas seluruh bumi.Ia menaklukkan bangsa-bangsa ke bawah kuasa
kita, suku-suku bangsa ke bawah kaki kita,Ia memilih bagi kita tanah
pusaka kita, kebanggaan Yakub yang dikasihi-Nya." (Mzm 47:2-5)
Ign 10 Mei 2013

HR Kenaikan




HR Kenaikan Yesus: Kis 1:1-11; Ef 1:17-23; Luk 24:26-43
"Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu
harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan
kekuasaan dari tempat tinggi."
Acara perpisahan sering diadakan bersama di tempat kerja atau tugas
atau tinggal kita masing-masing. Di sekolah-sekolah atau perguruan
tinggi acara perpisahan dapat terjadi karena pelepasan lulusan dari
sekolah atau perguruan tinggi yang bersangkutan atau pergantian
pimpinan atau guru/dosen. Di tempat kerja antara lain dalam acara
pelepasan pensiunan atau pergantian pimpinan, sedang dalam masyarakat
dapat terjadi dengan pergantian pimpinan. Dalam perpisahan ini pada
umumnya yang akan pergi memberi evaluasi, refleksi atau pesan kepada
yang ditinggalkan dan apa yang disampaikan pada umumnya didengarkan
dan diusahakan untuk ditindak-lanjuti dalam program kegiatan yang akan
datang. Hari ini kita kenangkan Yesus naik ke sorga, meninggalkan para
murid serta memberi pesan kepada para murid, kepada kita semua yang
beriman kepadaNya. Maka marilah pesan tersebut kita renungkan atau
refleksikan.
"Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu
harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan
kekuasaan dari tempat tinggi." (Luk 24:49).
Mulai besok diselenggarkan Novena Roh Kudus sampai dengan Hari Raya
Pentakosta, kenangan akan anugerah atau kedatangan Roh Kudus kepada
umat yang percaya kepada Yesus Kristus. Novena Roh Kudus ini kiranya
merupakan perwujudan iman akan sabda Yesus :"Kamu harus tinggal di
dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat
tinggi". Maka dengan ini kami berharap kepada segenap umat yang
percaya kepada Yesus Kristus untuk berpartisipasi dalam Novena Roh
Kudus yang diselenggarakan di gereja-gereja atau kapel-kapel. Dalam
berpartisipasi dalam kegiatan Novena Roh Kudus diharapkan ada
keterbukaan hati, budi, jiwa kita agar kita siap sedia menerima
anugerah-anugerah Roh Kudus.  Ada tujuh anugerah atau karunia Roh
Kudus, yaitu : Roh Hikmat, Roh Pengertian, Roh Nasihat, Roh
Keperkasaan, Roh Pengenalan akan Allah, Roh Kesalehan, Roh Takut akan
Tuhan (lih Puji Syukur no 93). Maka sebelum kita menerima karunia
tersebut, baiklah kita mempersiapkan diri dengan baik.
Salah satu cara mempersiapkan diri agar layak menerima karunia Roh
Kudus antara lain adalah hidup dan bertindak tidak dengan semangat
materialistis atau duniawi, melainkan senantiasa mengusahakan
nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan hidup yang menyelamatkan jiwa.
Maka kami berharap sekali lagi kepada para orangtua untuk dengan tekun
dan setia mendidik dan membina anak-anaknya tidak bersikap mental
materialistis, dan tentu saja anda sebagai orangtua dapat menjadi
teladan atau inspirator. Sekiranya anda tidak mungkin berpartisipasi
dalam Novena Roh Kudus, baiklah entah di dalam keluarga atau pribadi
berdoa kepada Roh Kudus, dan doa itu kiranya dapat ditemukan di dalam
Puji Syukur atau Madah Bakti atau buku-buku doa lainnya.
Perkenankan dari tujuh karunia Roh Kudus di atas secara sederhana saya
mencoba menjelaskan dua karunia yang hemat saya penting masa kini,
yaitu Kesalehan dan Takut akan Allah, yang hemat saya bagaikan mata
uang bermuka dua, dapat dibedakan tetapi tak dapat dipisahkan. Saleh
dalam bahasa Jawa adalah sumeleh, yang berarti orang sungguh pasrah
pada situasi dan kondisi atau Penyelenggaraan Ilahi, sehingga berusaha
dengan rendah hati untuk menemukan dan mengimani kehadiran Allah dalam
hidup sehari-hari dalam dan melalui ciptaan-ciptaanNya, entah dalam
diri manusia, binatang maupun tanaman atau tumbuh-tumbuhan. "Allah
tinggal dalam ciptaan-ciptaanNya, dalam unsur-unsur, memberi 'ada'nya,
dalam tumbuh-tumbuhan, memberi daya tumbuh, dalam binatang-binatang,
daya rasa, dalam manusia, memberi pikiran, jadi Allah juga tinggal
dalam aku, memberi aku ada, hidup, berdaya rasa dan berpikiran" (St
Ignatius Loyola, LR no 235).
Memang pertama-tama dan terutama marilah kita imani dan hayati
kehadiran dan karya Allah dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini,
sehingga kita juga akan menjadi orang yang takut akan Allah. Dengan
kata lain marilah kita senantiasa hidup dan bertindak sesuai dengan
kehendak dan perintah Allah kapan pun dan dimana pun serta dalam
kondisi dan situasi apapun. Kita semua diharapkan dapat menemukan
Allah dalam segala sesuatu atau menghayati segala sesuatu dalam Allah.
        "Supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti
pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya
kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus, dan
betapa hebat kuasa-Nya bagi kita yang percaya, sesuai dengan kekuatan
kuasa-Nya, yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan
Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di
sorga, jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan
kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut, bukan
hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang. Dan
segala sesuatu telah diletakkan-Nya di bawah kaki Kristus dan Dia
telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang
ada.Jemaat yang adalah tubuh-Nya, yaitu kepenuhan Dia, yang memenuhi
semua dan segala sesuatu" (Ef 1:18-23).
Kutipan di atas ini cukup panjang dan memang sulit untuk diputus, maka
saya kutip apa adanya. Paulus mengingatkan umat di Efesus agar mereka
mengimani dan menghayati bahwa Allah hidup dan berkarya di dalam diri
mereka. Efesus adalah kota pelabuhan masa itu, sebagaimana kita dapat
lihat dan perhatikan bahwa kehidupan warga di daerah pelabuhan pada
umumnya diwaranai persaingan demi keberhasilan usaha bisnis dan
pendapatan/hasil, dengan kata lain suasana bisnis dan mencari
keuntungan pribadi alias sikap mental materialistis dan egois sungguh
mendominasi kehidupan bersama.
Sebagai orang beriman kita semua dipanggil untuk mengimani dan
menghayati bahwa Allah hadir dan berkarya dalam segala sesuatu agar
segala sesuatu, dan tentu saja terutama manusia 'takluk' kepadaNya,
sehingga terciptalah persaudaraan atau persahabatan sejati. Di sekitar
pelabuhan pada umumnya juga tumbuh dan berkembang tindakan amoral,
misalnya pelacuran. Maklum para awak kapal atau pelaut telah sekian
lama terapung-apung dalam perahu di tengah lautan luas, yang pada
umumnya adalah laki-laki semuanya. Begitu perahu merapat di pelabuhan
mereka langsung berusaha mencari hiburan, entah minum-minum atau ke
pelacuran guna memenuhi kehausan kenikmatan seksualnya. Dengan kata
lain terjadi komersialisasi manusia, manusia bagaikan binatang saja.
Kenangan akan Kenaikan Yesus ke sorga mengajak dan mengingatkan kita
semua agar hidup dan bertindak tidak sekedar mencari pemuasan nafsu
saja, entah nafsu makan dan minum maupun seksual. Manusia adalah
gambar atau citra Allah, maka hendaknya relasi antar manusia saling
menghormati dan menghargai, tidak melecehkan atau merendahkan harkat
martabat manusia. Kepada mereka yang memiliki tugas pelayanan di
daerah pelabuhan maupun bagi para pelaut, kami harapkan bekerja giat
dan kerja keras mengingatkan bahwa manusia adalah gambar atau citra
Allah, jangan ada seorangpun melecehkan harkat martabat manusia.
Marilah kita ingat, sadari dan hayati bahwa kita harus hidup dan
bertindak saling mengasihi satu sama lain, kapan pun dan dimana pun.
"Allah telah naik dengan diiringi sorak-sorai, ya TUHAN itu, dengan
diiringi bunyi sangkakala. Bermazmurlah bagi Allah, bermazmurlah,
bermazmurlah bagi Raja kita, bermazmurlah! Sebab Allah adalah Raja
seluruh bumi, bermazmurlah dengan nyanyian pengajaran! Allah
memerintah sebagai raja atas bangsa-bangsa, Allah bersemayam di atas
takhta-Nya yang kudus"
(Mzm 47:6-9)
Ign 9 Mei 2013

8Mei.

"Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran"
(Kis 17:15.22-18:1; Yoh 16:12-15)
" Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu
belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh
Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia
tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu
yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan
memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan
Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari
pada-Ku. Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu
Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari
pada-Ku" (Yoh 16:12-15),demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan
sederhana sebagai berikut:
•       Hidup dalam kebenaran berarti hidup baik, bermoral dan berbudi
pekerti luhur, sehingga apapun yang dikatakan dan dilakukan senantiasa
membahagiakan dan menyelamatkan jiwa, entah jiwanya sendiri maupun
jiwa orang lain. Secara manusia kita semua kiranya akan lebih tergerak
untuk berkata atau bertindak hanya mengikuti selera atau keinginan
pribadi, untuk memuaskan diri tanpa memperhatikan kepentingan orang
lain alias cenderung tunbuh berkembang menjadi pribadi yang egois,
sebagaimana terjadi di lingkungan generasi muda masa kini karena
pengaruh sarana genital seperti HP atau internet, IPad dst.. Sabda
perpisahan hari ini mengingatkan kita semua bahwa kepada kita yang
beriman kepada Yesus Kristus dijanjikan Roh Kudus, Roh Kebenaran yang
akan memimpin kita ke kebenaran. Maka dari pihak kita diharapkan
kesiapsediaan dan keterbukaan untuk menerima anugerah Roh Kudus
tersebut. Untuk itu baiklah saya mengajak dan mengingatkan anda
sekalian agar siap sedia menerima anugerah Roh Kudus, membiasakan diri
untuk taat setia pada aneka tatanan dan aturan yang terkait dengan
hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing. Jika kita
terbiasa dituntun dan dibimbing oleh aturan dan tata tertib, maka kita
akan lebih mudah untuk menerima anugerah Roh Kudus yang  akan memimpin
kita ke kebenaran sejati. Kita hendaknya juga dengan rendah hati suka
mendengarkan kata-kata atau cerita orang lain atau teman kita, karena
dengan demikian berarti  juga ada kesiapsediaan dalam diri kita untuk
menerima anugerah Roh Kudus. Dengan kata lain marilah kita perdalam
keutamaan mendengarkan bagi kita semua. Secara khusus kami ingatkan
kepada para orangtua agar tidak memanjakan anak-anaknya dengan sarana
genital seperti HP, Ipad, dst.., yang mendorong anak tumbuh berkembang
menjadi egois dan kurang peka terhadap orang lain, sehingga juga
kurang peka akan bisikan Roh Kudus, dan tentu saja para orangtua dapat
menjadi teladan tidak terkuasai oleh HP, IPad dst..
•       "Karena kita berasal dari keturunan Allah, kita tidak boleh
berpikir, bahwa keadaan ilahi sama seperti emas atau perak atau batu,
ciptaan kesenian dan keahlian manusia. Dengan tidak memandang lagi
zaman kebodohan, maka sekarang Allah memberitakan kepada manusia,
bahwa di mana-mana semua mereka harus bertobat" (Kis 17:29-30).
Kutipan di atas ini kiranya mengingatkan kita semua agar tidak
bersikap mental materialistis atau duniawi, selama hidup di dunia ini
hanya bekerja keras demi 'emas, perak atau batu'  alias harta
benda/uang, kedudukan/jabatan duniawi dan kehormatan duniawi. Dengan
kata lain kepada mereka yang masih bersikap mental materialistis atau
duniawi kami harapkan segera bertobat. Kepada para orangtua kami
harapkan mewariskan nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan manusiawi
kepada anak-anaknya bukan harta benda atau uang. Dengan kata lain
hendaknya anak-anak dididik dan dibina agar tumbuh berkembang menjadi
pribadi yang baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur. Mereka yang
bekarya dalam pelayanan pendidikan atau sekolah kami harapkan lebih
mengutamakan usaha agar para peserta didik tumbuh berkembang menjadi
pribadi yang baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur, bukan nilai
ujian sebagaimana menjadi idaman banyak orang masa kini, yang akhirnya
diusahakan dengan tidak bermoral, entah dengan mark-up nilai atau
menyontek dalam ulangan dan ujian. Kami juga berharap kepada siapapun
yang bekerja dalam jajaran Departemen Pendidikan dan Departemen Agama
tidak melakukan korupsi dalam bentuk apapun. Maklum dan sungguh
memprihatinkan bahwa masa kini mereka yang ada di jajaran dua
departemen ini, yang seharusnya membina warganegara menjadi
warganegara yang baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur, tetapi
dalam kenyataan saat ini justru merusak moral warganegara. Semoga para
pemuka dan tokoh agama berani mengingatkan umatnya untuk tidak
melakukan korupsi sedikitpun.
"Haleluya! Pujilah TUHAN di sorga, pujilah Dia di tempat tinggi!
Pujilah Dia, hai segala malaikat-Nya, pujilah Dia, hai segala
tentara-Nya!" (Mzm 148:1-2)
Ign 8 Mei 2013

7Mei

"Adalah lebih berguna bagi kamu jika Aku pergi."
(Kis 16:22-34; Yoh 16:5-11)
"Tetapi sekarang Aku pergi kepada Dia yang telah mengutus Aku, dan
tiada seorang pun di antara kamu yang bertanya kepada-Ku: Ke mana
Engkau pergi? Tetapi karena Aku mengatakan hal itu kepadamu, sebab itu
hatimu berdukacita. Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah
lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak
pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku
pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu. Dan kalau Ia datang, Ia akan
menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; akan dosa,
karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; akan kebenaran, karena
Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi;akan
penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum" (Yoh 16:5-11),
demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan
sederhana sebagai berikut:
•       Dua hari lagi kita kenangkan pesta Kanaikan Yesus ke sorga, yang
berarti akan meninggalkan para rasul dan para murid semuanya, yang
selanjutnya mempercayakan tugas pengutusanNya kepada para rasul atau
para muridnya. "Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab
jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu,
tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu", demikian
pesan atau sabda Yesus. Sabda ini hendaknya direnungkan dan
direfleksikan oleh siapapun yang akan mengundurkan diri dari tugas
perutusan, entah karena harus pindah tugas atau pensiun. Kepada mereka
yang akan pindah tugas atau pensiun kami harapkan dengan jiwa besar
dan kerelaan untuk meninggalkan tugas pengutusan atau pekerjaannya,
sebaliknya kepada mereka yang menerima tugas untuk melanjutkan karya
dan pekerjaannya hendaknya dengan rendah hati dan kerelaan untuk
berjuang menerimanya. Sebagai yang harus melanjutkan tugas pengutusan
atau pekerjaan kita semua diingatkan untuk 'menginsyafkan dunia' alias
hidup dan bertindak untuk menyelamatkan dunia, mengingat dan
memperhatikan ada atau banyak umat manusia di dunia dalam keadaan
tidak selamat. Kita orang beriman dipanggil untuk menyadarkan atau
menginsyafkan saudara-saudari kita akan panggilan dan tugas pengutusan
utamanya, tidak menyeleweng atau berselingkuh. Memang penyelewengan
atau perselingkuhan lebih enak daripada tugas dan panggilan utama,
namun hanya bersifat sementara saja, maka mereka yang suka menyeleweng
atau berselingkuh kami harapkan segera bertobat.
•       "Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat,
engkau dan seisi rumahmu." (Kis 16:31), demikian kata Paulus kepada
para penjaga  penjara yang ketakutan. Kata-kata Paulus ini kiranya
baik menjadi permenungan atau refleksi bagi siapapun yang saat ini
merasa takut atau khawatir perihal hidup maupun masa depannya. Memang
situasi masa kini sering membuat generasi muda merasa takut dan
khawatir, lebih-lebih perihal pekerjaan yang mendatangkan imbal jasa
untuk hidup sejahtera di masa depan. Saat ini kiranya juga muncul
ketakutan atau kekhawatiran perihal penerimaan siswa atau mahasiswa,
apakah lamaran untuk belajar di sekolah atau perguruan tinggi yang
didambakan dapat dikabulkan. Sebagai orang beriman kita semua
diharapkan mempercayakan masa depan kita kepada Tuhan alias  percaya
kepada Penyelenggaraan Ilahi. Maka mulailah mengerjakan segala sesuatu
dalam Tuhan dan sesuai dengan tugas pengutusan yang dibebankan Tuhan
kepada kita melalui atasan atau pemimpin kita. Kemudian percayalah
bahwa jika Tuhan mengutus juga akan menyelesaikan tugas pengutusan
melalui diri kita, tentu saja selama melaksanakan tugas pengutusan
kita senantiasa bersama dan bersatu dengan Tuhan. Kita semua
mendambakan seluruh anggota keluarga dan isi rumah kita selamat, maka
hendaknya disadari dan dihayati kehadiran dan karya Tuhan melalui
keluarga atau rumah kita. Untuk itu hendaknya jangan melupakan doa
bersama di dalam keluarga atau rumah anda masing-masing setiap hari.
Percayakan semuanya kepada Penyelenggaraan Ilahi, karena dengan
demikian semuanya akan berjalan baik dan selamat. Hendaknya tidak ada
seorang pun di dalam keluarga hidup dan bertindak seenaknya sendiri,
mengikuti selera pribadi atau keinginan pribadi saja.
"Aku hendak bersyukur kepada-Mu dengan segenap hatiku, di hadapan para
allah aku akan bermazmur bagi-Mu.Aku hendak sujud ke arah bait-Mu yang
kudus dan memuji nama-Mu, oleh karena kasih-Mu dan oleh karena
setia-Mu; sebab Kaubuat nama-Mu dan janji-Mu melebihi segala sesuatu.
Pada hari aku berseru, Engkau pun menjawab aku, Engkau menambahkan
kekuatan dalam jiwaku."
(Mzm 138:1-3)
Ign 7 Mei 2013

6Mei

"Kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan Aku."
(Kis 16:11-15; Yoh 15:26-16:4a)
"Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh
Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. Tetapi
kamu juga harus bersaksi, karena kamu dari semula bersama-sama dengan
Aku." "Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan
menolak Aku. Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa
setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti
bagi Allah. Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal
baik Bapa maupun Aku. Tetapi semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya
apabila datang saatnya kamu ingat, bahwa Aku telah mengatakannya
kepadamu."(Yoh 15:26-16:4a), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan
sederhana sebagai berikut:
•       Hidup beriman berarti membaktikan diri sepenuhnya kepada Tuhan,
sehingga kapan pun dan dimana pun senantiasa hidup dan bertindak
bersama dan bersatu dengan Tuhan. Sabda Yesus hari ini mengingatkan
dan mengajak kita semua agar kita tidak takut memberi kesaksian
kesatuan dan kebersamaan kita dengan Tuhan. Kesaksian merupakan cara
pewartaan utama dan pertama bagi kita semua yang mendambakan
mewartakan iman kepercayaan kita pada Tuhan kepada orang lain, bukan
kata-kata atau omongan. Pengalaman menunjukkan bahwa banyak orang
semakin beriman, semakin membaktikan diri kepada Tuhan, karena melihat
orang yang sungguh menghayati imannya dalam cara hidup dan cara
bertindak. Kami berharap kepada para orangtua dapat menjadi teladan
hidup beriman bagi anak-anaknya, dan tentu saja juga mendidik dan
membina anak-anak untuk menjadi saksi iman bagi teman-temannya. Kepada
kita semua kami harapkan sungguh menjadi saksi iman serta lebih
melihat kesaksian iman orang lain alias kebaikan dan keunggulannya
dari pada kejahatan dan kelemahannya. Marilah kita ingat peringatan
Yakobus bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati. Semoga kita semua
dalam dan dengan semangat iman hidup bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara, sehingga kehidupan bersama sebagai warganegara atau warga
masyarakat dalam keadaan damai sejahtera, selamat dan bahagia,
sebagaima kita dambakan. Cara hidup dan cara bertindak kita hendaknya
menjadi penghiburan bagi orang lain, sepak terjang dan gerak-gerik
kita dimana pun dan kapan pun senantiasa membahagiakan dan menghibur
orang lain, sehingga mereka semakin bergairah dalam hidup beriman.
•       "Seorang dari perempuan-perempuan itu yang bernama Lidia turut
mendengarkan. Ia seorang penjual kain ungu dari kota Tiatira, yang
beribadah kepada Allah. Tuhan membuka hatinya, sehingga ia
memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus. Sesudah ia dibaptis
bersama-sama dengan seisi rumahnya, ia mengajak kami, katanya: "Jika
kamu berpendapat, bahwa aku sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan,
marilah menumpang di rumahku." Ia mendesak sampai kami menerimanya."
(Kis 16:14-15). Perempuan pada umumnya lebih memiliki kepekaan untuk
mendengarkan daripada laki-laki, demikian juga dalam kegiatan
lingkungan seperti doa bersama pada umumnya lebih banyak kaum
perempuan atau ibu yang hadir daripada laki-laki atau bapak. Dalam
kutipan di atas ini dikisahkan bahwa seorang bernama Lidia membuka
hatinya kepada Tuhan, 'sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan
oleh Paulus'. Membuka hati serta memperhatikan apa yang dikatakan
orang lain itulah kiranya yang harus kita lakukan masa kini, dengan
kata lain marilah saling mendengarkan satu sama lain dalam dan dengan
keterbukaan hati dan kerendahan hati. Sebagai umat beriman kiranya
kita juga dapat meneladan Lidia yang membuka rumahnya bagi orang lain,
dengan kata lain sebagai warga masyarakat hendaknya sungguh
berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, tidak mengurung diri di
rumah, apalagi pintu gerbang rumah ditutup rapat serta dijaga anjing
yang galak. Keterbukaan rumah bagi orang lain akan sangat membantu
dalam pendidikan dan pembinaan anak-anak, sebagaimana saya alami bahwa
orangtua saya senantiasa membuka diri atas kedatangan orang lain,
termasuk anak-anak sebaya teman saya, sehingga mendorong saya untuk
menjadi imam, hidup bagi orang lain. Dengan kata lain kami berharap
agar anak-anak dididik dan dibina dalam hal kepekaan social, peka akan
kehidupan orang lain di lingkungan hidupnya.
"Haleluya! Nyanyikanlah bagi TUHAN nyanyian baru! Pujilah Dia dalam
jemaah orang-orang saleh. Biarlah Israel bersukacita atas Yang
menjadikannya, biarlah bani Sion bersorak-sorak atas raja mereka!
Biarlah mereka memuji-muji nama-Nya dengan tari-tarian, biarlah mereka
bermazmur kepada-Nya dengan rebana dan kecapi! Sebab TUHAN berkenan
kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan
keselamatan" (Mzm 149:1-4)
Ign 6 Mei 2013